trending

Kepala BGN Akui Prihatin dan Drop Atas Kasus Keracunan Massal MBG Awal September, Diduga Akibat Tak Taat SOP

Penulis Rangga Bijak Aditya
Sep 04, 2026
Kepala BGN, Sudaryono (tengah) beserta jajaran menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta pada Kamis (03/09/26). (Foto: bgn.go.id)
Kepala BGN, Sudaryono (tengah) beserta jajaran menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta pada Kamis (03/09/26). (Foto: bgn.go.id)

ThePhrase.id - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono mengungkapkan bahwa pihaknya merasa terpukul atas munculnya kasus dugaan keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di sejumlah daerah pada awal September 2026.

Ditemui usai mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta pada Kamis (3/9), Sudaryono mengatakan BGN tengah berada dalam proses pembenahan menyeluruh dalam pelaksanaan program tersebut.

“BGN ini kan adalah lembaga baru, dipimpin oleh pemimpin yang sebelumnya. Kemudian tindakan mohon maaf koruptifnya ini, kan kemudian nular. Nah, kami ini sedang coba beres-beres, bersih-bersih, dengan manpower (SDM) yang ada, dan so far berjalan dengan baik,” ujar Sudaryono kepada awak media.

Menurut Sudaryono, proses pembenahan tersebut telah berlangsung sekitar satu bulan. Namun, munculnya kembali kasus keracunan MBG menjadi pukulan bagi BGN.

“Tapi kemudian, di atas itu semua, tiba-tiba ada keracunan makanan, itu kemudian kami aduh, cukup sangat prihatin dan drop, ya,” imbuhnya.

Ia menyebut kasus keracunan ini menjadi tantangan besar bagi BGN untuk memastikan program MBG berjalan sesuai standar keamanan pangan.

Kasus Keracunan Disebabkan Ketidakpatuhan Terhadap SOP

Berdasarkan evaluasi internal, Sudaryono mengatakan mayoritas kasus keracunan diduga berkaitan dengan ketidakpatuhan terhadap standard operating procedure (SOP).

“Kami tadi udah jelaskan juga di dalam, dari kasus keracunan yang ada itu kalau kita breakdown, itu 80-90 persen karena tidak taat SOP,” katanya.

Ketidakpatuhan tersebut mencakup penyimpanan makanan, penerimaan barang, pengaturan suhu, hingga batas waktu konsumsi.

“Ini tentu saja kami sangat-sangat terpukul sebetulnya, tapi kami tidak boleh menyerah. Insyaallah ini kita perbaiki semua tata kelolanya, aturannya, flow penataan keuangannya, dan lain sebagainya,” tegas Sudaryono.

Hampir 2.000 Penerima MBG Alami Keracunan

Dilansir BBC Indonesia, kasus dugaan keracunan MBG dilaporkan terjadi beruntun di sejumlah daerah pada awal September 2026.

Di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, sebanyak 730 santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikam dilaporkan mengalami dugaan keracunan setelah mengonsumsi paket MBG. Sejumlah sekolah di daerah tersebut juga melaporkan hal serupa.

Kasus dugaan keracunan MBG juga terjadi di Agam, Sumatra Barat. Lebih dari 300 siswa jenjang SD, SMP, hingga SMA, termasuk guru dilaporkan terdampak 

Selain itu, sebanyak 777 siswa dan guru SMAN 1 Lasem, Rembang, Jawa Tengah dilaporkan mengalami mual, muntah, hingga diare setelah menyantap menu MBG pada Rabu (2/9).

Adapun di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, sebanyak 152 orang dari dua sekolah yakni SMPN 1 dan SMPN 2 Makale perlu mendapat perawatan setelah mengonsumsi MBG di hari yang sama. (Rangga)

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic