
ThePhrase.id – Kecepatan informasi dan tuntutan hidup yang tiada henti membuat kita seolah harus terus bekerja, terus produktif, dan selalu mengejar pencapaian baru. Di tengah budaya “harus sukses” yang semakin kuat, muncul istilah hustle culture yang menggambarkan gaya hidup ketika seseorang merasa harus bekerja keras tanpa henti demi mencapai kesuksesan.
Hustle culture sendiri merupakan gaya hidup yang menganggap kesibukan, kerja keras, dan produktivitas sebagai ukuran kesuksesan seseorang. Dalam kondisi ini, bekerja lebih lama sering dianggap lebih baik, bahkan ketika seseorang sudah merasa lelah dan membutuhkan istirahat.
Tanpa disadari, gaya hidup ini dapat berkembang ketika seseorang terlalu sering membandingkan dirinya dengan pencapaian orang lain. Melihat kesuksesan orang lain di media sosial, misalnya, dapat memunculkan rasa tidak aman atau takut tertinggal sehingga seseorang terdorong untuk terus bekerja.
Dorongan tersebut juga dapat muncul dari keinginan mendapatkan status sosial yang lebih tinggi, memenuhi tuntutan hidup, hingga sifat perfeksionis. Akibatnya, waktu untuk beristirahat, bersosialisasi, dan memperhatikan kebutuhan diri sendiri justru semakin berkurang.
Seseorang yang terjebak dalam hustle culture biasanya menganggap bahwa menjadi produktif berarti harus terus bekerja. Ketika beristirahat, ia bahkan dapat merasa bersalah karena menganggap waktunya terbuang percuma.
Melansir alodokter.com, beberapa ciri hustle culture yang perlu diperhatikan antara lain:
Dalam beberapa kasus, hustle culture juga dapat disertai keluhan fisik seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, tubuh terasa lemas, hingga sulit tidur.
Meski kerja keras bukanlah hal salah, namun jika pekerjaan membuatmu mengabaikan waktu tidur hingga istirahat, di situlah masalah kesehatan dapat muncul.
Kebiasaan bekerja secara berlebihan dapat membuat tubuh dan pikiran tidak memiliki cukup waktu untuk memulihkan diri. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat meningkatkan stres dan membuat seseorang lebih rentan mengalami kelelahan fisik maupun mental.
Jam kerja yang terlalu panjang juga dikaitkan dengan risiko kesehatan yang lebih serius. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan International Labour Organization (ILO) menemukan bahwa bekerja 55 jam atau lebih dalam seminggu dapat meningkatkan risiko penyakit jantung iskemik dan stroke.
Tak hanya itu, hustle culture juga dapat mengganggu kehidupan sosial dan keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi. Ketika seseorang hampir tidak memiliki waktu untuk keluarga, teman, hobi, atau sekadar beristirahat, kualitas hidup pun dapat menurun.
Mengenali bahwa tubuh membutuhkan istirahat bukan berarti malas atau tidak produktif. Istirahat justru menjadi bagian penting agar seseorang dapat menjalani aktivitas dengan lebih sehat.
Jika mulai merasa kelelahan, cobalah berhenti sejenak dan berikan tubuh waktu untuk memulihkan diri. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menghindari hustle culture, yaitu:
Produktif dan sukses tidak harus membuatmu mengorbankan kehidupan pribadi hingga kesehatan mental dan fisik. Ingat, beristirahat bukan berarti berhenti berusaha. Mengenali batas kemampuan diri dan memberi tubuh waktu untuk pulih juga merupakan bagian dari mencintai diri sendiri. [fa]