lifestyle

Kerja Sampai Lupa Waktu? Bisa Jadi Kamu Terjebak Hustle Culture

Penulis Firda Ayu
Sep 06, 2026
Ilustrasi Hustle Culture (Foto: magnific.com/jcomp)
Ilustrasi Hustle Culture (Foto: magnific.com/jcomp)

ThePhrase.id – Kecepatan informasi dan tuntutan hidup yang tiada henti membuat kita seolah harus terus bekerja, terus produktif, dan selalu mengejar pencapaian baru. Di tengah budaya “harus sukses” yang semakin kuat, muncul istilah hustle culture yang menggambarkan gaya hidup ketika seseorang merasa harus bekerja keras tanpa henti demi mencapai kesuksesan.

Hustle culture sendiri merupakan gaya hidup yang menganggap kesibukan, kerja keras, dan produktivitas sebagai ukuran kesuksesan seseorang. Dalam kondisi ini, bekerja lebih lama sering dianggap lebih baik, bahkan ketika seseorang sudah merasa lelah dan membutuhkan istirahat.

Tanpa disadari, gaya hidup ini dapat berkembang ketika seseorang terlalu sering membandingkan dirinya dengan pencapaian orang lain. Melihat kesuksesan orang lain di media sosial, misalnya, dapat memunculkan rasa tidak aman atau takut tertinggal sehingga seseorang terdorong untuk terus bekerja.

Dorongan tersebut juga dapat muncul dari keinginan mendapatkan status sosial yang lebih tinggi, memenuhi tuntutan hidup, hingga sifat perfeksionis. Akibatnya, waktu untuk beristirahat, bersosialisasi, dan memperhatikan kebutuhan diri sendiri justru semakin berkurang.

Mengenali Hustle Culture

Seseorang yang terjebak dalam hustle culture biasanya menganggap bahwa menjadi produktif berarti harus terus bekerja. Ketika beristirahat, ia bahkan dapat merasa bersalah karena menganggap waktunya terbuang percuma.

Melansir alodokter.com, beberapa ciri hustle culture yang perlu diperhatikan antara lain:  

  • Selalu memikirkan pekerjaan, bahkan di luar jam kerja.
  • Mengorbankan waktu tidur demi menyelesaikan pekerjaan.
  • Mengabaikan saran orang lain  untuk istirahat dan mengurangi pekerjaan  
  • Terobsesi dengan pencapaian dan kesuksesan dalam pekerjaan.
  • Takut mengalami kegagalan atau tertinggal dalam dunia kerja.
  • Bekerja untuk mengatasi depresi atau stres
  • Memiliki batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan yang tidak jelas.
  • Jarang merasa puas dengan pencapaian yang sudah diraih.
  • Sering membandingkan diri dengan kesuksesan orang lain.
  • Mengabaikan makan, tidur, olahraga, atau kebutuhan pribadi karena pekerjaan.
  • Tetap bekerja meski tubuh sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan.
  • Tidak memiliki waktu untuk memikirkan kebahagiaan pribadi

Dalam beberapa kasus, hustle culture juga dapat disertai keluhan fisik seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, tubuh terasa lemas, hingga sulit tidur.

Meski kerja keras bukanlah hal salah, namun jika pekerjaan membuatmu mengabaikan waktu tidur hingga istirahat, di situlah masalah kesehatan dapat muncul.

Kebiasaan bekerja secara berlebihan dapat membuat tubuh dan pikiran tidak memiliki cukup waktu untuk memulihkan diri. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat meningkatkan stres dan membuat seseorang lebih rentan mengalami kelelahan fisik maupun mental.

Jam kerja yang terlalu panjang juga dikaitkan dengan risiko kesehatan yang lebih serius. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan International Labour Organization (ILO) menemukan bahwa bekerja 55 jam atau lebih dalam seminggu dapat meningkatkan risiko penyakit jantung iskemik dan stroke.

Tak hanya itu, hustle culture juga dapat mengganggu kehidupan sosial dan keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi. Ketika seseorang hampir tidak memiliki waktu untuk keluarga, teman, hobi, atau sekadar beristirahat, kualitas hidup pun dapat menurun.

Tips Keluar dari Hustle Culture

Mengenali bahwa tubuh membutuhkan istirahat bukan berarti malas atau tidak produktif. Istirahat justru menjadi bagian penting agar seseorang dapat menjalani aktivitas dengan lebih sehat.

Jika mulai merasa kelelahan, cobalah berhenti sejenak dan berikan tubuh waktu untuk memulihkan diri. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menghindari hustle culture, yaitu:

  • Tetapkan batas waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
  • Buat daftar pekerjaan berdasarkan prioritas.
  • Masukkan waktu istirahat ke dalam jadwal harian.
  • Tetapkan target yang realistis sesuai kemampuan.
  • Hindari membandingkan pencapaian diri dengan orang lain.
  • Kurangi kebiasaan memeriksa pekerjaan di luar jam kerja.
  • Luangkan waktu untuk tidur, makan, berolahraga, hingga sekadar quality time bersama keluarga dan teman.
  • Jika beban pekerjaan terasa berlebihan, komunikasikan dengan atasan atau manajer.

Produktif dan sukses tidak harus membuatmu mengorbankan kehidupan pribadi hingga kesehatan mental dan fisik. Ingat, beristirahat bukan berarti berhenti berusaha. Mengenali batas kemampuan diri dan memberi tubuh waktu untuk pulih juga merupakan bagian dari mencintai diri sendiri. [fa]

Tags Terkait

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic