
ThePhrase.id - Fenomena gambar dan video aneh para pesepak bola kini semakin mudah ditemukan di media sosial. Dalam hitungan detik, warganet bisa melihat bintang lapangan ditempatkan di situasi yang tak pernah benar-benar terjadi.
Di TikTok, misalnya, beredar konten yang menampilkan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo saling memangkas rambut atau mengenakan busana era Edwardian di atas Titanic. Ada pula visual yang memperlihatkan Kylian Mbappe berada di ski-lift bersama seekor kura-kura.
BBC mengulas, ledakan konten semacam itu merupakan imbas dari perkembangan kecerdasan buatan yang melaju sangat cepat. Istilah yang kerap dipakai untuk menggambarkannya adalah AI "slop", yakni konten buatan AI yang diproduksi massal tanpa kontrol ketat.
Teknologi ini memungkinkan siapa pun meminta sistem menghasilkan hampir semua skenario. Perangkatnya semakin canggih dan makin mudah diakses publik.
Dampaknya, membedakan mana yang asli dan mana yang deepfake menjadi kian sulit. Bagi sebagian orang, konten tersebut mungkin sekadar hiburan ringan.
Akan tetapi, di balik kesan lucu, muncul pertanyaan tentang batas yang perlu ditegaskan. Apakah pemain dan klub akan mengambil langkah tegas ketika dampaknya mulai terasa?

Dalam era sepak bola modern yang sarat nilai komersial, perlindungan merek menjadi prioritas. Klub menjaga lambang dan identitasnya, sementara pemain melindungi nama serta citra personal.
Contohnya adalah gelandang Chelsea, Cole Palmer, yang mendaftarkan istilah "Cold Palmer" ke Kantor Kekayaan Intelektual Inggris. Ia juga mematenkan nama, tanda tangan, dan selebrasi khasnya.
Meski demikian, membangun perlindungan hukum tidak otomatis menyelesaikan persoalan di ranah AI. Di Inggris, regulasi terkait kemiripan wajah atau image rights masih terbatas.
Konten AI kini bukan hanya menempatkan pemain dalam adegan fantasi, tetapi juga dalam konteks yang tampak realistis. Pada Januari 2026, beredar gambar buatan AI yang memperlihatkan Antoine Semenyo dan Marc Guehi menandatangani kontrak bersama manajer Pep Guardiola sebelum sesi foto resmi dilakukan.
Padahal, foto resmi Manchester City hanya menampilkan kedua pemain bersama direktur sepak bola Hugo Viana. Meski tidak pernah terjadi, gambar AI tersebut tampak begitu meyakinkan.
Kasus lain muncul ketika foto pelatih Manchester United, Michael Carrick, beredar bersama seorang suporter bernama Frank Ilett. Gambar itu terlihat nyata, meski pertemuan tersebut tidak pernah berlangsung.
Bagi klub, jalur perlindungan bisa ditempuh melalui hak merek dagang atau desain seragam. Jika logo atau elemen identitas digunakan tanpa izin, langkah hukum dapat dipertimbangkan. (Rangga)