trendingHealth

Ketika Olahraga Berlebihan Justru Mengancam Nyawa, Mengenal Risiko Rhabdomyolysis

Penulis Nadira Sekar
Nov 06, 2026
Foto: Ilustrasi Lari (magnific.com photo by standret)
Foto: Ilustrasi Lari (magnific.com photo by standret)

ThePhrase.id - Olahraga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, mulai dari menjaga kebugaran hingga mengurangi risiko berbagai penyakit. Namun, aktivitas fisik yang terlalu berat tanpa persiapan dan pemulihan yang cukup justru dapat membahayakan tubuh. Salah satu kondisi serius yang perlu diwaspadai adalah rhabdomyolysis, yaitu kerusakan jaringan otot yang dapat berdampak fatal.

Risiko ini menjadi perhatian setelah Rachel Apa, pelari berusia 24 tahun, meninggal dunia usai kolaps saat mengikuti New York City Marathon pada Minggu (1/11). Ia dilaporkan terjatuh sekitar 3,2 kilometer sebelum garis finis dalam perlombaan maraton pertamanya.

Dikutip dari ABC News, Rachel merupakan mantan atlet hoki lapangan Bucknell University yang telah menjalani latihan selama berbulan-bulan. Ayahnya, Steve Apa, mengatakan putrinya tidak memiliki riwayat masalah kesehatan. Ia juga menyebut rhabdomyolysis sebagai penyebab kematian Rachel, meski kantor pemeriksa medis New York masih melakukan penyelidikan.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kondisi fisik yang prima dan persiapan latihan tidak sepenuhnya menghilangkan risiko kesehatan, terutama saat seseorang melakukan aktivitas fisik ekstrem.

Mengenal Rhabdomyolysis dan Dampaknya bagi Tubuh

Melansir CNN Health, rhabdomyolysis merupakan kondisi ketika jaringan otot mengalami kerusakan dan melepaskan protein serta elektrolit ke dalam aliran darah. Salah satu zat yang dilepaskan adalah mioglobin, yang dalam jumlah berlebihan dapat mengganggu fungsi ginjal saat menyaring darah.

Mengutip Alodokter, kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari cedera, infeksi, efek samping obat-obatan, paparan panas ekstrem, hingga olahraga berlebihan. Jika tidak segera ditangani, rhabdomyolysis dapat menyebabkan gagal ginjal akut, gangguan irama jantung, kejang, bahkan kematian.

Salah satu faktor yang dapat memperbesar risiko tersebut adalah suhu panas, terutama ketika disertai dehidrasi. Dalam laporan CNN Health, ahli nefrologi Mount Sinai, Douglas Farrell, menjelaskan bahwa otot menghasilkan panas dalam jumlah besar saat berolahraga. Karena itu, tubuh harus bekerja untuk menjaga suhu tetap terkendali.

"Saat berlari, otot menghasilkan banyak panas. Tugas utama tubuh adalah membuang panas tersebut," jelas Farrell.

Ketika Olahraga Berlebihan Justru Mengancam Nyawa  Mengenal Risiko Rhabdomyolysis
Foto: Infografis Rhabdomyolysis (dok. ThePhrase.id/Nadira)

Hubungan antara suhu panas dan rhabdomyolysis juga terlihat dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Nephron. Penelitian tersebut menemukan 24 kasus rhabdomyolysis setelah New York City Marathon 2022. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan total 15 kasus yang tercatat dalam lima penyelenggaraan lainnya sepanjang 2017–2023.

Maraton 2022 sendiri tercatat sebagai penyelenggaraan terpanas sejak perlombaan dipindahkan ke November pada 1986, dengan indeks panas mencapai 24,5 derajat Celsius.

Selain suhu panas dan dehidrasi, berolahraga saat sedang sakit, kondisi genetik tertentu, serta konsumsi alkohol dan obat-obatan juga dapat meningkatkan risiko rhabdomyolysis.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Mengutip Alodokter, gejala utama rhabdomyolysis meliputi nyeri otot, kelemahan otot, serta perubahan warna urine menjadi kemerahan atau kecokelatan. Penderitanya juga dapat mengalami kelelahan, demam, mual, dan muntah.

Gejala tersebut terkadang sulit dibedakan dari kelelahan atau nyeri otot biasa setelah berolahraga. Namun, nyeri yang tidak biasa, kelemahan otot ekstrem, dan urine berwarna gelap setelah aktivitas fisik berat perlu diwaspadai.

Jika mengalami gejala tersebut, seseorang perlu segera mencari pertolongan medis. Diagnosis rhabdomyolysis dapat dilakukan melalui pemeriksaan darah dan urine. Penanganannya umumnya melibatkan pemberian cairan infus untuk membantu ginjal membuang mioglobin. Pada kasus yang lebih berat, pasien mungkin memerlukan cuci darah.

Tips Berolahraga untuk Mengurangi Risiko

Meski dapat menimbulkan komplikasi serius, rhabdomyolysis bukan alasan untuk menghindari olahraga. Risiko kondisi ini dapat dikurangi dengan memperhatikan intensitas latihan dan kebutuhan tubuh selama beraktivitas.

Pertama, tingkatkan intensitas olahraga secara bertahap, terutama bagi pemula atau mereka yang kembali berlatih setelah lama tidak aktif. Hindari memaksakan tubuh melakukan latihan berat sebelum terbiasa dengan beban aktivitas tersebut. Kedua, pastikan kebutuhan cairan terpenuhi sebelum, selama, dan setelah berolahraga. Sebisa mungkin, hindari latihan berat di luar ruangan ketika suhu sedang tinggi.

Ketiga, jangan memaksakan diri untuk tetap berolahraga ketika sedang sakit. Tubuh juga membutuhkan waktu istirahat dan pemulihan, terutama setelah menjalani latihan dengan intensitas tinggi.

Terakhir, berhati-hati dalam menggunakan obat pereda nyeri. Penelitian yang diterbitkan dalam JAMA Network Open pada 2024 menemukan bahwa penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) dan dehidrasi berkaitan dengan peningkatan risiko cedera ginjal akut pada pasien dengan exertional rhabdomyolysis.

Pada akhirnya, olahraga bukan sekadar tentang mencapai target atau mendorong batas kemampuan tubuh. Memahami kondisi fisik, memberikan waktu untuk pemulihan, dan mengenali tanda-tanda bahaya sama pentingnya dengan menjaga konsistensi latihan. Dengan begitu, manfaat olahraga dapat diperoleh tanpa mengabaikan keselamatan. [nadira]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic