
ThePhrase.id - Perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah cara berbagai industri beroperasi. Teknologi ini kini menjadi pendorong utama pengambilan keputusan, peningkatan efisiensi, hingga optimalisasi proses bisnis di berbagai sektor strategis, termasuk industri energi.
Di balik berbagai manfaat tersebut, pertumbuhan AI juga menghadirkan tantangan baru. Semakin luas pemanfaatan AI dan semakin banyak pusat data (data center) yang dibangun, semakin besar pula kebutuhan listrik untuk menopang infrastruktur digital tersebut.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan penting. Bagaimana transformasi digital dapat terus berkembang tanpa meningkatkan ketergantungan pada energi fosil dan memperbesar jejak karbon?
Oleh karena itu, pengembangan energi bersih perlu berjalan seiring dengan pertumbuhan AI. Energi terbarukan menjadi elemen penting untuk memenuhi kebutuhan energi sektor digital yang terus meningkat sekaligus menjaga komitmen global terhadap target penurunan emisi dan transisi energi.
Pertamina menjadi salah satu perusahaan yang mengintegrasikan kedua agenda tersebut. Selain mempercepat transformasi digital melalui pemanfaatan AI dan teknologi berbasis data, perusahaan juga terus memperkuat program dekarbonisasi dan pengembangan bisnis rendah karbon guna mendukung transisi energi nasional.
Senior Vice President Pertamina Digital Hub, Ignatius Sigit Pratopo, menjelaskan bahwa transformasi digital telah menjadi bagian integral dari seluruh rantai nilai energi Pertamina, mulai dari sektor hulu hingga hilir, termasuk dalam pengembangan energi baru dan terbarukan.
“Transformasi digital kami berjalan di seluruh rantai nilai energi, mulai dari upstream, midstream, hingga downstream untuk oil & gas, serta energi baru dan terbarukan,” ujar Sigit saat menerima kunjungan benchmarking PT Medco E&P Indonesia di Pertamina Digital Hub, Grha Pertamina, Rabu (3/6).
Melalui Pertamina Digital Hub, perusahaan mengembangkan berbagai inisiatif digital untuk meningkatkan efektivitas operasional sekaligus menciptakan nilai bisnis baru. Pemanfaatan AI diwujudkan melalui sejumlah program seperti Digital Factory, Remote Surveillance, dan Tech Orchestration Center yang memungkinkan proses bisnis berjalan lebih cepat, terintegrasi, dan berbasis data.

Menurut Sigit, pendekatan Pertamina terhadap AI juga terus berkembang. Jika pada tahap awal implementasinya AI lebih banyak digunakan sebagai sarana eksplorasi teknologi, kini fokus perusahaan bergeser pada penciptaan nilai bisnis yang nyata dan terukur.
“Dulu Pertamina juga menjadi bagian dari perusahaan yang terjebak dalam hype eksperimen AI. Inisiatifnya sporadis dan orang-orang senang memiliki program AI, tetapi nilai yang diciptakan belum benar-benar tertangkap,” ungkap Sigit dalam sesi AI in Upstream, the End-to-End Journey from Experimentation to Value pada IPA Convex ke-50, Mei lalu.
Ia menambahkan bahwa saat ini penerapan AI di Pertamina diarahkan untuk menjawab kebutuhan bisnis secara konkret, mulai dari peningkatan efisiensi operasional, optimalisasi pengambilan keputusan, hingga penciptaan nilai di seluruh rantai bisnis energi.
Di saat yang sama, Pertamina juga terus memperluas pengembangan energi bersih dan menjalankan berbagai program dekarbonisasi. Upaya tersebut dilakukan melalui pemanfaatan energi panas bumi, pengembangan biofuel, pengurangan emisi metana, hingga penerapan teknologi Carbon Capture and Storage/Carbon Capture Utilization and Storage (CCS/CCUS).
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, hubungan antara AI dan transisi energi menjadi semakin erat. AI memungkinkan industri beroperasi dengan lebih cerdas, efisien, dan rendah emisi. Di sisi lain, energi bersih menjadi fondasi yang memastikan kemajuan teknologi tersebut tidak dibayar dengan meningkatnya dampak lingkungan.
Pada akhirnya, masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang berhasil diciptakan, tetapi juga oleh bagaimana teknologi tersebut ditopang oleh sumber energi yang berkelanjutan. Ketika AI dan energi bersih berjalan beriringan, transformasi digital tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka jalan menuju masa depan yang lebih hijau. [nadira]