sportF1

Kisah Ajaib Kimi Antonelli di Monza: Start Baris Belakang, Taklukkan Goerge Russell hingga Jadi Raja F1 Italia

Penulis Rangga Bijak Aditya
Sep 07, 2026
Pembalap Mercedes, Kimi Antonelli, memenangkan F1 Italia. (Foto: Instagram Kimi Antonelli)
Pembalap Mercedes, Kimi Antonelli, memenangkan F1 Italia. (Foto: Instagram Kimi Antonelli)

ThePhrase.id - Kimi Antonelli menciptakan salah satu kisah paling berkesan dalam sejarah Formula 1 setelah meraih kemenangan dramatis pada Grand Prix Italia 2026 di Sirkuit Monza, Minggu, 6 September 2026, meski harus memulai balapan dari posisi ke-19 akibat penalti penggunaan mesin yang melebihi batas musim ini.

Kemenangan tersebut bahkan sudah diprediksi bos Mercedes, Toto Wolff, sehari sebelum balapan, ketika dua pembalapnya memiliki titik awal yang sangat berbeda, dengan George Russell menempati baris terdepan sementara Antonelli harus mengawali lomba dari baris belakang.

"Saya pikir salah satu dari mereka akan menang, entah George karena dia berada di baris terdepan, atau Kimi karena dia akan berjalan di atas air di sini, di Monza, dan saya juga sudah merasakan hal itu sejak kemarin," tegas Wolff dilansir BBC.

Wolff mengaku melihat sesuatu yang berbeda dari Antonelli sepanjang akhir pekan, terutama dari energi, pola pikir, dan sikap pembalap muda asal Italia tersebut yang menurutnya sejak awal sudah menunjukkan tekad untuk memenangkan balapan di hadapan pendukung tuan rumah.

"Sudah cukup lama saya melihat para pembalap, mulai dari tingkat energi, pola pikir, hingga pola perilaku, dan saya tahu bahwa itulah misinya hari ini, yaitu memenangkan balapan," bebernya.

"Saya juga berbicara dengan ayahnya kemarin dan ayahnya pun melihat hal yang sama, karena pada momen seperti inilah Anda bisa melihat bagaimana sebuah akhir pekan berkembang melalui setiap sesi hingga akhirnya momen spesial dapat terjadi," lanjut Wolf.

Antonelli membuktikan perkiraan tersebut melalui penampilan agresif sejak awal lomba, setelah sempat berada di posisi ke-14 pada lap pertama.

Naik ke urutan ke-12 pada akhir lap kedua ketika Charles Leclerc mengalami kecelakaan yang membuat balapan dihentikan sementara, lalu langsung melesat ke posisi kedelapan satu lap setelah restart.

"Dengan bendera merah, saya sudah berada di P12, kemudian saya tahu bahwa saya memiliki kesempatan," kata Antonelli.

Pergerakan Antonelli terus berlanjut ketika ia melewati Lando Norris untuk menempati posisi ketujuh, sementara Russell yang memulai dari baris terdepan lebih dahulu mengambil alih posisi terdepan dari Pierre Gasly.

Akan tetapi, kecepatan Antonelli membuat Russell segera menyadari bahwa rekan setimnya akan menjadi ancaman serius dalam perebutan kemenangan.

"Dari sudut pandang penonton netral, ini merupakan balapan yang hebat, tetapi begitu saya melihat Kimi sudah berada di P5 setelah beberapa lap, saya tahu dia akan ikut dalam pertarungan bersama kami, beberapa lap pembukanya benar-benar sangat mengesankan," ucap Russell.

Kisah Ajaib Kimi Antonelli di Monza  Start Baris Belakang  Taklukkan Goerge Russell hingga Jadi Raja F1 Italia
Pembalap Mercedes, Kimi Antonelli, start dari posisi ke-19 sebelum menjadi juara F1 Italia. (Foto: Instagram Kimi Antonelli)

Mercedes harus menentukan strategi ketika Virtual Safety Car diterapkan setelah Lance Stroll mengalami masalah pada Aston Martin-nya, dengan Antonelli masuk pit untuk mengganti ban karena kompon medium yang digunakannya sejak restart diperkirakan tidak mampu bertahan hingga finis, sedangkan Russell tetap berada di lintasan dengan ban hard.

"Memisahkan strategi merupakan keputusan yang tepat karena kami tidak tahu strategi mana yang akan lebih baik, dalam pertemuan pagi kami mengatakan bahwa ban hard akan bertahan sangat lama, Anda bisa memulainya dan menyelesaikan balapan dengan ban tersebut," imbuh Wolff.

"Dan kita bisa melihat dari George bahwa ban itu memang bertahan sangat lama, pada saat itu sistem menunjukkan strategi satu kali pit stop berada di depan, sementara strategi dua kali pit stop mulai mendekat menjelang akhir tetapi tidak berhasil mengejarnya, itulah yang dikatakan perangkat lunak," ujar Wolff.

Antonelli yang kembali ke lintasan dengan jarak 14,3 detik dari Russell dan masih menyisakan 24 lap tidak membiarkan perhitungan strategi menjadi penghalang, secara bertahap memangkas jarak hingga akhirnya mendekati Russell ketika balapan memasuki lima lap terakhir.

Pertarungan kedua pembalap Mercedes sempat diwarnai kesalahan ketika Antonelli melebar di Tikungan 1 setelah Russell menutup ruang serang dari sisi dalam, membuat pembalap Italia itu kehilangan cengkeraman dan sempat masuk ke gravel sehingga jaraknya kembali melebar menjadi 1,7 detik.

Akan tetapi, hanya satu setengah lap ia berhasil melewati Russell di lintasan lurus antara tikungan Lesmo 2 dan Ascari untuk mengambil alih posisi pertama.

Sorakan penonton tuan rumah langsung pecah ketika Antonelli melintasi garis finis sebagai pemenang, sekaligus mengakhiri penantian selama 60 tahun sejak pembalap Italia terakhir kali memenangi balapan Formula 1 di kandang.

"Ini adalah sesuatu yang akan saya ingat selamanya, para penggemar benar-benar memberikan dorongan ekstra untuk terus berjuang, dukungan mereka luar biasa sepanjang akhir pekan ini, dan melihat tribun bersorak di setiap lap memberikan sedikit tambahan tenaga untuk terus mendorong diri dan berusaha melakukan yang lebih baik demi meraih kemenangan," tutur Antonelli.

Wolff menyebut kemenangan tersebut sebagai penutup sempurna dari perjalanan Antonelli di Monza, dua tahun setelah pembalap muda itu mengalami kecelakaan dalam sesi latihan bebas pada kesempatan debutnya di Formula 1 di sirkuit yang sama, sebuah insiden yang menurut Wolff menjadi salah satu periode paling berat dalam karier Antonelli dan keluarganya karena membuat banyak pihak, termasuk dirinya sendiri, meragukan kemampuannya.

"Ini adalah bagaimana lingkarannya tertutup, dua tahun lalu merupakan momen paling sulit dalam kariernya, untuk dirinya sendiri dan keluarganya, ketika semua orang meragukannya, termasuk dirinya sendiri, dan dua tahun kemudian dia mendapatkan kejayaan terbesar serta momen terbesar dalam kariernya sejauh ini, yang mungkin akan menjadi salah satu momen terbesar dalam kariernya," tutup Wolff. (Rangga)

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic