sportPiala Dunia 2026

Kisah di Balik Foto Lionel Messi Memandikan Bayi Lamine Yamal, Takdir Mempertemukan di Final Piala Dunia 2026

Penulis Ahmad Haidir
Jul 17, 2026
Lionel Messi pernah memandikan Lamine Yamal. Foto Instagram Barcelona.
Lionel Messi pernah memandikan Lamine Yamal. Foto Instagram Barcelona.

Thephrase.id - Pertemuan Timnas Argentina dan Timnas Spanyol pada final Piala Dunia, Minggu mendatang, akan menghadirkan duel bersejarah karena Lionel Messi dan Lamine Yamal untuk pertama kalinya saling berhadapan di lapangan setelah memiliki kisah yang telah terjalin sejak hampir dua dekade lalu.

Lionel Messi yang kini berusia 39 tahun dan Lamine Yamal yang baru menginjak 19 tahun menjadi simbol dua generasi berbeda, dengan perjalanan karier yang sama-sama membawa mereka mengenakan seragam Barcelona sebelum akhirnya bertemu di laga paling bergengsi dalam sepak bola internasional.

Jauh sebelum berada di panggung final Piala Dunia, keduanya pernah dipertemukan pada 2007 ketika Messi yang saat itu baru berusia 20 tahun menjadi pemain utama Barcelona, sementara Lamine Yamal masih berusia lima bulan dalam sebuah sesi pemotretan yang digelar di Camp Nou.

Momen tersebut diabadikan fotografer Joan Monfort dan kembali menjadi perhatian publik pada 2024 setelah ayah Lamine Yamal mengunggah salah satu fotonya ke media sosial dengan keterangan, "The beginning of two legends."

"Ini benar-benar keajaiban takdir. Ini seperti serendipity, ketika Anda menemukan sesuatu yang jauh lebih istimewa daripada yang pernah dibayangkan. Jika cerita ini dijadikan film, rasanya tidak akan terlihat masuk akal," ujar Joan Monfort dilansir BBC.

Pemotretan itu berlangsung di ruang ganti tim tamu Camp Nou setelah keluarga Yamal memenangkan undian yang diselenggarakan surat kabar Sport bersama UNICEF dan sponsor kostum Barcelona, yang memberikan kesempatan kepada sejumlah keluarga untuk memotret bayi mereka bersama pemain tim utama Blaugrana.

Keluarga Yamal, yang terdiri atas ayahnya Mounir Nasraoui asal Maroko dan ibunya Sheila Ebana asal Guinea Khatulistiwa, dipasangkan secara acak dengan Messi pada hari pelaksanaan acara setelah sebelumnya mengikuti undian tidak lama seusai kelahiran putra pertama mereka.

"Saya sama sekali tidak tahu bayi dalam foto itu adalah Lamine sampai seorang teman menelepon saya pada 2024 dan memberi tahu bahwa ayahnya mengunggah foto tersebut ke Instagram. Messi adalah pribadi yang sangat pendiam dan pemalu, lalu tiba-tiba harus berfoto dengan seorang bayi sehingga ekspresinya terlihat seperti tidak tahu harus berbuat apa," ucap Monfort.

"Namun, Lamine adalah bayi yang ceria dan mudah tersenyum, sementara ibunya, Sheila, banyak membantu selama sesi berlangsung. Mereka keluarga yang hidup sederhana, tetapi sangat menyenangkan diajak bekerja sama, dan Messi tetap profesional serta cepat beradaptasi dengan situasi itu," lanjutnya.

Perjalanan karier keduanya kemudian berkembang sangat berbeda karena saat berusia 19 tahun Messi baru mengoleksi 11 gol bersama satu gelar La Liga dan satu trofi Liga Champions, sedangkan Yamal telah mencetak 56 gol, meraih tiga gelar La Liga, satu Copa del Rey, serta membawa Timnas Spanyol menjuarai Euro 2024.

Nama lengkap pemain muda Barcelona itu adalah Lamine Yamal Naraoui Ebana, dengan "Lamine" dan "Yamal" diambil sebagai bentuk penghormatan kepada dua sahabat ayahnya yang disebut membantu kondisi keuangan keluarga saat dirinya lahir.

Sementara ia tumbuh di kawasan Rocafonda, Mataro, dan beberapa kali merayakan gol dengan gestur angka 3-0-4 yang merujuk pada kode pos daerah tempat ia dibesarkan.

"Apa yang telah dilakukan ibu saya dan apa yang telah dilakukan ayah saya, saya rasa saya tidak akan mampu melakukannya untuk siapa pun selain anak saya sendiri," tutur Yamal dilansir El Pais.

"Jika tidak memiliki uang, sangat sulit membantu anak bermain sepak bola. Namun, orang tua saya berhasil mewujudkan semua itu, dan saya tidak akan pernah bisa membalas pengorbanan mereka," sambungnya.

Monfort menilai pertemuan Lionel Messi dan Yamal di final Piala Dunia menjadi penutup yang sempurna bagi kisah yang dimulai pada 2007, meski sebagai pendukung Barcelona ia mengaku sulit memilih siapa yang layak keluar sebagai juara dalam pertandingan bersejarah tersebut.

"Saya rasa kami sedang menutup siklus kisah mereka dan ini menjadi akhir yang indah. Sebagai pendukung Barcelona, saya merasa akan sempurna jika Messi mengakhiri kariernya dengan memenangkan Piala Dunia untuk kedua kalinya karena ia pantas mendapatkannya, tetapi Lamine masih memiliki banyak waktu untuk meraih trofi seperti Piala Dunia," katanya.

"Meski begitu, Spanyol dan Lamine sedang berada dalam momen yang sangat baik, dan jika ia memenangkannya sekarang, nilainya akan lebih besar daripada gelar-gelar lain yang pernah diraihnya. Sangat sulit bagi saya karena hati saya seolah terbelah menjadi dua," tandasnya.

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic