religion

Kisah Pedagang Roti dan Amalan Istighfar

Penulis Zuhri Ibrahim
Oct 15, 2026
Ilustrasi pedagang roti. (Gambar: Unplash)
Ilustrasi pedagang roti. (Gambar: Unplash)

ThePhrase.id - Ada beberapa kalimat dalam kehidupan sehari-hari sering didengar bahkan sering diucapkan dalam kondisi tertentu dalam pergaulan kita di masyarakat. Misalnya, subhanallah (maha suci Allah), astaghfirullah (sy mohon ampun kepada Allah), alhamdulillah (segala puji hanya bagi Allah), masyaa Allah (sungguh, semua ini kehendak Allah), dan lain-lain.

Bisa jadi kita mengetahui artinya secara harfiah, namun apakah kita mengetahui faedah atau keutamaan dari kalimat yang diucapkan tersebut? 

Dalam artikel ini, salah satu kalimat yang menjadi pembahasan adalah sebuah kalimat pendek tetapi mempunyai efek yang sangat dahsyat yaitu kalimat Istighfar dan kisah seorang penjual roti.

Seorang Imam Mazhab yang terkenal bernama Ahmad bin Muhammad bin Hanbal asy-Syaibani yang lebih dikenal sebagai Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Ahmad radhiyallahu ‘anhu). Ia adalah seorang ahli fiqh dan pakar dalam bidang hadits dan juga salah satu murid dari Imam Syafi’i radhiyallahu ‘anhu. 

Di masa tuanya Imam Ahmad bin Hanbal menceritakan bahwa entah kenapa tiba-tiba ia ingin sekali pergi ke suatu kota yang ada di Irak. Tidak ada keperluan dan tidak ada janji dengan seorang pun dan di umur yang sudah tua ia ingin sekali ke kota Bashra. Padahal jarak tempat tinggalnya di Baghdad ke Bashra sekitar 550an Km. Karena keinginan yang begitu kuat, akhirnya Imam Ahmad berangkat seorang diri ke kota Bashra dengan berjalan kaki. Dapat dibayangkan bagaimana beratnya perjalanan saat itu.

Perjalanan dilakukan selama berhari-hari, kemudian akhirnya Imam Ahmad pun sampai di tujuan yakni di Kota Bashra. Saat ia tiba kebetulan waktunya bertepatan shalat Isya dan ia pun ikut shalat Isya di sebuah mesjid. Setelah selesai melaksanakan shalat berjamaah dan suasana mesjid sudah terlihat lengang, Imam Ahmad pun bermaksud untuk istirahat dan tidur karena sangat kelelahan setelah menempuh perjalanan berhari-hari. 

Namun apa yg terjadi? Tiba-tiba penjaga mesjid (marbot) datang menghampiri Imam Ahmad dan bertanya: kenapa syaikh, mau apa disini? Perlu diketahui bahwa kata “syaikh” dalam Bahasa Arab biasanya dipakai dalam tiga panggilan untuk seseorang yaitu: orang tua, orang kaya dan orang berilmu. Panggilan syaikh yang dimaksudkan oleh marbot dalam kisah ini adalah sebagai orang tua, karena Imam Ahmad kelihatan sebagai orang yang sudah tua. 

Imam Ahmad menjawab penjaga mesjid tersebut bahwa ia adalah musafir dan ingin istirahat. Penjaga mesjid tidak membolehkan Imam Ahmad untuk tidur di mesjid, karena ada aturan siapa pun tidak boleh tidur di dalam mesjid. Si penjaga mesjid ini tidak tahu kalau yang dihadapinya adalah Imam Ahmad dan Imam Ahmad pun tidak memberi tahu siapa dirinya. Padahal nama Imam Ahmad adalah nama yang sangat dikenal luas diseantero penjuru jazirah Arab apalagi di Negeri Irak tempat kelahirannya.

Karena saat itu belum ada sosial media seperti saat ini, sehingga orang tidak tahu secara fisik dan wajah Imam Ahmad, namun jika nama Imam Ahmad disebut maka tak ada satupun orang Irak yang tidak tahu bahwasanya ia adalah seorang ulama besar ahli hadits dan ahli fiqh. 

Imam Ahmad menceritakan bahwa marbot itu menyuruhnya keluar kemudian mengunci pintu mesjid. Lalu Imam Ahmad pun mencoba untuk tidur di teras mesjid, dan saat sudah berbaring, marbot itu datang lagi lalu memarahi Imam Ahmad:

“Di dalam mesjid tidak boleh di teras mesjid juga tidak boleh” kata marbot tersebut, Bahkan marbot itu sampai mendorong tubuh tua Imam Ahmad sampai keluar di pinggiran jalan. 

Saat Imam Ahmad sampai di jalanan setelah diusir oleh penjaga mesjid, terlihatlah oleh seorang tukang roti yang sedang membuat adonan yang rumahnya tidak jauh dari mesjid tadi. Tukang roti itu memanggil “Mari syaikh, anda boleh tidur di rumah saya, saya ada kamar meskipun kecil” ujar tukang roti. “Baik, terima kasih”, jawab Imam Ahmad sambil masuk ke rumah si tukang roti, rumah yang begitu sederhana. 

Kemudian Imam Ahmad duduk tidak jauh dari posisi tukang roti yang sedang sibuk membuat adonan, sambil memperhatikan perilaku yang tidak biasa dari tukang roti tersebut. Kala Imam Ahmad mengajaknya bicara tukang roti itu hanya menjawab seadanya saja, dan kalau tidak diajak bicara dia hanya diam dan terus membuat adonan roti sambil melafalkan istighfar (Astaghfirullah). 

  • Saat menaburkan garam “Astaghfirullah”
  • Disaat memecahkan telur “Astaghfirullah” 
  • Menuangkan gula “Astaghfirullah”
  • Mencampurkan gandum “Astaghfirullah”, begitu seterusnya.

Imam Ahmad memperhatikan terus kelakuan tukang roti tadi. Lalu Imam Ahmad penasaran dan bertanya "sudah berapa lama kamu lakukan ini?". Orang itu menjawab "sudah lama sekali ya syaikh, saya sudah menjual roti selama 30 tahun, dan semenjak itu saya amalkan terus membaca istighfar sampai saat ini". Imam Ahmad lalu bertanya: "apa hasil dari amalan kamu ini?", orang itu menjawab: (lantaran wasilah istighfar) tidak ada hajat yang saya minta kecuali dikabulkan oleh Allah. semua yang saya minta ya Allah...., langsung diterima". Lalu orang itu melanjutkan: semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih ada satu  hal yang belum Allah kabulkan.

Imam Ahmad tambah kagum dan penasaran kemudian bertanya lagi: “apa itu?”. Kata sang tukang roti "Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad, ulama yang dicintai di seluruh negeri". 

Mendengar jawaban si tukang roti tadi, seketika itu juga Imam Ahmad bertakbir, "Allahu Akbar, ternyata ini sebabnya Allah menggerakkan hati saya menempuh perjalanan jauh bahkan berjalan kaki dari Baghdad ke Bashra dan bahkan sampai diusir dan didorong-dorong oleh marbot mesjid sampai ke jalanan karena istighfarmu".

Penjual roti terperanjat memuji Allah, Alhamdulillah, Masya Allah, Tuan Imam Ahmad. Kata penjual roti tersebut setelah mengetahui ternyata yang di hadapannya adalah Imam Ahmad orang yang selama ini ingin ditemuinya dan selalu ia dipanjatkan dalam doa-doanya.

Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Bahwa memperbanyak istighfar merupakan salah satu kunci pembuka pintu rezki:

 

مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجً وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Artinya: “Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rezki dari arah yang tidak disangka-sangka” (HR. Ahmad)

 

Kisah ini memberi inspirasi kepada kita, bahwa bisa jadi hanya secara kebetulan dalam kisah ini dialami oleh seorang tukang roti, tapi untuk mengamalkannya bisa kepada siapapun untuk senantiasa melafalkan kata-kata atau kalimat-kalimat yang baik (seperti istighfar, subhanallah, dan lain sebagainya), karena perkataan atau kalimat yang baik itu, yakinlah bahwasanya tidak akan sia-sia, berdampak secara langsung kepada yang bersangkutan, terlebih mempunyai keutamaan disisi Allah ta’ala. 

Sebagai manusia, makhluk yang tak luput dari salah dan dosa, makhluk yang menggantungkan segala urusan kepada sang Maha Pencipta, dengan rutin melafalkan kalimat istighfar (mohon ampunan kepada Allah), maka atas izin-Nya, Allah akan memberi berbagai manfaat sebagaimana firmanNya dalam QS. Nuh: 10-12:

 

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًا ۙ ۝١٠ يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًا ۙ ۝١١ وَّيُمْدِدْكُمْ بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ جَنّٰتٍ وَّيَجْعَلْ لَّكُمْ اَنْهٰرًا ۗ ۝١٢

Artinya: Maka aku berkata (kepada mereka), "Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu."

 

Artinya bahwa siapa saja yang senantiasa memohon ampun kepada Allah, dengan ber-istighfar maka akan dilimpahkan atasnya berkah dan kesejahteraan. (Z. Ibrahim)
 

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic