
ThePhrase.id - Komisaris kembali menjadi topik perbincangan publik setelah dua anak muda menduduki jabatan komisaris di dua BUMN strategis. Dua anak muda itu adalah Ginka Febriyanti Ginting (27 tahun) yang ditunjuk sebagai Komisaris PT Pertamina Retail dan Mufli Budi Ananda yang mendapat posisi Komisaris di PT. Krakatau Posco.
Sorotan terhadap keduanya bukan hanya pada usia yang masih belia tetapi juga pada kapasitas, kapabilitas serta rekam jejak yang dinilai tidak relevan dengan core bisnis BUMN yang bersangkutan. Ginka Ginting misalnya hanya tercatat sebagai koordinator BISON, barisan relawan pendukung Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024 lalu. Sekarang, jabatan komisaris mengharuskannya untuk mengawasi dan memberi nasehat kepada jajaran direksi PT Pertamina Retail, anak perusahaan PT. Pertamina Patra Niaga yang berfokus pada pengelolaan ritel produk energi Pertamina.
Sementara Mufli Budi Ananda alumnus Politeknik Bunda Kandung yang selama ini dikenal sebagai asisten artis Raffi Ahmad harus menjalani fungsi sebagai komisaris di PT. Krakatau Posco, sebuah perusahaan patungan PT Krakatau Steel dengan perusahaan Korea yang bergerak di pabrik baja terpadu dengan teknologi blast furnace.
Di perbincangan media sosial, identitas Mufli sebagai asisten Raffi Ahamad lebih dominan dibandingkan rekam jejak professional yang berkaitan dengan industri baja, manufaktur, investasi, maupun tata kelola perusahaan.
Pengangkatan kedua orang ini membuktikan kembali isu tentang bagi-bagi jabatan komisaris untuk para pendukung dan relawan yang tidak mempertimbangkan kompetensi professional. Sehingga jabatan strategis di pemerintahan terkesan tidak memerlukan rekam jejak, kapasitas dan kapabilitas tetapi ditentukan oleh kedekatan politik, jaringan kekuasaan, atau relasi personal.
Apakah pola ini akan menjadi kebiasaan dan budaya kita dalam mengelola lembaga-lembaga negara? Sebab, di level kepemimpinan tertinggi pun Pendidikan, rekam jejak, kapasitas dan kapabilitas terkesan menjadi tidak penting.
Mudah-mudahan tidak. Sebab, tidak ada negara kuat dan sejahtera yang dikelola oleh pemimpin asal-asalan yang tidak memilki kapasitas, kapabilitas dan rekam jejak yang panjang. (Aswandi AS)