
Thephrase.id - Asosiasi Sepak Bola Inggris atau FA menyoroti tekanan besar yang kini dihadapi pemain akibat kalender pertandingan yang semakin padat. Situasi ini dinilai dapat mengganggu performa Timnas Inggris sekaligus mengikis nilai kompetisi domestik seperti FA Cup.
Lonjakan beban pertandingan tersebut tidak lepas dari bertambahnya agenda besar di level internasional, termasuk rencana penyelenggaraan Piala Dunia Antarklub serta perubahan format Liga Champions yang membuat pemain top harus tampil lebih sering dalam satu musim.
Upaya untuk mengurangi kepadatan sebenarnya sempat dilakukan lewat penghapusan laga ulangan di turnamen piala domestik, namun FA menilai langkah tersebut belum cukup untuk mengimbangi laju ekspansi kompetisi global yang terus berkembang.
Dalam laporan tahunan musim 2024-2025 yang baru dirilis, dilansir dari BBC, FA menggambarkan kondisi ini sebagai tantangan yang semakin kompleks. Berbagai pihak penyelenggara kompetisi berlomba memperbesar skala turnamen mereka di tengah kalender yang sudah penuh.
FA menilai dorongan untuk menambah jumlah pertandingan membuat waktu jeda pemain semakin tergerus, sehingga ruang untuk pemulihan fisik maupun mental menjadi semakin terbatas.
"Diskusi mengenai perubahan struktur kompetisi ke depan, termasuk hadirnya turnamen baru, semakin memperbesar tantangan yang ada," tulis FA dalam laporannya.
"Perubahan ini berpotensi mengurangi waktu istirahat pemain elite secara signifikan dan berdampak pada kondisi fisik serta kesejahteraan mereka," sambungnya.
FA juga menggarisbawahi bahwa maraknya kompetisi lintas negara berisiko menurunkan daya tarik ajang tradisional seperti Piala FA. Hal ini sekaligus memengaruhi performa Timnas Inggris karena pemain datang dalam kondisi lelah dan waktu persiapan menjadi semakin singkat.
Organisasi pemain dunia, FIFPRO, sebelumnya bahkan menggambarkan kondisi ini sebagai situasi yang tidak manusiawi karena pemain harus menghadapi perjalanan panjang dengan waktu pemulihan yang minim dalam ritme sepak bola modern.
Berbeda dengan Premier League yang kerap mengkritik FIFA terkait perubahan kalender. FA justru berada di posisi yang memungkinkan mereka terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan di tingkat internasional.

Dengan status tersebut, FA menegaskan komitmennya untuk terus mendorong kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan kompetisi dan perlindungan terhadap pemain.
Selain persoalan jadwal, FA juga menaruh perhatian serius pada isu kesehatan otak pemain yang berkaitan dengan sundulan bola, merujuk pada studi "Field" pada 2019 yang menunjukkan bahwa pesepak bola memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan neurodegeneratif dibanding masyarakat umum.
Sebagai respons, aturan pembatasan sundulan untuk kelompok usia dini mulai diterapkan secara bertahap, sementara penelitian lanjutan terus dilakukan untuk memahami risiko yang hingga kini masih belum sepenuhnya terjawab.
Di sisi lain, ancaman di luar lapangan juga menjadi perhatian, termasuk potensi serangan siber terhadap sistem organisasi yang dinilai bisa berdampak besar terhadap keuangan, aspek hukum, hingga reputasi jika data terganggu atau kompetisi terhambat.
Laporan tersebut juga mencatat sejumlah capaian positif seperti keberhasilan Timnas Wanita Inggris dan tim U-21 menjuarai kompetisi Eropa pada 2025, peningkatan investasi untuk sepak bola akar rumput.
Selain itu, juga pengembangan teknologi seperti penggunaan kamera tubuh wasit yang mendapat persetujuan International Football Association Board.
Meski FA tetap mencatat penurunan laba operasional dan masih adanya tantangan berupa perilaku diskriminatif yang menghambat terciptanya lingkungan sepak bola yang inklusif.