communityKompetisi Cerita Anak Negeri

Komunitas Seangle: Bergerak dari Laut untuk Bumi dengan SAPA-Laut

Penulis Redaksi
Feb 26, 2026
Peresmian Pulau Tirang (Foto: Arsip Komunitas Seangle/Malva)
Peresmian Pulau Tirang (Foto: Arsip Komunitas Seangle/Malva)

Oleh Cantika Rizky Dwi Safitri - Universitas Diponegoro

Juara II - Kategori Mahasiswa (Artikel) Kompetisi Cerita Anak Negeri 2025

ThePhrase.id - Generasi Z kerap dilekatkan dengan stigma sebagai generasi yang sibuk dengan dunia digital. Namun, dunia digital justru membuka akses luas terhadap berbagai informasi, termasuk pengetahuan mengenai kondisi dan isu lingkungan saat ini. Salah satu permasalahan yang menonjol adalah meningkatnya limbah sampah. Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, sekitar 16,02 juta ton sampah masuk ke perairan Indonesia setiap tahun. 

Melansir thephrase.id, tingginya tingkat konsumsi manusia berbanding lurus dengan jumlah sampah yang dihasilkan, padahal tidak semua sampah berakhir di tempat pembuangan yang seharusnya. Sebagian sampah tersebut justru mencemari laut yang merupakan habitat berbagai biota, sehingga mengakibatkan pencemaran laut dan kerusakan ekosistem pesisir. Keberadaan sampah sebagai material asing yang sulit dihindari dapat mengancam kelangsungan hidup biota laut karena dapat menyebabkan luka serius hingga kematian. Kondisi ini menjadi bukti bahwa bumi membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak. 

Generasi Z memiliki posisi strategis dalam upaya menyelamatkan bumi didukung dengan kedekatannya terhadap informasi dan teknologi. Kesadaran inilah yang kemudian membawa saya untuk bertemu dan bergabung dengan sebuah komunitas bernama Seangle yang beranggotakan anak muda dari berbagai kalangan usia dan latar belakang namun dengan misi yang sama, keberlanjutan kehidupan laut. Melalui komunitas tersebut, saya memahami bahwa upaya menjaga bumi tidak hanya dapat dimulai dari lingkungan tempat tinggal, tetapi juga dari laut yang berperan penting dalam kehidupan. 

Dalam komunitas tersebut, saya pernah terlibat sebagai panitia sekaligus relawan dalam sebuah program kerja SAPA-Laut (Sinergi, Aksi, Peduli Alam Laut) yang bekerja sama dengan PT Paragon Corp dan pemerintah setempat. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kolaborasi nyata antara komunitas, generasi muda, sektor swasta, dan pemerintah dalam meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan laut. 

Komunitas Seangle  Bergerak dari Laut untuk Bumi dengan SAPA Laut
Aksi Relawan Paragonian dari PT Paragon Corp  (Foto: Arsip Komunitas Seangle/Malva) 

Kegiatan diawali dengan menyeberang ke pulau yang menjadi lokasi kegiatan SAPA-Laut menggunakan perahu. Sebagai panitia, saya mengisi waktu dengan menjelaskan pentingnya peran tanaman mangrove bagi ekosistem pesisir kepada relawan lainnya selama perjalanan. Hal tersebut membuat saya mencari tahu lebih jauh mengenai mangrove sebelum melaksanakan kegiatan, sehingga secara tidak langsung mendorong saya untuk belajar. Selanjutnya, kegiatan SAPA-Laut dilanjutkan dengan aksi menanam seribu mangrove serta membersihkan sampah di sekitar pantai. 

Penanaman mangrove dilakukan di wilayah pesisir yang seharusnya tidak tergenang air. Namun, pada kenyataannya lokasi tersebut sudah banyak yang tergenang air. Menurut penjelasan penjaga pantai yang mendampingi kami selama kegiatan, kondisi ini disebabkan oleh minimnya tanaman mangrove. 

Oleh karena itu, kami diarahkan untuk menananam mangrove di lokasi tersebut sebagai upaya pemulihan ekosistem. 

Selanjutnya, saat kegiatan bersih-bersih pantai, saya dihadapkan dengan kenyataan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Pantai yang tampak bersih dan tenang ternyata menyimpan banyak sampah di balik tumpukan pasir. Pemandangan tersebut menyadarkan saya bahwa data tentang jutaan ton sampah yang saya baca dan sempat saya ragukan menjadi masuk akal. Sampah yang kami bersihkan terkumpul dalam beberapa kantong sampah. Tidak bisa dibayangkan bagaimana kondisi laut dan wilayah lain yang lebih luas dan sulit dijangkau. 

Mengutip thephrase.id, kegiatan ini sejalan dengan komitmen Indonesia untuk mengurangi sampah plastik di laut hingga 70 persen pada tahun 2025. Pemerintah terus berupaya mewujudkan komitmen tersebut melalui berbagai langkah, antara lain pemulihan ekosistem mangrove serta pembangunan pembangkit listrik berbahan baku sampah. 

Kami juga melakukan upaya pengembangan kawasan kegiatan SAPA-Laut berlangsung, Pulau Tirang, sebuah pulau kosong yang biasa menjadi tempat memancing oleh masyarakat sekitar. Pengembangan dilakukan dengan menambahkan fasilitas umum, seperti MCK, gazebo, dan sumber air bersih. Kegiatan ini bertujuan agar pulau menjadi lebih hidup, dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar, dan berpotensi menjadi tempat wisata. 

Komunitas Seangle  Bergerak dari Laut untuk Bumi dengan SAPA Laut
Panitia dan Relawan SAPA-Laut (Foto: Arsip Komunitas Seangle/Malva) 

Selama kegiatan berlangsung, saya berinteraksi dengan para relawan yang sebagian besar berlatar belakang sebagai mahasiswa ilmu kelautan dan perikanan. Berbagai istilah mengenai jenis biota laut, ekosistem laut, dan fakta terumbu karang terdengar asing di telinga. Namun, saya menemukan ruang dan proses belajar dari interaksi tersebut. Laut bukan hanya tentang air birunya yang indah untuk berfoto atau hembusan angin yang nyaman untuk bersantai, tetapi tentang rumah bagi jutaan makhluk hidup dan penopang kehidupan yang sering tidak kita sadari. 

 Komunitas dan kegiatan ini mengajarkan saya bahwa setiap orang dapat memulai upaya menyelamatkan bumi dari mana saja terlepas dari latar belakang pendidikan atau bidang yang ditekuni karena hal yang paling utama adalah kesediaan untuk belajar dan terlibat. Bergabung dalam sebuah komunitas anak muda menjadi langkah sederhana untuk mendukung pelaksanaan upaya menyelamatkan bumi 

Selain itu, keterlibatan dalam sebuah komunitas anak muda dapat membuka kesempatan dalam memperluas relasi, pengetahuan, dan pengalaman. Bertemu dengan banyak orang dengan banyak latar belakang yang berbeda juga memberikan sudut pandang baru dan berpotensi melahirkan inovasi untuk menyelesaikan tantangan lingkungan yang dihadapi. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas tidak hanya dapat menjadi ruang aksi, namun juga ruang bagi anak muda untuk belajar dan berkembang bersama. 

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic