Konflik Rusia-Ukraina Memanas, Ini Dampaknya Bagi Indonesia

- Advertisement -spot_imgspot_img

ThePhrase.id – Konflik Rusia dan Ukraina memanas. Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Djatmiko Bris Witjaksono mengungkapkan bahwa konflik tersebut dapat membuat harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan, sehingga tentunya dapat mempengaruhi perdagangan Indonesia.

“Kalau berkembang menjadi konflik melibatkan negara dari berbagai kawasan, bisa saja ada dampaknya. Namun kalau hanya konflik di satu sampai dengan beberapa negara, lanjut Djatmiko, kemungkinan tidak akan berpengaruh besar,” kata Djatmiko.

Hal ini juga didukung oleh pernyataan Pengamat Ekonomi Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Dzulfian Syafrian. Ia mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara pengimpor minyak, oleh sebab itu, naiknya harga minyak dunia dapat mempengaruhi neraca perdagangan Indonesia.

Ilustrasi pasukan tentara Rusia yang dikerahkan di perbatasan antara negaranya dan Ukraina (Foto: sindonews)

“Secara langsung dampaknya akan minim karena kita tidak terlalu berdagang dengan mereka. Namun yang perlu diwaspadai adalah bagaimana konflik ini akan berdampak pada naiknya harga minyak dunia, karena RI banyak mengimpor minyak,” kata Dzulfian.

Menurut Dzulfian, potensi kenaikan harga minyak ini juga disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya besarnya negara-negara yang ikut bertarung dan juga dari posisi Rusia sebagai salah satu negara produsen utama minyak dunia, sehingga jika negara tersebut sedang berada dalam suatu permasalahan, maka harga minyak global pun akan terpengaruh.

“Terlebih konflik ini kan memang salah satu proxy pertarungan kekuatan-kekuatan besar dunia antara Blok Timur versus Blok Barat,” imbuh Dzulfian.

Deputi Pertama Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional Gita Gopinath memprediksi bahwa konflik antar Rusia-Ukraina dapat menimbulkan kenaikan bagi biaya energi.

Ilustrasi tentara Ukraina berjaga di perbatasan antara negaranya dan Rusia (Foto: Lukatsky/AP Photo/picture alliance)

“Kali ini, jika konflik ini terjadi, Anda akan melihat kenaikan harga energi. Harga komoditas lain yang diekspor oleh Rusia juga naik, dan dapat memicu peningkatan yang lebih besar dan luas dalam harga komoditas jika konflik meningkat,” ujar Gopinath.

Tak hanya berpengaruh terhadap kenaikan harga minyak dunia, biaya energi, dan neraca perdagangan di sejumlah negara termasuk Indonesia, posisi Ukraina sebagai salah satu negara pengekspor gandum dan jagung terbesar di dunia juga berpotensi menyebabkan adanya kenaikan harga pangan global jika Rusia mewujudkan invasinya ke negara tersebut.

Hal ini disebabkan oleh adanya gangguan dalam pengiriman 2 jenis komoditi bahan pangan tersebut, sehingga inflasi pangan pun dapat semakin memburuk, terutama pada negara-negara yang kerap bergantung pada pasokan bahan makanan dari Ukraina.

Ilustrasi ladang gandum di Ukraina

“Ukraina adalah pengekspor utama gandum dan jagung. Setiap gangguan pada ekspornya akan menyebabkan lonjakan harga global. Kombinasi harga pangan dan energi yang tinggi akan menonjolkan krisis biaya hidup dan meningkatkan potensi kerusuhan sipil di banyak tempat, terutama di Afrika dan Timur Tengah,” ungkap Ophelia Coutts, seorang analis Rusia di Verisk Maplecroft.

Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin telah mengumumkan bahwa pasukan tentara negaranya telah ditarik, dan pasukan yang telah menyelesaikan latihan akan diminta kembali ke pangkalan. Namun berdasarkan informasi yang ada, Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Lloyd Austin justru melihat hal sebaliknya.

“Meskipun Rusia telah mengumumkan memindahkan pasukannya kembali ke garrison, kami belum melihatnya. Faktanya, kami melihat lebih banyak pasukan bergerak ke wilayah itu, wilayah perbatasan itu,” ujar Austin, seperti yang dikutip dari AFP. [hc]

- Advertisement -spot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you