trending

Kritik Kunjungan Prabowo, Dino Patti “Diserang” Gerindra, Dibela Anies

Penulis M. Hafid
Jun 03, 2026
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Habiburokhman. Foto: Gerindra.id
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Habiburokhman. Foto: Gerindra.id

ThePhrase.id - Mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Dino Patti Djalal dikritik balik Gerindra soal kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri.

Dino semula mengkritik frekuensi kunjungan luar negeri Prabowo yang dianggap terlalu sering, bahkan dibanding pimpinan negara lain. Menurutnya, kunjungan ke luar negeri itu memakan biaya yang besar, seperti biaya penginapan, akomodasi hingga soal logistik.

Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Gerindra Habiburokhman "menyerang" balik Dino. Ia menilai kritikan yang disampaikan Dino tidak produktif dan justru bertendensi serangan politik yang membabi buta serta mengolok-olok pemerintahan Prabowo.

"Sebagai sesama anak bangsa, saya harus mengkritik balik Dino. Kritik beliau tidak produktif karena tidak berbasis info yang akurat, bahkan ada tendensi kritik beliau sebagai serangan politik yang membabi buta dan sekadar mengolok-olok pemerintahan Pak Prabowo," kata Habiburokhman kepada wartawan, Selasa (2/6).

Ketua Komisi III DPR itu juga menyebut usulan Dino agar Prabowo lebih banyak mengundang pimpinan negara lain ke Indonesia kurang tepat.

Menurutnya, Kepala Negara perlu aktif melakukan diplomasi secara langsung, khususnya di tengah situasi global yang tidak menentu seperti saat ini.

Bagi Habiburokhman, kunjungan Prabowo ke banyak negara bertujuan untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah global.

"Menurut kami, justru Presiden Prabowo harus sangat proaktif, baik menerima kunjungan maupun juga mengunjungi pemimpin negara lain," ujarnya.

Sebagai mantan Wamenlu, lanjutnya, Dino disebut tidak etis mengkritik kinerja politik luar negeri pemerintahan Prabowo. Pasalnya, kritik dari mantan pejabat dinilai akan menjadi bumerang.

"Sebagai mantan Wamenlu juga kurang etis jika Dino mengkritik kinerja politik luar negeri pemerintahan Prabowo," tuturnya.

"Di negara-negara maju, mantan pejabat membatasi diri untuk mengkritik kinerja para penerus atau penggantinya. Hal tersebut didasarkan pada sikap menghormati orang yang sedang bekerja. Kritik mantan pejabat kepada penerusnya bahkan bisa menjadi bumerang jika publik membanding kinerja si mantan dengan yang sedang menjabat," imbuhnya.

Dalam kesempatan lain, Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya juga menanggapi kritikan yang disampaikan Dino, termasuk menjawab soal jumlah rombongan hingga anggaran perjalanan.

Teddy menyampaikan bahwa tidak semua pembiayaan perjalanan dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), tapi Prabowo menanggung sendiri kelebihan bayar dari yang telah ditetapkan oleh negara.

"Jadi segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo," kata Teddy.

Teddy juga menjelaskan soal jumlah rombongan dalam kunjungan tersebut. Ia menegaskan bahwa jumlah delegasi pada masa pemerintahan Prabowo dipangkas secara signifikan dibanding pemerintahan sebelumnya.

"Kalau dulu itu sekali ke luar negeri bisa lebih dari 120 orang. Zaman Pak Dino seperti itu. Nah, zaman Presiden Prabowo jumlahnya antara 50 sampai 60 orang maksimal. Ini sudah banyak yang tahu, termasuk juga wartawan-wartawan pasti tahu itu semua," terangnya.

Namun dari semua pernyataannya, Teddy memberi sindiran kepada Dino yang menjabat sebagai Wamenlu RI yang hanya berjalan selama tiga bulan.

"Terima kasih atas masukan yang telah diberikan, sangat cermat dan terstruktur. Saya pikir beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri, walau hanya diberi kesempatan sekitar 3 bulan," ucapnya.

Anies Bela Dino

Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberikan pembelaan kepada Dino. Ia mengatakan Dino merupakan diplomat ulung yang sudah berkiprah sejak masih muda.

Anies menyebut Dino sebagai diplomat yang cerdas, artikulatif, hingga mampu menangani persoalan rumit dengan ketenangan diplomatik.

Menurut Anies, salah satu kiprahnya tercermin saat Dino duduk sebagai Duta Besar di Amerika Serikat dengan menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles.

"Saya termasuk yang ia undang. Ia lalu mendirikan FPCI, komunitas kebijakan luar negeri terbesar dan berpengaruh, yang ikut melahirkan generasi diplomat baru, ujung tombak panggung global," kata Anies dalam keterangannya.

Anies menilai Dino merupakan diplomat yang sangat menguasai substansi, rekam jejaknya teruji, dan bukan pejabat karbitan.

"Itulah Dino. Karier diplomatiknya panjang dan ajeg, kecintaannya pada politik luar negeri Indonesia begitu dalam. Dino Patti Djalal, bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat," tandasnya. (M Hafid)

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic