lifestyleBatik

Lestarikan Batik Gedog Lewat Udeng dan Songkok, Permintaan Meningkat Jelang Lebaran

Penulis Ashila Syifaa
Mar 16, 2026
Manaf Abdi selaku pemilik usaha kerajinan udeng saat tunjukkan hasil karyanya. (Foto: tubankab.go.id/nevlin)
Manaf Abdi selaku pemilik usaha kerajinan udeng saat tunjukkan hasil karyanya. (Foto: tubankab.go.id/nevlin)

ThePhrase.id - Pelestarian batik Tuban tidak hanya dilakukan melalui produksi kain. Salah satu pengrajin dari Desa Kapu, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, memiliki cara tersendiri untuk mempromosikan Batik Gedog khas Tuban, yakni dengan menciptakan berbagai kerajinan seperti udeng dan songkok berbahan batik.

Pengrajin itu adalah Manaf Abdi yang memiliki usaha kerajinan udeng bernama 'Adem Ayem'. Berdirinya usaha tersebut bertujuan untuk mempopulerkan kembali udeng sebagai warisan budaya terutama pada generasi muda. 

Ia memulai usahanya bersama sang istri pada tahun 2017 dengan mencoba memproduksi udeng bermotif batik tulis. Alasannya memilih batik cukup sederhana, karena batik khas Tuban sarat makna dan nilai sejarah serta memiliki nilai seni yang tinggi. Batik Gedog memiliki ciri khas garis-garis tenunnya yang unik dan penggunaan alat tenun tradisional dalam proses pembuatannya. 

Selama kurang lebih sembilan tahun, ia merupakan salah satu pengrajin yang bertahan. Usahanya untuk melestarikan batik khas Tuban melalui pembuatan udeng dan songkok tidak sia-sia. Setiap tahun, menjelang Lebaran atau Hari Raya Idulfitri, minat masyarakat terhadap songkok tersebut terus meningkat. “Alhamdulillah, pesanan semakin meningkat kalau dibandingkan dengan tahun-tahun kemarin,” ujar Manaf, melansir Tugu Jatim.

Menjelang Lebaran 2026, Manaf telah menerima pesanan songkok yang mencapai 60 hingga 70 kodi. Satu kodi berisi 20 buah songkok, artinya Manaf sudah memproduksi lebih dari seribu songkok untuk memenuhi permintaan pasar. 

Permintaan itu tak hanya datang dari pembeli lokal di Tuban, tetapi juga dari berbagai daerah di luar kota. Meski begitu, sebagian besar pembelian juga dilakukan oleh toko-toko yang sudah lama menjadi mitra penjualannya.

“Beberapa waktu lalu kami juga menerima pesanan songkok batik dari Brebes, Kudus, dan Yogyakarta. Produk kami pun bisa digunakan semua kalangan, mulai anak-anak hingga orang tua,” ungkapnya, melansir RRI.

Produksi songkok yang dibuat Manaf tidak hanya hadir dalam satu model. Ia menghadirkan berbagai variasi dengan ciri khas tersendiri, mulai dari songkok beludru hitam klasik, songkok batik, hingga model beludru profil yang memiliki detail tambahan di bagian pinggir.

Berbagai jenis songkok tersebut masih tergolong jarang diproduksi oleh pengrajin lain, terutama yang menggunakan bahan beludru profil, dan batik. Ia juga memproduksi songkok model Cheng Ho yang memadukan batik Tuban di bagian atas dengan kain hitam di sampingnya. 

Harga songkok yang ditawarkan cukup bervariasi, tergantung bahan dan tingkat kesulitan dalam pembuatan. Songkok beludru hitam ia jual mulai Rp30 ribu hingga Rp75 ribu. Sedangkan  songkok berbahan batik Gedog Tuban dibanderol mulai Rp75 ribu hingga Rp200 ribu.

Meningkatnya minat masyarakat terhadap kerajinan songkok tradisional ini tidak lepas dari tradisi mengenakan songkok saat salat Idulfitri maupun saat bersilaturahmi dengan keluarga, sehingga permintaannya selalu meningkat setiap tahun. [Syifaa]

Tags Terkait

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic