religion

Letusan Gunung Api dan Kisah Musnahnya Kaum Sodom karena Perbuatan Homo

Penulis Zuhri Ibrahim
Sep 09, 2026
Ilustrasi letusan gunung berapi. (Foto: Pixabay)
Ilustrasi letusan gunung berapi. (Foto: Pixabay)

ThePhrase.id - Kisah Nabi Luth AS dan kaum Sodom adalah cerita tentang sebuah kaum yang hancur karena menolak ajaran tauhid dan melakukan penyimpangan perilaku yang melampaui batas. Nabi Luth adalah keponakan Nabi Ibrahim diutus oleh Allah SWT untuk berdakwah kepada penduduk Kota Sodom (wilayah yang diyakini oleh para arkeolog berada di sekitar perbatasan Yordania dan Palestina dekat Laut Mati).

Dalam tradisi Islam dan Kristen, kisah kehancuran kaum Sodom menjadi salah satu peringatan paling keras dalam kitab suci. Mereka dihancurkan karena melakukan perbuatan yang dianggap sangat keji, yaitu mendatangi sesama jenis (homoseksualitas atau liwath) secara terang-terangan, di samping dosa-dosa lain seperti perampokan, kemungkaran, dan penolakan terhadap ajaran nabi sebagaimana yang tercatat dalam al-Qur’an surah al-Ankabut: 28.

“Ketika Luṭh berkata kepada kaumnya, "Mengapa kalian suka melakukan perbuatan yang sangat keji (homoseksual) yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari umat-umat sebelum kamu?”

Nabi Luth AS diutus ke kota Sodom (dan kota-kota sekitarnya seperti Gomorah) untuk mengajak kaumnya bertauhid dan meninggalkan perbuatan tersebut. Namun, kaumnya justru menolak, mengejek, dan bahkan mengancam akan mengusirnya. Mereka berkata, “Usirlah Luth dan keluarganya dari negerimu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura suci.” Ketika para malaikat datang dalam wujud pemuda tampan sebagai tamu Nabi Luth, penduduk Sodom justru berkerumun ingin “menggauli” para tamu itu, dan inilah puncak dari kemaksiatan mereka.

Penduduk Sodom mengusir Nabi Luth dan pengikutnya dari kota tersebut dan menantangnya agar dikirimkan azab oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada mereka. Tak lama setelah pengusiran Nabi Luth beserta keluarga dan pengikutnya, al-Qur`an menceritakan bahwa Allah menghujani penduduk Sodom dengan batu (QS. al-Ankabut: 29).

Kaum Sodom Diazab Oleh Allah SWT

Azab datang pada waktu subuh. Negeri mereka dijungkirbalikkan (yang atas menjadi bawah), disertai suara menggelegar yang sangat dahsyat, lalu dihujani dengan bebatuan dari tanah yang terbakar (sijjil) secara bertubi-tubi. Demikian diceritakan dalam QS. Hud ayat: 82:

 

فَلَمَّا جَآءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِّن سِجِّيلٍ مَّنضُودٍ

Artinya: “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,”

 

Hanya Nabi Luth AS beserta sebagian keluarganya yang beriman yang selamat. Istrinya sendiri termasuk yang binasa karena tidak beriman dan menoleh ke belakang saat azab tersebut turun. 

Pandangan Ulama Terhadap Letusan Gunung Api

Penulis Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menafsirkan peristiwa ini dengan analogi fenomena alam yang sangat dahsyat. Suara mengguntur dan menggelegar diibaratkan sebagai letusan gunung berapi, pembalikan negeri digambarkan sebagai gempa bumi dan longsor yang hebat, sedangkan hujan batu dari tanah yang terbakar dihubungkan dengan lahar, batu vulkanik, atau material piroklastik yang terlempar ke udara lalu jatuh ke bumi.

Prof Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, menjelaskan bahwa lapisan padat kerak bumi dapat mencapai ketebalan sekitar 60 kilometer. Lapisan itu dapat meninggi sehingga membentuk gunung-gunung atau menurun menjadi dasar lautan dan samudera.

Keadaan itu dinilai dapat menimbulkan keseimbangan akibat tekanan yang dihasilkan oleh gunung-gunung yang terpancang di bumi. Keseimbangan tersebut tidak mengalami kerusakan kecuali jika gunung-gunung itu musnah.

Menurut Prof Quraish, lapisan kerak bumi yang basah akan dikuatkan oleh gunung-gunung sebagaimana pasak yang menguatkan kemah.

Hikmah, Introspeksi dan Bertaubat

Setiap musibah pasti ada hikmahnya agar manusia intropeksi dan muhasabah. Tidak mungkin Allah menurunkan musibah agar manusia musnah dan agar manusia mengalami kesusahan saja. 

Allah Ta’ala berfirman dalam QS. An-Nahl: 61:

 

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ

Artinya: “Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melatapun.”

 

Perlu dicamkan dalam diri setiap Muslim bahwa setiap musibah adalah merupakan penghapus dosa-dosa manusia jika mereka bersabar.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ سَقَمٍ وَلاَ حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلاَّ كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ

Artinya: “Tidaklah seorang mukmin tertimpa suatu musibah berupa rasa sakit (yang tidak kunjung sembuh), rasa capek, rasa sakit, rasa sedih, dan kekhawatiran yang menerpa melainkan dosa-dosanya akan diampuni.” (HR. Muslim)

 

Kisah tentang hukuman atas kaum Nabi Luth (Kaum Sodom) tetap menjadi bagian penting dalam khazanah keagamaan, baik sebagai cerita sejarah maupun sebagai peringatan moral. Interpretasi ilmiah (gunung api, gempa bumi, kekeringan atau banjir bandang, dan lain-lain) hanyalah upaya manusia memahami bagaimana azab itu terjadi di alam, sementara dalam keyakinan agama, semuanya terjadi atas kehendak Allah SWT. (Z. Ibrahim)

Tags Terkait

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic