
ThePhrase.id - Erupsi Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026 kembali mengingatkan Indonesia pada kenyataan geologis yang kerap terlupakan: negeri ini berada di kawasan dengan aktivitas gunung api dan tektonik yang sangat tinggi.
Krakatau berada di Selat Sunda, di antara Jawa dan Sumatra, dan merupakan bagian dari busur gunung api Sunda yang terbentuk akibat proses subduksi lempeng tektonik. Sistem tersebut merupakan bagian dari jalur Ring of Fire yang mengitari Samudra Pasifik.
Sejarah Krakatau menunjukkan betapa besar ancamannya. Sebelum bencana 1883, kawasan ini telah mengalami keruntuhan tubuh gunung api purba yang membentuk kaldera sekitar tujuh kilometer. Namun, para ahli tidak menempatkan satu letusan Krakatau sebagai penyebab terpisahnya Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Bentuk dan posisi pulau-pulau tersebut merupakan hasil proses tektonik dan vulkanik yang berlangsung dalam rentang waktu geologis yang sangat panjang.
Pada 1883, Krakatau mengalami letusan dahsyat yang menghancurkan sebagian besar tubuh gunung. Runtuhnya kaldera kemudian memicu tsunami besar. Lebih dari 36.000 orang tewas, sebagian besar akibat tsunami yang menerjang pesisir Jawa dan Sumatra. Peristiwa tersebut menjadi salah satu bencana vulkanik paling mematikan dalam sejarah modern.
Anak Krakatau kemudian tumbuh di dalam kaldera hasil letusan 1883 dan mulai sering mengalami erupsi sejak 1927. Gunung api muda itu menjadi pengingat bahwa kehancuran Krakatau bukanlah akhir dari aktivitas vulkaniknya.
Pada September 2026, sejarah tersebut kembali bergaung. Aktivitas erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa ancaman gunung api di Indonesia bukan sekadar catatan masa lalu. Letusan dapat mengganggu penerbangan, pelayaran, perekonomian, hingga kehidupan masyarakat di wilayah yang jauh dari pusat erupsi.
Aktivitas beberapa gunung api dalam periode yang berdekatan juga patut menjadi pengingat tentang posisi Indonesia di jalur Ring of Fire. Namun, kedekatan waktu erupsi tidak berarti seluruh gunung tersebut dipicu oleh satu mekanisme yang sama.
Ring of Fire bukan sekadar istilah geografis. Bagi Indonesia, ia adalah kenyataan geologis yang menuntut kewaspadaan, literasi kebencanaan, dan kesiapsiagaan yang terus-menerus, bukan hanya ketika gunung kembali meletus. (Rangga)