
ThePhrase.id - Pernahkah Anda mendapatkan seseorang dengan gelar akademik berderet di belakang namanya, tanpa kita tahu kapan dia menjalani pendidikan untuk meraih gelar-gelar tersebut. Ada pula orang yang memiliki gelar akademik tertinggi sebagai profesor tetapi kita tahu sehari-harinya dia bukan seorang akademisi atau orang berkarir di dunia akademik. Ternyata, gelar akademik itu mudah didapatkan tanpa harus menjalani proses pendidikan, tapi cukup dengan mengeluarkan sejumlah uang membeli selembar dokumen bernama ijazah.
Lantas apa motivasi orang membeli ijazah untuk menyematkan gelar di belakang namanya?
Biasanya orang yang memutuskan untuk membeli ijazah bukan karena faktor tunggal tetapi didorong oleh kombinasi antara tekanan ekonomi, ambisi pribadi, dan tekanan keadaan.
Berikut adalah beberapa motivasi dan alasan seseorang memilih untuk membeli ijazah:
Pertama, Tuntutan Kerja dan Karir
Perusahaan atau instansi pemerintah kerap menetapkan syarat formal bahwa posisi manajerial tertentu atau eselon hanya bisa diisi oleh lulusan S1, S2, atau S3. Pegawai atau karyawan lama yang memiliki kompetensi tertentu namun tidak bisa meraih jabatan atau karier karena terbentur syarat administrasi. Maka, untuk memenuhi ketentuan itu, pegawai yang bersangkutan memilih jalan pintas untuk mendapatkan ijazah.
Seseorang membeli ijazah juga karena lowongan kerja yang banyak mensyaratkan jenjang pendidikan tertentu untuk bisa diterima. Para pelamar kerja yang tidak memenuhi syarat administrasi langsung gugur tanpa sempat menunjukkan kemampuan mereka. Maka, satu-satunya jalan adalah bagaimana mendapatkan ijazah itu dengan cepat dan instan.
Ijazah atau pendidikan juga sering menentukan perolehan gaji. Beberapa perusahaan atau instansi pemerintah menjadikan tingkat pendidikan formal untuk menentukan besaran gaji pokok atau tunjangan yang diterima karyawan. Kondisi ini memaksa seorang karyawan untuk mendapat ijazah agar dapat meraih upah yang telah ditentukan. Bagi yang rajin memilih untuk menempuh pendidikan, tetapi banyak yang memilih mendapatkan ijazah dengan cara cepat tanpa harus sekolah.
Kedua, Tekanan Sosial dan Harga Diri
Memiliki anggota keluarga yang memiliki gelar atau titel itu, merupakan kebanggaan bagi banyak keluarga. Gelar menjadi simbol kesuksesan dan belum dianggap sukses jika belum memiliki gelar. Ekspektasi Keluarga berlebihan terhadap seseorang agar memiliki gelar, menjadi pendorong orang untuk memilih jalan pintas mendapat ijazah, tanpa harus menjalani proses pendidikan.
Gelar juga menjadi simbol status sosial. Bagi sementara orang atau kelompok masyarakat tertentu, gelar akademik membawa prestise, rasa hormat, dan pengakuan sosial yang tinggi. Pada posisi ini seseorang akan berupaya mendapatkan gelar itu melalui jalan pintas.
Gelar juga menjadi “nilai” tambah bagi seseorang yang berdampak pada penghargaan keluarga lain dalam menentukan pasangan hidup putra-putrinya. “Nilai” ini dapat menjadi alasan orang untuk mendapatkan gelar akademik dengan cara instan, jika dia tidak mampu mendapatkan dengan cara normal.
Ketiga, Kegagalan Akademik di Masa Lalu
DO atau Drop Out dari kampus karena berbagai sebab seperti kehabisan masa studi (DO) atau karena hal lain, mendorong orang membeli ijazah palsu untuk menutupi kegagalan pendidkkan agar tidak mengecewakan orang tua.
Keempat, "Jalan Pintas" yang Instan.
Karena kuliah membutuhkan waktu bertahun-tahun, perlu energi yang besar, pikiran, dan biaya yang tidak sedikit, maka membeli ijazah dianggap sebagai "investasi" yang cepat dan murah.
Ada juga orang membeli ijazah bukan karena malas tetapi karena merasa sudah memiliki skill melalui otodidak. Kuliah formal dianggap sebagai formalitas buang-buang waktu. Mereka membeli ijazah hanya untuk melengkapi aspek legalitas saja. (Diolah dari berbagai sumber) (Aswan AS)