
ThePhrase.id - Mendengar ancaman MSCI (Morgan Stanley Capial International ) yang akan menurunkan rating index Indonesia, mengingatkan pada pengalaman Indonesia berurusan dengan International Monetary Fund (IMF) pada tahun 1998 lalu. Lembaga keuangan international ini memiliki tujuan yang sama yakni membuat Indonesia mengikuti kemauan negara-negara maju, yang di masa lalu adalah mereka negara-negara kolonialis. Tahun 1998 juga ada capital flight seperti tahun 2026 ini ketika warning MSCI mengancam Indonesia dari emerging market sebagai negara “standalone”.
Besarnya arus modal yang keluar pada tahun 1997, membuat Bank Indonesia mengikuti kebijakan sama dengan Bank of Thailand, yakni mengambangkan nilai mata uang. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pun mengikuti mekanisme pasar yang mengakibatkan Rupiah 'tunduk' terhadap dollar dan tidak lagi bernilai. Jika biasanya rupiah berada di kisaran Rp2.500 per US$, maka setelahnya menurun menjadi 9% menjadi Rp 4.000 per US$., sampai mencapai puncaknya pada awal 1998 sebesar Rp 17.000 per US$.
"Bursa saham Jakarta hancur. Hampir semua perusahaan modern di Indonesia bangkrut, tabungan kelas menengah lenyap, dan jutaan pekerja diberhentikan dari pekerjaan mereka," tulis Sejarawan M.C Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (2009).
Harga kebutuhan pokok meroket naik, yang membuat rakyat menjerit dan mendorong mereka turun ke jalan bergabung dengan mahasiswa. Media yang sebelumnya banyak yang menjadi “corong” pemerintah mulai berani menerangkan situasi kepada publik. Terjadilah krisis ekonomi yang bergerak menjadi krisis politik.
Presiden Soeharto terdesak karena seluruh paket ekonominya gagal. Beberapa pemimpin negara seperti Bill Clinton (AS), Helmut Kohl (Kanselir Jerman), dan Hasmimoto Ryutaro (PM Jepang), mendesak Soeharto agar segera mendaftarkan diri menjadi pasien International Monetary Fund (IMF). Soeharto menyerah dan bersedia menjadi pasien IMF.
Kamis, 15 Januari 1998 di Cendana, Direktur IMF, Michel Camdessus, membawa dokumen Letter of Intent (LOI) untuk ditandatangani Soeharto. Di hadapan awak media, Soeharto terlihat menunduk sembari membubuhkan tanda tangan di dokumen itu. Sementara Michel, berdiri sambil menyilangkan tangan dengan mata tertuju pada Soeharto, sebuah bahasa tubuh yang menunjukkan keangkuhan yang seakan memberi makna kalau Indonesia tak berdaya dan telah jatuh ke tangan IMF.
Michel juga adalah mantan veteran Angkatan Udara Francis, sebuah negara yang memproduksi pesawat ATR, yang kalah pamor dengan CN 235 buatan Indonesia pada Paris Airshow 1997. Maka salah satu isi LOI dengan IMF adalah menghentikan industri strategis seperti industri pesawat terbang di IPTN (sekarang PTDI), Bandung, Jawa Barat.
Beberapa tahun setelah perjanjian itu, ternyata ekonomi Indonesia makin terpuruk. Sebuah kondisi yang dialami semua negara yang mengambil paket bantuan IMF seperti Thailand. Sementara Malaysia yang menolak menjadi pasien IMF, justru lebih cepat bangkit dari krisis.
IMF melihat masalah Indonesia dari kacamata Barat yang sama sekali keliru. Dalam kasus subsidi BBM, misalnya, paket ekonomi IMF mengharuskan Indonesia mencabut subsidi. Indonesia setuju dan ikut sarannya. Namun, alih-alih terjadi perbaikan, pengurangan subsidi BBM justru telah menyebabkan kerusuhan sosial dan politik, sehingga tidak sejalan dengan semangat pemulihan ekonomi itu sendiri.
"IMF bukan menyelamatkan perbankan, tetapi mendorong ke arah kehancuran. Resep yang kurang pas ini mengakibatkan negara-negara yang menjadi pasien IMF ekonominya semakin parah," kata Agus Widarjono dalam "Evaluasi Kritis Kinerja IMF dalam Krisis Asia" (2003).
Sebagai negara kaya dan strategis, Indonesia menjadi incaran banyak negara “kolonial” yang ingin menguasainya dengan cara membuat Indonesia “tunduk” dan tidak mandiri. Bila dulu negara-negara itu masuk dengan kekuatan senjata dan militer untuk menguasai kekayaan alam kita, sekarang mereka masuk dengan bahasa investasi, pembangunan dan bantuan.
Dari sisi ini kita bisa memahami Presiden Prabowo memilih melawan ancaman MSCI. Mengikuti ancaman itu, sepeti menari di atas kendang orang lain. Kita hidup dengan standar yang mereka buat, padahal kita punya standar sendiri untuk menata hidup kita sendiri. (Aswandi AS)