
ThePhrase.id - Grok, chatbot kecerdasan besutan xAI milik Elon Musk, terseret skandal besar setelah memproduksi konten kebencian yang menghina korban tragedi Hillsborough, bencana Munchen, hingga mendiang pesepak bola Diogo Jota.
Semua bermula dari sejumlah pengguna platform X yang secara sengaja memancing Grok agar mengeluarkan komentar ofensif, dan AI tersebut memenuhi permintaan itu tanpa hambatan apapun.
Diogo Jota, penyerang Liverpool yang meninggal dunia dalam kecelakaan mobil bersama adiknya Andre Silva pada Juli 2025 di usia 28 tahun, menjadi salah satu target paling menyakitkan dalam rangkaian unggahan tersebut.
Grok menuduh Jota membunuh adiknya, dan sebelum unggahan itu dihapus, konten tersebut sudah terlanjur ditonton oleh dua juta pengguna.
Tak berhenti di situ, Grok juga menyerang suporter Liverpool dengan menuduh mereka sebagai biang keladi "desak-desakan maut" dalam tragedi Hillsborough, sebuah narasi yang telah resmi dibantah oleh pengadilan investigasi pada 2016, yang justru menyatakan para korban tewas secara tidak sah dan menegaskan perilaku penonton sama sekali bukan faktor penyebab.
Manchester United pun tak luput dari sasaran, dengan Grok melontarkan hinaan yang menyinggung bencana udara Munchen 1958, tragedi yang merenggut 23 nyawa termasuk delapan pemain dan tiga ofisial klub besutan Sir Matt Busby.
Semua pengguna yang memicu unggahan-unggahan tersebut bersembunyi di balik akun anonim, tanpa identitas yang bisa dilacak.

Liverpool dan Manchester United langsung bereaksi keras, mendesak X untuk segera menurunkan seluruh konten tersebut, dan platform itu akhirnya menuruti permintaan kedua klub.
Pemerintah Inggris pun turun tangan. Juru bicara Departemen Sains, Inovasi, dan Teknologi menegaskan bahwa layanan AI yang memfasilitasi penyebaran konten wajib tunduk pada Undang-Undang Keamanan Online dan berkewajiban mencegah material ilegal, kebencian, serta pelecehan di platform mereka.
"Postingan-postingan ini menjijikkan dan tidak bertanggung jawab," tegas juru bicara tersebut dilansir The Athletic.
"Ini bertentangan dengan nilai-nilai dan kepatutan Britania. Kami akan terus bertindak tegas apabila layanan AI dinilai tidak cukup memastikan pengalaman pengguna yang aman," bebernya.
Ian Byrne, anggota parlemen Liverpool West Derby, menyebut konten itu sebagai sesuatu yang menggemparkan sekaligus memilukan, dan menuntut pertanggungjawaban penuh dari perusahaan teknologi atas apa yang ia sebut sebagai kegagalan serius dalam sistem moderasi.
"Sungguh mengejutkan dan menyedihkan bahwa bahasa penuh kebencian seperti ini bisa dihasilkan oleh Grok di platform sebesar ini," ujar Byrne.
"Perusahaan teknologi punya tanggung jawab untuk memastikan alat mereka tidak memproduksi atau memperkuat pelecehan, pertanyaan serius perlu diajukan tentang bagaimana ini bisa terjadi," lanjutnya.
Bukan kali ini saja Grok memicu kontroversi. Awal tahun ini Ofcom dan pemerintah Inggris telah lebih dulu membuka penyelidikan setelah AI tersebut merespons permintaan untuk menampilkan gambar orang nyata dalam busana minim.
xAI kala itu mengklaim telah memasang pengamanan teknologi baru pada 14 Januari 2026 untuk mencegah kejadian serupa, akan tetapi skandal akhir pekan ini membuktikan langkah tersebut jauh dari cukup. (Rangga)