sport

Lobi Politik Dimulai, Maroko dan Spanyol Saling Sikut Demi Final Piala Dunia 2030

Penulis Rudi Priyana
Jul 23, 2026
Timnas Spanyol menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030. Foto Instagram Timnas Spanyol
Timnas Spanyol menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030. Foto Instagram Timnas Spanyol

ThePhrase.id - Perebutan status sebagai tuan rumah babak final Piala Dunia 2030 mulai menghangat ketika Maroko dan Spanyol sama-sama berupaya meyakinkan FIFA agar pertandingan puncak turnamen empat tahunan itu digelar di wilayah masing-masing meski hingga kini keputusan resmi belum diumumkan.

Piala Dunia 2030 akan diselenggarakan bersama oleh Maroko, Portugal, dan Spanyol, tetapi FIFA masih belum menentukan stadion yang akan dipercaya menjadi lokasi partai final sehingga persaingan di balik layar mulai menjadi perhatian berbagai pihak.

Spanyol sejak awal menyatakan keyakinannya untuk menjadi penyelenggara pertandingan final, sementara Maroko menyiapkan Stadion Hassan II yang sedang dibangun di luar Casablanca sebagai kandidat utama dengan kapasitas mencapai 115.000 penonton.

Apabila rampung sesuai jadwal pada akhir tahun depan, Stadion Hassan II diproyeksikan menjadi stadion sepak bola terbesar di dunia dan akan bersaing dengan dua kandidat dari Spanyol, yaitu Santiago Bernabeu di Madrid serta Camp Nou di Barcelona.

Santiago Bernabeu saat ini memiliki kapasitas sekitar 83.000 penonton setelah menyelesaikan proses renovasi besar pada akhir 2024. Sedangkan Camp Nou masih menjalani tahap renovasi yang ditargetkan meningkatkan kapasitas menjadi sekitar 105.000 penonton meski pengerjaannya dilaporkan mengalami keterlambatan.

Presiden Federasi Sepak Bola Spanyol, Rafael Louzan, menjadi salah satu tokoh yang lebih dahulu menyampaikan keyakinan bahwa negaranya layak menjadi tuan rumah pertandingan final Piala Dunia 2030.

"Spanyol memiliki kapasitas penyelenggaraan yang telah terbukti selama bertahun-tahun, sehingga Spanyollah yang akan memimpin penyelenggaraan Piala Dunia 2030 sekaligus menjadi tempat digelarnya final turnamen tersebut," tegasnya dilansir Reuters.

Louzan juga menyinggung penyelenggaraan Piala Afrika di Maroko sebagai salah satu alasan yang menurutnya memperkuat posisi Spanyol dalam perebutan hak menggelar laga puncak tersebut.

"Maroko memang sedang mengalami transformasi besar, tetapi beberapa kejadian dalam sejumlah pertandingan Piala Afrika bukan hanya merugikan turnamen itu sendiri, melainkan juga mencoreng citra sepak bola dunia," bebernya.

Pernyataan itu muncul setelah laga Timnas Senegal melawan Timnas Maroko pada Piala Afrika di Stadion Pangeran Moulay Abdallah, Rabat, diwarnai insiden kericuhan penonton, tindakan ball boy yang dianggap mengganggu jalannya pertandingan, serta aksi walk-off singkat yang terjadi pada Januari 2026.

Di sisi lain, Presiden Federasi Sepak Bola Maroko, Fouzi Lekjaa, memilih tidak menanggapi pernyataan tersebut secara langsung dan menegaskan bahwa penentuan lokasi pertandingan masih berada dalam proses pembahasan bersama FIFA dan dua negara tuan rumah lainnya.

"Sampai saat ini belum ada keputusan mengenai pembagian pertandingan. Seluruh keputusan tersebut diambil secara eksklusif melalui konsultasi antara tiga negara tuan rumah dan FIFA," ucapnya.

Sejumlah sumber di lingkungan sepak bola Afrika menyebut Maroko terus melakukan pendekatan di balik layar agar Casablanca dipilih sebagai lokasi final.

Apabila terwujud, hal ini akan menjadikan kota tersebut sebagai kota kedua di Afrika yang pernah menggelar partai final Piala Dunia setelah Johannesburg pada 2010.

Sedangkan Spanyol sebelumnya pernah menjadi tuan rumah final edisi 1982 di Santiago Bernabeu ketika Timnas Italia mengalahkan Timnas Jerman Barat 3-1. (Rudi P) 

Tags Terkait

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic