London Diprediksi Akan Sepanas Barcelona pada 2050 Akibat Perubahan Iklim

- Advertisement -spot_imgspot_img

ThePhrase.id – Sebuah penelitian baru menemukan bahwa akibat perubahan iklim, cuaca di London, Inggris diprediksi akan sama dengan cuaca di Barcelona pada tahun 2050.

Foto: Ilustrasi London, Inggris (freepik.com photo by vwalakte)

Meski hal ini mungkin disambut baik oleh para penduduk London, ini bukanlah berita yang baik. Pasalnya kenaikan suhu akibat perubahan iklim tersebut akan disertai dengan kekeringan ekstrem untuk London maupun kota lainnya.

Barcelona sendiri telah mengalami dampak kekeringan ekstrem lebih dari 10 tahun yang lalu, membahayakan banyak penduduk dan mengakibatkan puluhan juta euro dihabiskan untuk mengimpor air minum. London dan kota-kota di garis lintang yang sama mungkin akan mengalami masalah yang sama di masa depan, kata para peneliti.

Penelitian tersebut difokuskan pada 520 kota besar dan dipublikasikan di jurnal Plos One. Temuan yang paling memprihatinkan adalah bahwa penduduk di sekitar seperlima dari semua kota tersebut termasuk Jakarta, Singapura, dan Kuala Lumpur akan mengalami kondisi iklim yang belum pernah terjadi di kota besar mana pun sebelumnya.

Pada tahun 2050, diperkirakan bahwa Madrid akan terasa seperti Teheran Iran, Helsinki akan terasa lebih seperti Budapest, Seattle akan terasa seperti Roma dan iklim New York akan lebih mirip dengan Pantai Virginia.

Peningkatan suhu tertinggi diprediksi di ibu kota Austria, Wina, dengan suhu musim panas 7,6° Celcius lebih tinggi pada tahun 2050 dan iklimnya lebih mirip Skopje, Makedonia Utara. Berlin dan Paris diperkirakan akan melihat bulan terpanas mereka meningkat lebih dari 6° Celcius  dan iklim mereka berubah menjadi seperti yang dialami hari ini di Canberra, Australia, dan Istanbul, Turki.

Selain itu, curah hujan akan menjadi masalah khusus untuk kota-kota besar tersebut, dengan banjir ekstrem menjadi lebih umum di samping kekeringan.

Tom Crowther, Founder Crowther Lab Switzerland yang melaksanakan penelitian tersebut mengatakan, “Kami sama sekali tidak siap untuk ini. Perencanaan untuk perubahan iklim perlu dimulai kemarin. Semakin cepat dimulai, semakin sedikit dampaknya.”

Dilansir The Guardian, Richard Betts, profesor dampak iklim di Exeter University dan kepala area strategis dampak iklim di Met Office Hadley Centre, yang tidak terlibat dalam penelitian, mengatakan tanpa mengetahui bahwa kondisi iklim baru sudah layak huni, lebih sulit untuk mengetahui apakah orang akan dapat beradaptasi dan tinggal di kota-kota ini, atau apakah mereka pada akhirnya akan pindah ke tempat lain.

Friederike Otto, wakil direktur Institut Perubahan Lingkungan di Universitas Oxford, memperingatkan bahwa penelitian itu harus dianggap “hanya sebagai ilustrasi, bukan prediksi”, karena banyaknya variabel yang terlibat. “Ini adalah cara yang berguna untuk mulai berpikir, tetapi itu tidak menunjukkan masa depan London. Bisa jadi curah hujan di musim dingin berubah di London dengan cara yang berlawanan dengan Barcelona,” ujarnya.   [nadira]

- Advertisement -spot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you