trending

Mahfud MD Sebut Prabowo Seperti Soeharto dalam Satu Hal Ini

Penulis M. Hafid
Feb 18, 2026
Presiden Prabowo Subianto saat berpidato dalam dalam Rakernas Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Jawa Barat, Senin (2/2). Foto: BPMI Setpres
Presiden Prabowo Subianto saat berpidato dalam dalam Rakernas Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Jawa Barat, Senin (2/2). Foto: BPMI Setpres

ThePhrase.id - Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto merupakan orang yang tidak ingin langkahnya ditebak orang lain, sebagaimana yang dilakukan Presiden ke-2 Soeharto.

Sikap Prabowo itu tercermin saat beberapa orang meramal bahwa akan ada reshuffle atau perombakan kabinet. Mereka bahkan mengaku mendapat informasi A1 atau sangat akurat, namun nyatanya tidak terjadi.

"Menurut saya, Pak Prabowo satu presiden yang termasuk unik menurut saya, dia tidak mau ditebak-tebak nampaknya, makanya semua ramalan kacau," kata Mahfud melalui kanal YouTube pribadinya, dikutip Rabu (18/2).

Langkah "mengecoh" para peramal itu, Prabowo dianggap sama seperti Soeharto yang sekaligus mantan mertuanya. Menurut Mahfud, keduanya sama-sama tidak mau langkahnya ditebak oleh siapapun.

"Pak Prabowo pintarnya seperti Pak Harto dulu "Saya ndak mau ditebak-tebak oleh wartawan, dispekulasikan", ketika ditebak begini ujungnya malah belok dia," ucapnya.

Terkadang, kata Mahfud, Prabowo justru memanggil pihak yang semula diisukan akan didepak dari kabinetnya.

“Siapa saja lah, orang yang mengaku pernah bertemu, sudah dipanggil sini sini, ndak ada. Pak Prabowo nggak mau ditebak-tebak. Kalau ditebak, dia belok, ndak jadi tuh opini publik. Dia bikin yang lain. Menurut saya, termasuk hebatlah cara-cara begitu,” ungkapnya.

Kendati begitu, Presiden punya hak prerogatif untuk menentukan siapa yang akan di-reshuffle, termasuk menteri yang pintar sekalipun.

Mahfud lantas memberi saran kepada yang mendapat informasi soal pencopotan menteri untuk disampaikan kepada publik terlebih dahulu. Pasalnya, lanjut Mahfud, Prabowo tidak melanjutkan langkah yang sudah menjadi isu publik.

Namun, sikap Prabowo itu dinilai kurang tepat jika dikaitkan dengan kritikan publik soal kebijakan yang dijalankan. “Meskipun, saya kira perlu diapresiasi juga belakangan ini dia mulai tergerak untuk mendengar suara masyarakat, kan,” tuturnya.

Seperti yang terjadi saat memanggil beberapa tokoh yang dikenal kritis terhadap pemerintahan Prabowo, seperti Said Didu dan Abraham Samad. Menurut Mahfud, tokoh kritis itu satu persatu dimintai pandangan oleh Prabowo.

Terlepas apakah dijalankan atau tidak oleh Prabowo, setidaknya para tokoh maupun masyarakat dapat menyampaikan aspirasi dan kritikannya.

“Dia bisa cerita bertemu presiden dan menyampaikan itu. Jika Pak Prabowo tidak melaksanakan itu, itu hak prerogatif Prabowo,” tandasnya. (M Hafid)

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic