lifestyle

Male-Centered Woman, Fenomena Perempuan yang Terjebak dalam Standar Patriarki

Penulis Ashila Syifaa
Oct 24, 2026
Ilustrasi male-centered woman. (Foto: Magnific)
Ilustrasi male-centered woman. (Foto: Magnific)

ThePhrase.id - Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang yang mengubah penampilan, pendapat, bahkan cara bersikap demi mendapatkan perhatian atau pengakuan dari laki-laki? Tanpa disadari, kebiasaan ini bisa membuat laki-laki menjadi tolok ukur dalam mengambil keputusan. Fenomena ini kerap dikaitkan dengan istilah male-centered woman. Lantas, apa artinya dan bagaimana fenomena ini berakar dari cara pandang masyarakat terhadap laki-laki dan perempuan?

Istilah male-centered woman sebenarnya bukan hal baru. Namun, pembahasannya kembali ramai seiring viralnya tren “Stop The Wedding” di TikTok. Tren yang menggunakan lagu milik Ashe ini awalnya mengajak perempuan untuk lebih peka terhadap hubungan yang tidak sehat dan berani mengambil keputusan demi dirinya sendiri.

Banyak perempuan kemudian membagikan pengalaman pahit dalam hubungan mereka. Namun, tren ini juga memunculkan perdebatan ketika sebagian orang justru menggunakannya untuk merendahkan perempuan lain dengan menjadikan pandangan dan pengakuan laki-laki sebagai tolok ukur.

Situasi ini memunculkan diskusi tentang male-centered woman, di mana sebagian perempuan menempatkan laki-laki sebagai pusat kehidupan dan menjadikan pengakuan mereka sebagai dasar dalam mengambil keputusan. 

Fenomena ini tidak muncul begitu saja, melainkan berakar pada cara pandang dan konstruksi sosial yang telah lama berkembang di masyarakat, salah satunya budaya patriarki. Di Indonesia, nilai-nilai patriarki masih dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui nasihat yang ditanamkan sejak kecil. Kalimat seperti, “Jadi perempuan itu harus pintar masak, nanti enggak ada cowok yang mau sama kamu, loh,” yang dianggap lumrah. Padahal, ucapan semacam ini secara tidak langsung menanamkan pemahaman bahwa perempuan perlu memenuhi ekspektasi tertentu agar dapat diterima dan disukai laki-laki.

Tak heran jika budaya patriarki turut membentuk pola pikir sebagian perempuan yang menjadikan penerimaan dan pengakuan laki-laki sebagai tolok ukur harga diri serta kepercayaan diri mereka. Pola pikir inilah yang kerap dikaitkan dengan fenomena male-centered woman.

Melansir Bincang Perempuan, fenomena tersebut berkaitan juga dengan androsentrisme, yakni cara pandang yang memprioritaskan perspektif, kepentingan, dan pengalaman laki-laki di atas perempuan. Dalam pola pikir ini, maskulinitas dianggap sebagai norma atau standar umum, sedangkan feminitas kerap dipandang sebagai penyimpangan dari standar tersebut.

Konsep androsentrisme pertama kali dibahas oleh Charlotte Perkins Gilman dalam bukunya 'The Man-Made World, or, Our Androcentric Culture' yang diterbitkan pada 1911. Gilman mengkritik budaya yang menjadikan laki-laki sebagai pusat kehidupan sosial dan menjadikan pengalaman mereka sebagai acuan dalam membentuk norma masyarakat.

Sayangnya, budaya ini tidak mudah diubah karena telah tertanam secara turun-temurun dan dapat melanggengkan ketimpangan yang merugikan perempuan.

Bagi perempuan yang terjebak dalam pola pikir male-centered, kondisi ini dapat membuat mereka kehilangan arah dan tujuan yang autentik karena terlalu berfokus pada hal-hal yang dapat membuat mereka disukai laki-laki. Mulai dari penampilan, hobi, opini politik, hingga pilihan karier, keputusan yang diambil bisa lebih banyak didasarkan pada ekspektasi laki-laki daripada keinginan diri sendiri.

Ketergantungan pada validasi eksternal juga dapat membuat seseorang sulit merasa puas dengan dirinya sendiri. Sebab, ketika rasa percaya diri bergantung pada pengakuan orang lain, kepuasan tersebut cenderung sulit dipertahankan dan dapat memunculkan perasaan hampa.

Selain berdampak pada diri sendiri, pola pikir ini juga dapat memicu persaingan yang tidak sehat antarsesama perempuan. Perempuan lain bisa dianggap sebagai saingan dalam mendapatkan perhatian atau pengakuan laki-laki, sehingga muncul perilaku saling menjatuhkan dan memperkuat ketimpangan yang justru merugikan perempuan itu sendiri.

Fenomena ini bukan semata-mata kesalahan perempuan, melainkan juga terbentuk dari sistem androsentrisme yang telah mengakar di masyarakat dan membentuk standar sosial. Padahal, perempuan tidak perlu bersaing satu sama lain demi mendapatkan pengakuan, apalagi mengorbankan jati diri hanya agar dianggap layak dicintai. [Syifaa]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic