
ThePhrase.id - Tokoh perempuan dan pejuang lingkungan dari Merauke, Papua Selatan Yasinta Moiwend alias Mama Sinta diduga berubah haluan dengan mendukung Proyek Strategis Nasional (PSN) lumbung pangan di wilayahnya.
Dalam video yang beredar, Mama Sinta mengaku dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang mengajak menolak program pemerintah itu melalui film Pesta Babi.
“Saya sekarang sudah tidak bergabung lagi dengan LBH (Lembaga Bantuan Hukum) mereka. Saya sudah ambil keputusan sendiri. Saya mau cari pekerjaan di perusahaan karena rumah saya ingin direhab, sudah tidak layak lagi,” kata Mama Sinta, dikutip Senin (25/5).
Mama Sinta mengungkapkan dirinya membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan ketiga anaknya.
“Jadi mama harap ke depan bisa dibantu. Saya sekarang tetap di pihak perusahaan, tidak seperti dulu lagi karena dulu saya dimanfaatkan, diajak oleh orang-orang LBH,” ujarnya.
Mama Sinta lantas menceritakan awal mula dirinya terlibat dalam penolakan PSN lumbung pangan. Dia bersama kelompok masyarakat adat Marind diajak seorang pria bernama Aris untuk menolak pembukaan lahan di Papua.
Narasi penolakan yang disampaikan kini viral melalui film Pesta Babi. Menurutnya, pihak pembuat film tidak meminta izin terlebih dahulu kepadanya.
“Saya sudah terlanjur viral di mana-mana sampai mereka buat film Pesta Babi tanpa izin dan tanpa sepengetahuan saya. Itu yang membuat saya sangat kecewa dengan mereka,” tuturnya.
Ia pun meminta maaf kepada pemerintah atas penolakan yang dilakukan sebelumnya. Menurutnya, penolakan itu bukan berasal darinya.
“Saya minta maaf karena itu bukan kemauan saya, tetapi karena ajakan mereka. Saya juga tidak tahu ke depannya seperti apa, apakah mereka bantu rumah saya atau anak saya mendapat pekerjaan, ternyata tidak ada,” ungkapnya.
Ia juga mengakui selama sekitar enam bulan bolak-balik Papua, Jakarta, hingga Makassar bersama LBH. Namun, ia merasa tidak mendapatkan manfaat apa pun dari aktivitas itu.
Akhirnya, ia menyadari dirinya sedang dimanfaatkan, sementara hingga saat ini kehidupannya masih seperti kondisi semula.
Karena itu, ia kini beralih mendukung program pemerintah yang sedang berlangsung di wilayahnya.
“Pemerintah bisa membantu kami lewat perusahaan yang ada. Kami mendukung karena kami tidak punya apa-apa di kampung ini. Harapan kami hanya kepada pemerintah melalui kerja sama dengan perusahaan dan masyarakat, supaya kami juga bisa menikmati hasil pembangunan,” tandasnya. (M Hafid)