sportLiga Inggris

Manchester United Tumbang dari 10 Pemain Manchester City, Start Terburuk Sejak 1992 dan Protes Fans Makin Membara

Penulis Ahmad Haidir
Sep 14, 2026
Hasil di derby Manchester justru memperlihatkan betapa berat tantangan yang harus dihadapi Manchester United. Foto X Manchester United.
Hasil di derby Manchester justru memperlihatkan betapa berat tantangan yang harus dihadapi Manchester United. Foto X Manchester United.

Thephrase.id - Manchester United kembali menghadapi hari yang sulit setelah menelan kekalahan 0-1 dari Manchester City dalam derby Manchester di Old Trafford pada Minggu, 13 September 2026.

Sementara pertandingan tersebut juga diwarnai aksi protes suporter terhadap kepemilikan klub yang membuat suasana di sekitar stadion memanas.

Sir Jim Ratcliffe, yang menyaksikan langsung pertandingan dari tribune direksi, tentu tidak membayangkan perjalanan Manchester United setelah ia menyepakati investasi senilai 1,25 miliar poundsterling untuk membeli saham minoritas klub pada malam Natal 2023 bakal berlangsung seperti ini.

Keterlibatan Ratcliffe ketika itu dibarengi ambisi untuk mengembalikan Manchester United ke masa kejayaan, termasuk melakukan sejumlah keputusan besar demi mengurangi kerugian, tetapi hampir tiga tahun setelah kesepakatan tersebut, tanda-tanda pemulihan yang diharapkan belum terlihat secara signifikan.

CEO Manchester United, Omar Berrada, pada September 2024 bahkan pernah menyampaikan kepada para staf mengenai target untuk membawa klub kembali menjadi juara Premier League pada 2028, yang berarti musim depan menjadi salah satu periode penting dalam rencana tersebut.

Akan tetapi, hasil di derby Manchester justru memperlihatkan betapa berat tantangan yang harus dihadapi Manchester United karena mereka gagal memanfaatkan situasi ketika Manchester City harus bermain dengan sepuluh pemain.

Kekalahan tersebut membuat Manchester United baru mengoleksi empat poin dari empat pertandingan Premier League musim ini, catatan yang menyamai start terburuk dalam kompetisi kasta tertinggi Inggris sejak musim 1992-1993 dan sama dengan raihan pada empat laga pertama musim lalu ketika masih ditangani Ruben Amorim.

Di tengah performa tersebut, persoalan Manchester United tidak hanya terjadi di lapangan karena hubungan antara klub dan sebagian suporternya kembali memanas setelah klub melakukan investigasi terhadap dugaan penyalahgunaan akun tiket yang dimulai pada musim panas lalu.

Manchester United sebelumnya mengakui bahwa mereka sempat memperkirakan jumlah suporter yang membagikan informasi akun lebih rendah dari kondisi sebenarnya dan melonggarkan sejumlah ancaman terkait pencabutan tiket musiman.

Akan tetapi, klub tetap mempertahankan langkah investigasi tersebut hingga akhirnya mengumumkan 685 akun diblokir dan 464 akun lainnya mendapat sanksi atau peringatan.

Dalam laporan yang disampaikan Manchester United, sebanyak 468 kasus kemudian dinyatakan selesai setelah para suporter memberikan informasi yang dianggap cukup untuk menjelaskan aktivitas yang sebelumnya teridentifikasi, sehingga tidak ada tindakan lanjutan terhadap akun-akun tersebut.

Situasi itu mendorong sejumlah kelompok suporter menjadikan pertandingan melawan Manchester City sebagai momentum untuk menyampaikan protes.

Dengan massa dalam jumlah besar membawa suar dan berkumpul di luar Old Trafford setelah memenuhi seruan kelompok 1958 sebelum bergerak melalui terowongan Munich di bawah stadion.

Di dalam stadion, kelompok The Red Army memilih tidak membawa spanduk-spanduk yang biasanya mereka tampilkan dan menggantinya dengan satu spanduk di atas terowongan pemain bertuliskan, "Cara kalian memperlakukan kami adalah sebuah aib."

"Kecuali dukungan generasi kami sebagai suporter yang datang langsung ke pertandingan diberikan ruang untuk bersuara dan benar-benar didengarkan, sedikit budaya suporter yang masih tersisa akan segera hilang untuk selamanya," tulis The Red Army dilansir BBC.

Steve Compton dari kelompok 1958 juga menyampaikan kekecewaan terhadap kondisi klub. "Kami menginginkan keluarga Glazer pergi dan itu tidak akan pernah berubah. Ratcliffe datang dan memberi kami secercah harapan, tetapi gagasannya untuk mengembalikan Manchester ke dalam Manchester United tidak mungkin lebih jauh dari kenyataan," tegasnya.

"Klub telah mengeluarkan banyak pernyataan, tetapi satu hal yang belum mereka lakukan adalah meminta maaf kepada siapa pun. Kami menerima ratusan pesan secara langsung dan hal ini telah memengaruhi kesehatan orang-orang. Mereka adalah orang-orang biasa dari kalangan pekerja yang menerima email bahwa tiket mereka ditangguhkan tanpa bukti yang jelas. Bagaimana Anda bisa membela sesuatu yang bahkan tidak Anda ketahui sebagai tuduhan yang harus Anda hadapi?" tambahnya.

Setelah pertandingan berakhir, suporter Manchester United juga memberikan respons dengan suara cemoohan dari tribune, meskipun tidak sepenuhnya jelas apakah reaksi tersebut ditujukan kepada performa tim atau keputusan wasit terkait insiden offside yang membuat gol Erling Haaland pada babak kedua tetap disahkan. 

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic