e-biz

Masuk Desil 9 dan 10 DTSEN, Berarti Orang Kaya? Ini Penjelasannya

Penulis Firda Ayu
Aug 14, 2026
Tangkapan layar seseorang termasuk dalam Desil 10 pada laman DTSEN (Foto: dok. ThePhrase.id)
Tangkapan layar seseorang termasuk dalam Desil 10 pada laman DTSEN (Foto: dok. ThePhrase.id)

ThePhrase.id – Belakangan ini, istilah desil 9 dan 10 ramai diperbincangkan setelah sejumlah masyarakat mengecek status kesejahteraannya melalui laman Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Tak sedikit warga yang mengaku kaget karena masuk dalam dua kelompok tersebut.

Pasalnya, sebagian dari mereka merasa kondisi ekonominya biasa saja dan tidak memiliki kekayaan berlimpah seperti gambaran kelompok “orang paling kaya” yang selama ini mungkin melekat pada desil 9 dan 10.

Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan desil? Apakah masuk desil 9 atau 10 otomatis berarti seseorang kaya raya?

Desil merupakan pembagian penduduk menjadi 10 kelompok berdasarkan tingkat kesejahteraan. Desil 1 mencakup 10 persen penduduk dengan tingkat kesejahteraan paling rendah, sedangkan desil 10 merupakan 10 persen dengan tingkat kesejahteraan paling tinggi.

Namun, desil bukan berarti batas kekayaan dengan nominal tertentu. Pengelompokan ini merupakan peringkat relatif yang membandingkan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

DTSEN sendiri merupakan amanat Inpres Nomor 4 Tahun 2025 dengan Badan Pusat Statistik (BPS) ditugaskan untuk menetapkan sumber data, menyusun, mengelola, dan memutakhirkan DTSEN.

Tak hanya melihat pada penghasilan, penentuan desil ditetapkan berdasarkan sejumlah variabel, seperti identitas kependudukan, pendidikan, ketenagakerjaan, kondisi dan kualitas tempat tinggal, kesehatan dan disabilitas, kepemilikan aset, serta kepemilikan usaha.

Informasi tersebut kemudian digunakan untuk menentukan posisi kesejahteraan masyarakat dalam 10 kelompok desil. Karena itu, seseorang bisa saja merasa dirinya tidak kaya, tetapi secara pemeringkatan masuk desil 9 atau 10 karena kondisi sosial ekonominya dinilai berada di atas sebagian besar penduduk lainnya.

Kenapa Desil Bisa Berubah?

DTSEN merupakan data yang dinamis dan terus dimutakhirkan. BPS bersama kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah melakukan pemutakhiran secara berkala, termasuk melalui pemadanan dan validasi data.

Prosesnya mencakup penerimaan data dari berbagai sumber, pemadanan dan pembaruan, sinkronisasi NIK dan nomor KK dengan Dukcapil, hingga penghitungan pemeringkatan tingkat kesejahteraan.

Data DTSEN juga terhubung dengan berbagai sumber data sektoral. Karena itu, perubahan kondisi seperti pekerjaan, tempat tinggal, kepemilikan aset, atau usaha dapat memengaruhi posisi desil ketika data diperbarui. Jadi, desil bukan status yang berlaku selamanya. Posisi seseorang dapat berubah sesuai hasil pemutakhiran data.

Masuk desil 9 atau 10 juga tidak otomatis berarti seseorang kehilangan seluruh bantuan pemerintah. Namun, perubahan desil dapat memengaruhi kelayakan seseorang terhadap program tertentu yang menggunakan tingkat kesejahteraan sebagai salah satu kriterianya.

Dikaitkan dengan Pembatasan Pertalite

Pembahasan mengenai desil 9 dan 10 juga semakin ramai karena pemerintah tengah mengkaji pembatasan pembelian BBM bersubsidi, khususnya Pertalite, dengan mempertimbangkan tingkat kesejahteraan masyarakat.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa pemerintah tengah mengkaji mekanisme tersebut bersama Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. 

"Kita akan lakukan secara bertahap untuk melihat dampaknya seperti apa sih. Kalau let's say desil 10 saya stop gak boleh beli Pertalite, gimana dampaknya ke ekonomi, jadi kita akan bertahap," ujar Purbaya.

Meski demikian, rencana tersebut masih dalam tahap kajian sehingga masyarakat yang masuk desil 9 atau 10 belum tentu otomatis dilarang membeli Pertalite. [fa]

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic