
ThePhrase.id - Kabupaten Tulungagung bukan hanya dikenal sebagai dengan industri marmernya, tapi juga dengan budaya Batik Cethe yang unik dan khas sebagai bagian dari tradisi lokal masyarakatnya.
Batik Cethe sendiri muncul dari sebuah kebiasaan tradisional masyarakat Tulungagung yang dikenal sebagai nyethe, yaitu seni mengoleskan endapan kopi pada batang rokok dengan bentuk motif tertentu. Sedangkan cethe sendiri memiliki arti endapan ampas kopi yang dikumpulkan sebagai bahan dasar untuk melukiskan motif.
Proses ini berkembang dari kegiatan sederhana masyarakat yang berkumpul di warung kopi sambil berbincang dan menikmati kopi, lalu rokok mereka dihias memakai ampas kopi yang tersisa di cangkir. Tradisi ini kemudian dikenal luas dan menjadi identitas tersendiri bagi Tulungagung sebagai “Kota Cethe”.
Menurut sumber akademik dari Universitas Kristen Petra, budaya cethe sangat erat kaitannya dengan kegiatan sosial dan ekspresi seni lokal masyarakat Tulungagung. Kebiasaan ini sering disebut masyarakat sebagai batik rokok, karena bentuk akhir motif yang dihasilkan menyerupai corak batik mini di batang rokok.
Motif batik cethe biasanya dibuat dengan media yang sederhana, ampas kopi pekat dan batang rokok atau media lain seperti permukaan porselen. Seniman cethe menggoreskan atau mencoretkan ampas kopi tersebut dengan alat kecil seperti tusuk gigi untuk menghasilkan garis, bentuk bunga, atau pola geometris yang khas.
Proses ini menuntut ketelitian dan kreativitas tinggi karena media ampas kopi bertekstur dan cepat kering, sehingga gaya visualnya sering diapresiasi layaknya karya seni miniatur. Tidak hanya sekadar hobi, kegiatan ini justru menjadi ekspresi budaya dan daya tarik tersendiri bagi masyarakat serta pengunjung.
Tradisi cethe selanjutnya dimodifikasi dan diaplikasikan pada media yang lebih positif, misalnya sebagai motif dekoratif di cangkir kopi dan merchandise khas Tulungagung sehingga kebiasaan ini dapat terus hidup tanpa dikaitkan langsung dengan rokok. Hal ini juga membantu citra budaya cethe sebagai ekspresi seni yang lebih sehat.
Selain itu, motif batik cethe turut diaplikasikan dalam desain produk lokal seperti wadah rokok multifungsi berhiaskan motif cethe untuk memperkuat identitas “Kota Cethe” melalui visual budaya.
Lebih jauh, budaya cethe menyimpan makna sosial yang kuat bagi masyarakat Tulungagung karena kegiatan ini menjadi media interaksi sosial antar generasi dan segmen masyarakat. Tradisi tersebut juga memiliki potensi sebagai media promosi pariwisata budaya yang membedakan Tulungagung dari daerah lain di Jawa Timur.
Dengan pelestarian kebiasaan cethe yang dikemas dalam bentuk seni dan produk budaya, batik cethe tidak hanya menjadi karya estetis tetapi juga bagian dari identitas budaya lokal yang terus digali dan dikenalkan kepada masyarakat luas. [Syifaa]