regionalBatik

Mengenal Batik Incung yang Diadaptasi dari Aksara Kuno di Kerinci, Sumatra

Penulis Ashila Syifaa
Jan 12, 2026
Foto: Instagram/batikincung_official
Foto: Instagram/batikincung_official

ThePhrase.id – Pulau Sumatra memiliki motif batik khas yang mencerminkan kebudayaan masyarakat lokal. Salah satunya berasal dari Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi, yakni Batik Incung yang sarat akan nilai sejarah dan makna budaya.

Berbeda dengan batik pada umumnya, motif Batik Incung merupakan adaptasi dari aksara kuno Kerinci, yaitu Aksara Incung. Dahulu, aksara ini digunakan untuk menulis sastra, hukum adat, serta mantra yang dituliskan pada media seperti tanduk kerbau dan sapi, kulit kayu, bambu, hingga daun lontar.

Bahasa yang digunakan dalam aksara kuno tersebut adalah bahasa Melayu Kuno dan telah digunakan jauh sebelum pengaruh Islam masuk ke wilayah Kerinci. Kata “incung” sendiri dalam bahasa Kerinci berarti miring atau terpancung, yang merujuk pada bentuk hurufnya berupa garis lurus dan melengkung dengan kemiringan sekitar 45 derajat.

Penggunaan Aksara Incung sebagai motif batik mulai berkembang di Kerinci pada tahun 1995. Kehadiran aksara kuno ini menjadi pembeda Batik Incung dengan batik dari daerah lain karena dikembangkan dari kearifan lokal setempat. Selain aksara, motif Batik Incung juga dipadukan dengan unsur tumbuhan dan hewan yang merepresentasikan kekayaan alam serta budaya masyarakat Kerinci.

Karya batik ini lahir dari pengaruh budaya masyarakat yang memiliki nilai filosofis tinggi. Namun, latar belakang penggunaan Aksara Incung sebagai motif batik juga tidak lepas dari peran Pemerintah Provinsi Jambi yang menugaskan Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk merancang desain batik daerah. Dari proses tersebut, lahirlah Batik Incung yang dikembangkan oleh Ida Maryanti dengan mengangkat keragaman budaya Kerinci. Incung tidak hanya dimaknai sebagai bahasa, tetapi juga sebagai seni yang ketika dituangkan ke dalam kain batik dapat memudahkan masyarakat memahami maknanya.

Beberapa motif Batik Incung dilengkapi dengan corak pendukung, seperti Masjid Agung Pondok Tinggi, pohon bambu, lalau kasowah (pergi ke sawah), pakaian adat Kerinci, hingga karamentang atau bendera pusaka masyarakat Kerinci.

Motif-motif tersebut berkaitan erat dengan struktur sosial dan budaya masyarakat Kerinci serta menjadi simbol ciri khas daerah. Tak sekadar hiasan, setiap motif Batik Incung mengandung makna simbolik. Misalnya, motif Masjid Agung melambangkan struktur sosial masyarakat Kerinci, sementara motif pohon bambu mencerminkan pemanfaatan alam sebagai sumber kehidupan. [Syifaa]

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic