
ThePhrase.id - Pernahkah kamu merasa disudutkan oleh pasangan meski tidak bersalah dan disalahkan atas sesuatu yang bahkan bukan perilakumu? Kebiasaan ini bisa menjadi pertanda adanya perilaku toxic dalam hubungan, yaitu blame shifting. Perilaku tersebut termasuk bentuk kekerasan emosional, di mana pelaku berusaha menghindari tanggung jawab dengan melimpahkan kesalahan kepada korban.
Agar terhindar dan terjebak dengan pasangan dengan perilaku tersebut, kenali apa sebenarnya itu blame shifting dan seberapa buruk dampaknya pada kesehatan mental seseorang?
Blame shifting merupakan istilah untuk menggambarkan kebiasaan buruk di mana pelaku tidak akan mengakui dan bertanggung jawab atas kesalahannya dan sering mengalihkan kesalahan kepada orang lain. Namun, sayangnya, blame shifting sering terjadi tanpa disadari dan terlihat seperti perilaku sehari-hari.
Menurut Psycology Tiday, perilaku ini memunculkan ketidakseimbangan kekuatan dalam hubungan, yang kemudian dimanfaatkan oleh pelaku untuk menumbuhkan perasaan kebutuhan dan ketergantungan pada korban. Terdapat lima kebiasaan umum yang merupakan blame shifting menurut riset dalam buku Verbal Abuse: Recognizing, Dealing, Reacting, and Recovering.
Salah satu bentuk yang umum adalah berpura-pura bahwa semuanya hanya lelucon, sekaligus menyudutkan korban sebagai orang yang terlalu sensitif. Pelaku biasanya melakukannya di depan orang lain. Saat korban terlihat tersinggung, pelaku akan berdalih dengan mengatakan “cuma bercanda” atau menyebut korban tidak punya selera humor. Meski orang lain mungkin tidak sepenuhnya percaya, ucapan ini bisa menanamkan keraguan dalam diri korban, terutama jika hal serupa pernah dialami sejak kecil.
Bentuk lain adalah menjadikan perilaku korban sebagai penyebab tindakan kasar tersebut. Pelaku biasanya memulai dengan kalimat seperti “kalau kamu tidak…” atau “kalau kamu tadi…”, lalu menyalahkan korban sebagai pemicu. Dengan cara ini, pelaku seolah-olah memiliki alasan yang sah untuk bersikap kasar. Taktik ini cukup efektif, apalagi jika korban memang sedang emosi.
Selanjutnya, pelaku menyalahkan waktu atau situasi sebagai alasan. Korban dianggap tidak peka karena membahas masalah saat pelaku lelah, sibuk, atau sedang banyak pikiran. Padahal, kenyataannya hampir tidak pernah ada waktu yang “tepat” menurut pelaku. Ini menjadi cara untuk membalikkan situasi agar korban merasa bersalah.
Ada juga bentuk yang menyerang karakter korban. Biasanya ditandai dengan kalimat seperti “kamu selalu” atau “kamu tidak pernah”. Pelaku akan menyoroti berbagai kekurangan korban, seperti dianggap malas, ceroboh, atau tidak mampu mengambil keputusan. Tujuannya adalah membuat korban merasa bersalah dan akhirnya meminta maaf, bahkan hanya karena menjadi dirinya sendiri.
Selain itu, pelaku menganggap keluhan korban sebagai sesuatu yang berulang dan membosankan. Ini sering digunakan untuk mengabaikan korban, tidak merespons, atau bahkan mengancam secara halus, seperti mengatakan “kalau tidak suka, pergi saja.” Cara ini bertujuan untuk membungkam korban dan menghindari penyelesaian masalah, sekaligus memanfaatkan kondisi emosional korban yang masih ingin mempertahankan hubungan. [Syifaa]