ThePhrase.id - Dalam sebuah hubungan, perhatian sering kali tidak selalu ditunjukkan lewat hal besar. Gestur sederhana seperti menawarkan bantuan, mendengarkan cerita, atau memastikan seseorang merasa nyaman justru kerap dianggap lebih bermakna karena dilakukan secara spontan dan tulus.
Hal inilah yang kemudian melahirkan konsep “Chair Theory”. Teori tersebut pertama kali ramai dibicarakan setelah diunggah oleh Nardose Mesfin melalui Facebook. Menurut Mesfin, orang yang benar-benar menghargai kehadiran kita akan secara otomatis “menarikkan kursi” ketika kita datang, terutama saat sedang lelah atau membutuhkan bantuan.
Konsep ini kemudian dikaitkan dengan hubungan pertemanan maupun percintaan. Banyak orang menilai tindakan kecil bisa menjadi gambaran tentang perhatian dan kepedulian seseorang terhadap orang lain.
Psikolog sekaligus penulis Bruce Y. Lee dalam artikelnya di Psychology Today menilai bahwa teori tersebut memang berangkat dari bentuk kesopanan sederhana. Namun, ia juga mengingatkan bahwa satu tindakan kecil tidak cukup untuk menilai keseluruhan karakter seseorang.
Menurut Lee, ada banyak faktor yang memengaruhi perilaku seseorang dalam sebuah situasi. Tidak semua orang dibesarkan dengan kebiasaan menunjukkan perhatian melalui gestur spontan. Ada pula yang sebenarnya peduli, tetapi lebih menunjukkannya lewat dukungan emosional, konsistensi, atau bantuan nyata dalam jangka panjang.
Pandangan serupa juga muncul dalam pembahasan mengenai rasa memiliki atau sense of belonging. Peneliti Kelly-Ann Allen dari Monash University menyebut bahwa manusia pada dasarnya membutuhkan rasa diterima dan dihargai dalam lingkungan sosialnya. Perasaan dianggap “punya tempat” dalam hubungan dapat memengaruhi kenyamanan emosional seseorang.
Di sisi lain, terlalu sering menguji pasangan atau teman lewat “tes-tes tersembunyi” juga dinilai kurang sehat. Bruce Y. Lee menilai kebiasaan tersebut justru dapat memicu rasa tidak nyaman dan perlahan merusak kepercayaan dalam hubungan.
Karena itu, banyak ahli menyarankan agar seseorang melihat pola perilaku secara keseluruhan dibanding terpaku pada satu momen tertentu. Hubungan yang sehat umumnya dibangun lewat perhatian yang konsisten, komunikasi yang baik, dan rasa saling menghargai dari waktu ke waktu.
Pada akhirnya, “Chair Theory” mungkin bisa menjadi pengingat bahwa gestur kecil tetap penting dalam hubungan. Namun, memahami ketulusan seseorang tetap membutuhkan proses dan tidak bisa hanya disimpulkan dari satu tindakan sederhana saja. [Syifaa]