
ThePhrase.id – Media sosial kini telah menjadi bagian dari keseharian. Melalui platform seperti Instagram dan TikTok, seseorang dapat dengan mudah melihat aktivitas, pertemanan, hingga interaksi orang lain. Namun, kemudahan tersebut juga dapat memengaruhi hubungan romantis, terutama ketika aktivitas pasangan di media sosial mulai memicu rasa cemburu atau yang dikenal sebagai digital jealousy.
Digital jealousy merupakan rasa cemburu dalam hubungan romantis yang muncul akibat aktivitas pasangan di media sosial maupun platform digital. Hal yang terlihat sederhana, seperti memberikan like, meninggalkan komentar, mengikuti akun tertentu, hingga berinteraksi melalui direct message (DM), dapat menjadi pemicu munculnya rasa curiga dan ketidaknyamanan.
Media sosial juga membuat seseorang memiliki akses yang lebih mudah untuk memantau aktivitas pasangan. Jika sebelumnya rasa penasaran mungkin berhenti setelah pasangan pulang atau selesai beraktivitas, kini berbagai informasi tentang pasangan dapat terus terlihat secara online.
Namun, informasi yang terlihat di media sosial sering kali hanya berupa potongan tanpa konteks yang lengkap. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang menafsirkan sendiri apa yang dilihat dan memunculkan berbagai asumsi negatif.
Kondisi tersebut juga membuat digital jealousy erat kaitannya dengan overthinking. Satu interaksi kecil di media sosial dapat berkembang menjadi berbagai asumsi ketika tidak disertai komunikasi yang jelas.
Misalnya, seseorang melihat pasangannya memberikan like pada unggahan orang yang dianggap menarik. Dari aktivitas sederhana tersebut, muncul berbagai pertanyaan, seperti apakah mereka saling menyukai, apakah sering berkomunikasi secara pribadi, atau apakah ada sesuatu yang disembunyikan.
Padahal, aktivitas tersebut belum tentu memiliki makna seperti yang dibayangkan. Inilah yang membuat digital jealousy menjadi rumit karena rasa cemburu sering kali muncul dari interpretasi terhadap informasi yang terlihat secara online.
Menurut psikoterapis pasangan John Gottman, rasa cemburu berkaitan dengan ketakutan akan kehilangan dan rasa tidak aman. Media sosial kemudian dapat memperkuat perasaan tersebut karena memberikan akses terus-menerus terhadap informasi mengenai pasangan dan lingkungan sosialnya.
Namun, masalah dapat muncul ketika rasa cemburu mulai berubah menjadi perilaku yang mengontrol. Misalnya, meminta pasangan memberikan akses ke seluruh akun media sosial, memeriksa ponsel tanpa izin, melarang pasangan mengikuti akun tertentu, atau terus-menerus memantau aktivitas online.
Jika dibiarkan, kebiasaan tersebut justru dapat mengurangi rasa percaya dan membuat hubungan menjadi tidak sehat. Alih-alih merasa lebih aman, pasangan justru dapat merasa diawasi dan kehilangan ruang pribadi dalam hubungan. Digital jealousy yang berlebihan juga dapat memengaruhi komunikasi, mulai dari pertanyaan berulang hingga tuduhan yang didasarkan pada asumsi.
Kunci menghadapi digital jealousy adalah komunikasi dan batasan yang disepakati bersama. Setiap pasangan dapat memiliki pandangan berbeda mengenai hal-hal yang dianggap wajar atau tidak dalam penggunaan media sosial.
Daripada langsung menuduh ketika merasa cemburu, coba sampaikan perasaan secara terbuka. Jelaskan aktivitas apa yang membuat tidak nyaman dan mengapa hal tersebut dapat memicu rasa tidak aman.
Di sisi lain, penting untuk tidak menjadikan media sosial sebagai satu-satunya sumber dalam menilai kesetiaan pasangan. Like, komentar, followers, maupun status online tidak selalu menggambarkan kondisi sebenarnya dalam sebuah hubungan. [Syifaa]