lifestyle

Mengenal Eldest Daughter Syndrome dan Dampaknya pada Kesehatan Mental

Penulis Ashila Syifaa
Mar 08, 2026
Ilustrasi anak pertama perempuan. (Foto: Freepik.com)
Ilustrasi anak pertama perempuan. (Foto: Freepik.com)

ThePhrase.id - Apakah kamu seorang anak perempuan pertama dan merasa memiliki tanggung jawab besar dalam keluarga? Perasaan ini cukup umum terjadi karena adanya ekspektasi yang diberikan keluarga kepada anak sulung perempuan. Tak jarang, mereka tumbuh menjadi sosok yang mandiri, perfeksionis, dan selalu berusaha menyenangkan orang lain. Pola perilaku inilah yang kemudian sering disebut sebagai eldest daughter syndrome.

Meski bukan istilah medis atau gangguan psikologis, eldest daughter syndrome merupakan gambaran sifat dan pengalaman yang sering dialami oleh anak perempuan sulung.

Menurut psikolog anak di Cleveland Clinic Children's, Kate Eshleman, eldest daughter syndrome memiliki beberapa sisi positif namun juga beberapa pengalaman negatif.

Anak perempuan pertama di keluarga cenderung memiliki tanggung jawab yang lebih besar dibanding adiknya. Sebagian besar tumbuh dengan tanggung jawab membantu orang tua mengurus adik-adiknya atau pekerjaan lainnya di rumah. Tak jarang juga, anak perempuan pertama dijadikan sebagai tempat pelampiasan emosional salah satu atau kedua orang tua.

Sejak kecil anak sulung perempuan juga sudah terbiasa diminta mengalah, membantu, hingga menjadi contoh yang baik. Hal ini yang kemudian membentuk karakter kuat, mandiri, dan jiwa pemimpin. 

Sekilas eldest daughter syndrome terlihat membawa banyak sisi positif. Namun kenyataannya, tekanan ini dapat membuat anak perempuan pertama merasa takut gagal bahkan merasa harus selalu kuat dan tidak boleh menunjukkan kelemahan. Jika dibiarkan secara terus-menerus tanpa dukungan emosional yang cukup, kondisi ini dapat memicu stres dan kecemasan. Beberapa juga dapat merasakan tidak mendapatkan masa kecil yang layak dengan banyaknya beban dan tanggung jawab.

Perlu dicatat, eldest daughter syndrome juga dapat dirasakan oleh anak perempuan kedua jika kakak pertamanya adalah laki-laki. Hal ini berkaitan dengan stereotip peran perempuan di dalam keluarga yang sering kali menempatkan anak perempuan sebagai sosok yang lebih bertanggung jawab dalam urusan rumah tangga.

Tak semua anak perempuan sulung, mengalami pengalaman eldest daughter syndrome yang sama, namun dapat terlihat dari beberapa ciri yang umum sering muncul, sebagai berikut:

  • Bertanggung jawab
  • Mandiri
  • Empati
  • Peduli
  • Seorang perfeksionis
  • Stres
  • Cemas

Jika tidak disadari, beban emosional tersebut bisa terbawa hingga dewasa. Anak perempuan sulung kerap merasa harus selalu kuat, sulit meminta bantuan, serta merasa bersalah ketika tidak dapat memenuhi harapan keluarga. Hal ini dapat memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri maupun membangun hubungan dengan orang lain.

Meski demikian, penting untuk diingat bahwa memiliki sifat mandiri, bertanggung jawab, dan peduli bukanlah sesuatu yang sepenuhnya negatif. Karakter tersebut justru dapat menjadi kekuatan ketika diimbangi dengan kemampuan untuk menetapkan batasan dan menjaga kesehatan emosional.

Oleh karena itu, anak perempuan sulung juga perlu belajar memahami bahwa mereka tidak harus selalu memikul semua tanggung jawab sendirian. Dukungan keluarga, komunikasi yang terbuka, serta kesadaran untuk memberi ruang bagi diri sendiri dapat membantu menjaga keseimbangan antara tanggung jawab dan kesehatan mental. [Syifaa]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic