
ThePhrase.id - Perjalanan Geovany Quenda menuju Chelsea menjadi salah satu kisah menarik pada bursa transfer musim panas 2026 setelah winger muda asal Portugal itu resmi diperkenalkan sebagai pemain baru The Blues dengan kontrak hingga 2034, menyusul kesepakatan yang sebenarnya telah dicapai sejak Maret 2025.
Quenda datang ke Stamford Bridge dengan reputasi sebagai salah satu talenta terbaik yang dimiliki Portugal, bahkan gaya bermainnya kerap dibandingkan dengan bintang Arsenal, Bukayo Saka, sementara sang pemain sejak kecil menjadikan Cristiano Ronaldo sebagai sosok panutan yang ingin diikuti jejaknya dari akademi Sporting CP menuju panggung Premier League.
Melansir BBC, karier Quenda tidak dimulai dengan cara yang mudah karena ketika pertama kali datang berlatih di klub amatir Damaiense ia mengenakan celana jeans dan sepatu biasa sehingga sempat dilarang mengikuti sesi Latihan. Situasi berubah setelah sentuhan pertama dan kemampuan menggiring bolanya membuat pelatih Ana Correia meminta klub memberikan pengecualian agar ia tetap bisa bergabung.
Lahir di Guinea-Bissau, Quenda pindah ke Portugal saat berusia tujuh tahun sebelum mengawali perjalanan sepak bolanya di Damaiense U-10. Ia kemudian bergabung dengan akademi Benfica dan akhirnya memilih melanjutkan perkembangan karier bersama Sporting yang membawanya menembus level tertinggi sepak bola Portugal.
Saat diperkenalkan sebagai pemain Chelsea, Quenda didampingi oleh kedua orang tua, saudara perempuan, teman-temannya, para agen, serta ayah baptisnya, Basaula Lemba, mantan pesepak bola kasta tertinggi Portugal yang pernah mengoleksi sepuluh caps bersama Timnas Zaire dan memiliki peran penting dalam perkembangan awal sang pemain sebelum bergabung dengan akademi Benfica pada 2017.
Mantan pelatih akademi Sporting CP, Fabio Roque, mengungkapkan bahwa Quenda langsung menarik perhatian pencari bakat sejak masih membela Benfica karena memiliki karakter permainan yang berbeda dibandingkan pemain seusianya meski saat itu masih membutuhkan pembentukan dari sisi disiplin.
"Dia luar biasa dan berbeda. Disiplinnya memang belum selalu bagus dan dia masih mentah, tetapi sikapnya sangat baik. Dia menuntut banyak dari dirinya sendiri, percaya diri, sulit ditebak, berani, dan memiliki hubungan yang luar biasa dengan bola," tegasnya.

Roque juga mengenang salah satu pertandingan penting melawan Benfica ketika Sporting harus bermain dengan sepuluh pemain sejak awal laga. Quenda tetap menunjukkan mentalitas luar biasa dengan meyakinkan rekan-rekannya bahwa mereka akan menang sebelum akhirnya mencetak gol kemenangan yang membuat sang pelatih semakin yakin melihat potensi besar yang dimilikinya.
"Saat itu saya berpikir, 'Anak ini istimewa'," bebernya.
Perkembangan Quenda terus berlanjut ketika promosi ke tim U-23 di bawah arahan Tiago Teixeira yang mengaku hampir seluruh staf akademi Sporting membicarakan bakat pemain kelahiran 2007 tersebut. Ia pernah mencetak empat hingga lima gol beruntun dari tendangan bebas dalam satu sesi latihan setelah sebelumnya diledek tidak mampu melakukannya.
Fabio Roque menilai karakter permainan Quenda paling mendekati Bukayo Saka karena sama-sama eksplosif, kreatif, sulit diprediksi, serta mampu bermain dari sisi dalam, bahkan menurutnya kemampuan bertahan Quenda pada usia sekarang bisa dibilang lebih baik meski Saka sudah membuktikan konsistensinya di level tertinggi.
"Dia salah satu pemain paling mengesankan yang pernah saya lihat. Di antara pemain kelahiran 2007, dia adalah salah satu yang terbaik di dunia bersama Lamine Yamal dan Estevao. Ekspektasi saya sangat tinggi, tetapi saya tahu kariernya masih panjang," ucapnya.
Bakat Quenda membawanya berlatih bersama tim utama Sporting CP saat masih berusia 16 tahun di bawah Ruben Amorim sebelum sang pelatih hijrah ke Manchester United. Ia memecahkan sejumlah rekor dengan menjadi pencetak gol termuda di Piala Super Portugal, pemain termuda Sporting yang menjadi starter sekaligus mencetak gol di Liga Champions, melampaui rekor Cristiano Ronaldo sebagai pencetak gol termuda Liga Portugal, serta mengamankan tempat reguler di tim utama ketika baru berusia 17 tahun.
Menjelang kepindahan ke Chelsea, Quenda menjalani pelajaran bahasa Inggris secara rutin, meningkatkan kondisi fisik melalui latihan tambahan dan program nutrisi agar siap menghadapi kerasnya Premier League.
Akan tetapi, ia sempat mengalami patah tulang metatarsal kelima yang membuatnya menepi selama empat bulan sebelum menjalani sebagian besar proses rehabilitasi di pusat latihan Cobham, berlatih lebih awal bersama beberapa pemain lain, serta menargetkan tempat reguler di tim utama Chelsea sekaligus debut bersama Timnas Portugal senior dalam waktu dekat. (Rangga)