
ThePhrase.id - Belakangan ini, media sosial kembali diramaikan oleh tren gyaru, terutama setelah influencer Hanum Mega menggelar pesta ulang tahun ke-26 dengan tema tersebut. Gaya ini identik dengan makeup tebal, rambut bervolume, fashion mencolok, serta kulit kecokelatan pada beberapa variannya. Lantas, apa sebenarnya gyaru dan mengapa gaya ini bisa muncul di Jepang?
Gyaru merupakan subkultur fashion dan kecantikan Jepang yang berkembang di kalangan anak muda. Istilah gyaru berasal dari pelafalan Jepang terhadap kata bahasa Inggris gal, yang berarti perempuan muda.
Namun, gyaru bukan sekadar istilah untuk menyebut perempuan muda. Seiring perkembangannya, kata tersebut menjadi identitas sebuah subkultur yang menggunakan fashion, makeup, rambut, hingga gaya hidup sebagai cara untuk menunjukkan diri.
Kemunculan gyaru tidak dapat dipisahkan dari perubahan budaya anak muda Jepang dan masuknya pengaruh budaya Barat. Menurut penelitian Shim Heechan dalam Japanese Cultural Studies pada 2026, konsep gyaru mulai terbentuk sejak 1970-an di bawah pengaruh budaya Amerika. Pengaruh itu kemudian bertemu dengan keinginan anak muda untuk memiliki penampilan yang berbeda dari standar kecantikan yang lebih konservatif.
Pasalnya, perempuan Jepang umumnya diharapkan memiliki penampilan yang lebih feminin dan natural. Gyaru justru hadir dengan tampilan yang berlawanan, seperti rambut yang diwarnai, makeup lebih tebal, pakaian mencolok, dan kulit yang dibuat lebih gelap.
Kemunculan gyaru sering dipahami sebagai salah satu bentuk ekspresi diri dan perlawanan terhadap norma penampilan yang berlaku. Alih-alih mengikuti gambaran perempuan ideal yang sudah ada, pengikut gyaru memiliki kebebasan untuk menentukan sendiri bagaimana mereka ingin terlihat.
Ketika gaya tersebut semakin berkembang pada 1990-an, Shibuya, Tokyo, menjadi salah satu pusat penting bagi komunitas gyaru.
Shibuya merupakan kawasan yang dipenuhi pusat perbelanjaan, toko fashion, tempat hiburan, dan menjadi ruang berkumpul anak muda. Lingkungan tersebut membuat berbagai tren street fashion dapat berkembang dengan cepat.
Popularitas gyaru semakin besar setelah majalah egg terbit pada 1995 yang juga ikut membantu mengenalkan gaya ini keseluruh anak muda di Jepang. Majalah egg banyak menampilkan foto perempuan muda di jalanan Shibuya yang menjadi referensi bagi pembaca lain.
Pada akhir 1990-an, gaya gyaru semakin berkembang dengan munculnya beberapa variasi lainnya seperti ganguro yang identik dengan kulit sangat kecokelatan, rambut terang, dan makeup tebal. Perubahan ini menunjukkan bahwa sejak awal gyaru bukanlah gaya dengan aturan yang tetap, namun terus berkembang karena pengikutnya terus bereksperimen dengan penampilan.
Gyaru Sebagai Bentuk Ekspresi Diri
Di balik makeup dan fashion yang mencolok, alasan utama gyaru berkembang adalah keinginan untuk mengekspresikan identitas. Para pengikutnya tidak hanya mengubah penampilan, tetapi juga membangun komunitas seperti gyaru-sa, mengambil foto purikura, hingga mengikuti budaya para para.
Dalam konteks tersebut, fashion menjadi lebih dari sekadar pakaian. Penampilan digunakan untuk menunjukkan siapa mereka, kelompok mana yang mereka ikuti, dan bagaimana mereka ingin dilihat oleh orang lain. [Syifaa]