lifestyleCoffee

Mengenal Kopi Cethe: Seni Melukis Ampas Kopi di Batang Rokok Khas Tulungagung

Penulis Firda Ayu
Jan 12, 2026
Ilustrasi nyethe (Foto: komunitaskretek.or.id)
Ilustrasi nyethe (Foto: komunitaskretek.or.id)

ThePhrase.id – Tak dianggap sebagai limbah semata, ampas kopi justru dimanfaatkan menjadi sebuah karya seni melalui tradisi kopi cethe dari Tulungagung, Jawa Timur. Saking populernya tradisi ini, Tulungagung bahkan kerap dijuluki sebagai Kota Cethe, merujuk pada kebiasaan unik warganya dalam menikmati kopi dan rokok secara bersamaan.

Tradisi kopi cethe merupakan seni melukis atau membatik menggunakan ampas kopi dengan media batang rokok. Kata cethe sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti ampas kopi, sementara aktivitasnya dikenal dengan istilah nyethe, yaitu mengoleskan ampas kopi ke batang rokok. Dari kegiatan sederhana ini, lahir pola-pola unik yang membuat rokok tampak seperti sebuah karya seni.

Melansir Republika, tradisi nyethe mulai populer di kalangan petani Tulungagung sekitar tahun 1980-an. Sepulang dari sawah, para petani kerap singgah di warung kopi untuk beristirahat, berbincang, dan melepas lelah sambil menikmati kopi dan sebatang rokok. Dalam suasana santai itulah, kebiasaan nyethe perlahan muncul dan berkembang. Sambil mengobrol, rokok yang dihisap sesekali diolesi dengan endapan kopi yang tersisa di dalam cangkir. 

Awalnya, ampas kopi tersebut digunakan untuk menjaga keawetan rokok saat dihisap. Namun, seiring waktu, banyak yang merasakan bahwa rokok yang diolesi ampas kopi menghadirkan aroma yang lebih nikmat dan khas. Dari sinilah nyethe tak lagi sekadar kebiasaan, melainkan menjadi bagian dari pengalaman menikmati kopi cethe

Tradisi ini kemudian semakin melekat dalam kehidupan sosial masyarakat Tulungagung dan menjadi pengikat kebersamaan di warung-warung kopi. Seiring popularitasnya, warung kopi cethe pun menjamur di berbagai sudut kota Tulungagung. Bahkan, kopi cethe pernah mencetak rekor MURI dalam kategori Melukis pada Batang Rokok dengan jumlah peserta terbanyak, yakni 2.710 orang pada tahun 2005.

Pembuatan Kopi Cethe

Untuk melakukan nyethe, kopi yang digunakan biasanya adalah bubuk kopi yang sangat halus agar ampasnya mudah dibentuk. Beberapa orang menambahkan susu cair untuk meningkatkan kekentalan dan daya rekat ampas kopi. Sisa air pada ampas kopi juga biasanya diserap menggunakan tisu atau kertas koran sebelum digunakan sebagai “tinta”.

Untuk membentuk motif, alat yang digunakan pun sederhana, mulai dari benang, lidi, hingga sendok. Motifnya bisa berupa garis, lingkaran, atau pola tertentu sesuai selera. Meski terlihat sepele, detail yang kerap disebut sebagai batik rokok ini justru menjadi daya tarik utama kopi cethe.

Kini, nyethe tak lagi terbatas pada batang rokok. Tradisi ini mulai berkembang dengan media lain, seperti cangkir, kain, hingga kanvas, layaknya melukis. [fa]

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic