
ThePhrase.id - Di tengah padatnya aktivitas sehari-hari, keinginan untuk bersosialisasi di luar rutinitas kerja, sekolah, maupun keluarga sering kali terasa semakin berat. Tekanan untuk menyusun agenda hingga mencari tempat pertemuan kerap menjadi hambatan tersendiri. Namun, terdapat tren Gen Z yang mengubah definisi dan cara tradisional untuk bersosialisasi, yaitu soft socializing.
Soft socializing merupakan gaya baru Gen Z dalam bersosialisasi dengan cara yang rendah tekanan, tanpa perlu banyak biaya, menekankan pada kegiatan sederhana yang mengutamakan kebersamaan dibandingkan rencana atau agenda yang mewah dan rumit.
Menurut Phsychology Today, soft socializing merupakan gaya bersosialisasi yang menekankan pada koneksi yang rendah tekanan yang berakar dari aktivitas bersama. Beberapa contoh aktivitas ini antara lain adalah book clubs, jalan di taman, atau bahkan sekadar berada dalam satu ruang yang sama sambil melakukan aktivitas yang berbeda-beda.
Meski istilah soft socializing belakangan ini mulai beredar di media sosial, ide atau konsep bersosialisasi seperti ini sudah ada sejak lama. Menurut artikel berjudul “Maintenance strategies and romantic relationship type, gender, and relational characteristics” yang dipublikasi dalam Journal of Social and Personal Relationships, hubungan tak selamanya harus berdasarkan koneksi yang mendalam atau percakapan yang intens dan emosional.
Interaksi kecil-kecilan yang ditemui setiap hari menjadi dasar dalam mengisi keseharian sehingga membangun koneksi yang bermakna. Interaksi tersebut akan terakumulasi menjadi rasa kontinuitas, kehadiran, dan stabilitas hubungan.
Menurut Jeffrey A. Hall and Andy J. Merolla, seorang penulis dan professor Departemen Komunikasi, menemukan bahwa koneksi dari momentum kecil bermakna akan menjadi pola yang lebih luas yang mengisi hubungan dan kesejahteraan mental.
Hal ini serupa dengan konsep soft socializing, tak hanya bermanfaat untuk mempertahankan hubungan pertemanan tetapi juga hubungan romantis jangka panjang yang serius seperti pernikahan.
Di sisi lain, lingkungan sosial sering kali mendorong ekspektasi untuk tampil aktif, menarik, dan harus selalu “siap untuk tampil”. Sebagian besar orang merasa tuntutan ini melelahkan dan menguras energi.
Menurut Robert Alexander, PhD, asisten profesor psikologi dan konseling, soft socializing menggesar tujuan penampilan menjadi kehadiran sehingga dapat membuat seseorang merasa lebih aman, terhubung, dan diterima tanpa perlu berupaya untuk membangun kesan yang istimewa.
Sehingga, soft socializing menurunkan tekanan tersebut dengan menjadikan aktivitas bersama sebagai pusat interaksi, sehingga beban komunikasi tidak sepenuhnya ada pada individu. Percakapan tidak lagi menjadi satu-satunya penopang, karena aktivitas membantu menciptakan struktur, ritme, serta momen alami untuk berinteraksi.
Hal ini penting karena orang cenderung lebih mudah terlibat ketika interaksi terasa ringan dan terjangkau. Dari situ, momen-momen kecil tersebut perlahan dapat berkembang menjadi hubungan yang lebih bermakna.
Dengan kata lain, mengurangi tekanan bukan berarti mengurangi kualitas koneksi, melainkan membuatnya lebih berkelanjutan. [Syifaa]