regionalBatik

Mengenal Tenun Ikat Ende-Lio: Kain Istimewa yang Terancam Hilang

Penulis Ashila Syifaa
Nov 20, 2023
Pengerajin Tenun Ikat Ende-Lio. (Foto: kemenkopmk.go.id/Rendy Febrianto)
Pengerajin Tenun Ikat Ende-Lio. (Foto: kemenkopmk.go.id/Rendy Febrianto)

ThePhrase.id - Kain tenun menjadi salah satu warisan budaya Indonesia yang semakin diminati oleh masyarakat. Salah satu jenis kain tenun yang istimewa namun terancam hilang adalah Tenun Ikat Ende-Lio.

Tenun Ikat Ende-Lio merupakan kain tradisional yang berasal dari Ende, Flores, dan memiliki makna khusus. Jenis kain ini berasal dari budaya suku Ende-Lio yang mendiami Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kain tradisional ini menjadi warisan suku tersebut dan menggambarkan berbagai aspek kehidupan masyarakat pada masa lampau.

Menurut VoxNTT, cerita lisan mengenai kehidupan masyarakat pada masa lalu diwariskan secara turun-temurun, menjadikan kain ini sebagai bukti nyata tradisi kehidupan leluhur.

Kain tenun ikat Ende-Lio dibuat dari helaian benang pakan dan benang lungsin yang diikat serta dicelupkan dalam zat pewarna, baik menggunakan pewarna alami maupun buatan. Umumnya, kain tenun ikat ini dikerjakan oleh perempuan masyarakat Ende dan Lio dengan menggunakan alat tradisional.

Namun, kegiatan menenun kain ikat di Kabupaten Ende tidak merata, karena sebagian besar suku Lio dilarang untuk melakukan tenun ikat. Hanya masyarakat Lio dari suku Nggela, Mbuli, dan Ndona yang diperbolehkan menenun, sementara suku Ende diberi kebebasan untuk melakukannya.

Motif-motif kain tenun ikat Ende-Lio sangat beragam, masing-masing memiliki kekhasannya sendiri. Beberapa contoh motif yang umum meliputi ikat Semba (merangkul), Jara (Kuda), Nggaja (Gajah), Nepa (Ular), Ngawu (Perhiasan), Wonga (Bunga), Ule Age (Burung), Garuda, Keli (Gunung), dan Manu (Ayam).

Ada dua jenis motif yang menceritakan leluhur masyarakat Ende dan Lio yang berasal dari India dan Malaka, yaitu nggaja dan rajo. Nggaja bermakna gajah, sementara motif rajo menceritakan leluhur dari India Malaka yang menuju Ende menggunakan kapal Rajo.

Umumnya, kain tenun ikat etnis Lio memiliki warna dasar merah tua hingga coklat. Kain tenun dengan berbagai motif ini digunakan sebagai sarung untuk laki-laki yang disebut Ragi, sedangkan untuk perempuan disebut Lawo.

Pada kain tenun untuk pria Ende dan Lio, umumnya memiliki warna dasar hitam atau biru kehitaman dengan jalur-jalur yang terlihat jelas sepanjang lungsin, yang disebut Ragi atau Luka. Sementara motif tenun ikat untuk perempuan mencakup flora dan fauna seperti kuda, daun, burung, lalat, atau sayap lalat yang disebut Lawo/Zawo. Kain dan selendang untuk perempuan dominan dengan motif bunga yang dihiasi garis hitam kecil di antara motif-motifnya, serta rumbai-rumbai pada bagian ujung kain.

Kain tenun ikat Ende-Lio dapat ditemukan di beberapa desa produsennya, seperti di Desa Pemo, Woloara, Tendawena, Nggela, Wolojita, Jopu, Ranggase, dan Mbulilo'o. Kain ini memiliki keterkaitan erat dengan tradisi, ritual adat, penghormatan terhadap sang pencipta, hajatan, dan juga sebagai sumber penghasilan bagi masyarakat Ende-Lio untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Bagi masyarakat Flores, kegiatan menenun, khususnya oleh kaum perempuan, terkait erat dengan konsep 'tangan dingin'. Melalui tenun ikat yang masih menjadi warisan tradisi, kontribusi besar diberikan oleh kaum perempuan yang dengan tekun, sabar, dan cinta menjaga agar tradisi ini tidak punah dalam arus peradaban modern. Meskipun demikian, saat ini timbul kekhawatiran terhadap kaum muda yang cenderung mengikuti perkembangan zaman dengan mudah dan cepat, jarang menunjukkan ketekunan dalam menenun. [Syifaa]

 
Related News

Popular News

 

News Topic