
ThePhrase.id - Istilah super flu belakangan ramai diperbincangkan seiring meningkatnya kasus influenza di sejumlah negara. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI pun mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap virus ini karena dinilai lebih mudah menular dan berpotensi menimbulkan gejala yang lebih berat, terutama pada anak-anak, lansia, serta penderita penyakit penyerta.
Meski populer di tengah masyarakat, super flu bukanlah istilah medis resmi. Melansir BBC News Indonesia, sebutan ini digunakan untuk menggambarkan varian influenza musiman yang mengalami mutasi dan memicu lonjakan kasus, dengan gejala yang dirasakan lebih intens dibandingkan flu biasa.
Secara ilmiah, virus yang dimaksud merujuk pada influenza A subtipe H3N2 subclade K. Varian ini pertama kali terdeteksi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025 dan hingga kini telah menyebar ke lebih dari 80 negara.
Secara global, CDC mencatat jutaan kasus influenza hingga akhir Desember 2025, dengan puluhan ribu pasien dilaporkan harus menjalani perawatan di rumah sakit. Lonjakan kasus terjadi di berbagai wilayah, termasuk Amerika Serikat, Eropa, serta sejumlah negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan Thailand. Meski demikian, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai subclade K tidak menunjukkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan influenza musiman lainnya.
Sementara itu di Indonesia, melansir Kemenkes RI, hingga akhir Desember 2025 tercatat 62 kasus influenza A H3N2 subclade K yang tersebar di delapan provinsi. Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak. Mayoritas pasien merupakan perempuan dan kelompok usia anak. Kemenkes menegaskan bahwa situasi masih terkendali dan tren kasus influenza nasional justru menunjukkan penurunan dalam dua bulan terakhir.
Dari sisi gejala, super flu memiliki kemiripan dengan influenza musiman. Gejala yang umum muncul meliputi demam tinggi disertai menggigil, batuk dan pilek, nyeri otot serta sakit kepala, kelelahan ekstrem, hingga sakit tenggorokan dan gangguan pernapasan ringan. Namun, sejumlah pasien melaporkan durasi gejala yang lebih panjang serta waktu pemulihan yang cenderung lebih lama dibandingkan flu biasa.
Untuk mencegah penularan, masyarakat dianjurkan menjalani vaksinasi influenza tahunan dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Langkah pencegahan lainnya meliputi rutin mencuci tangan, menggunakan masker di tempat ramai, menjaga sirkulasi udara di dalam ruangan, serta membatasi aktivitas saat sedang sakit. Apabila gejala tidak kunjung membaik atau semakin berat, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. [nadira]