
ThePhrase.id – Pernah merasa dibuat bersalah, diabaikan, atau terus dibanding-bandingkan sampai terpaksa mengikuti keinginan seseorang? Situasi seperti ini bisa menjadi bagian dari emotional manipulation, ketika emosi seseorang digunakan untuk mempengaruhi atau mengendalikan perilakunya.
Namun, tidak semua perkataan yang membuat seseorang merasa tidak nyaman bisa disebut manipulasi. Kritik, teguran, atau feedback negatif juga dapat terasa menyakitkan, tetapi memiliki tujuan yang berbeda.
Psikolog Karen Niven, Peter Totterdell, dan David Holman dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Emotion pada 2009 menjelaskan konsep controlled interpersonal affect regulation, yakni upaya yang dilakukan seseorang secara sengaja untuk mempengaruhi emosi orang lain. Penelitian tersebut mengelompokkan berbagai strategi berdasarkan apakah tujuannya memperbaiki atau memperburuk perasaan orang lain.
Menurut Jeremy S. Nicholson, Ph.D., perbedaan antara feedback negatif dan manipulasi emosional dapat dilihat dari tujuan serta cara seseorang memperlakukan perasaan orang lain. Feedback negatif memang dapat membuat penerimanya merasa tidak nyaman, tetapi biasanya berfokus pada perilaku yang perlu diperbaiki dan membuka jalan menuju penyelesaian masalah.
Sebaliknya, manipulasi emosional cenderung menggunakan perilaku yang membuat orang lain merasa buruk untuk mendapatkan keuntungan atau membuat mereka mengikuti keinginan pihak yang melakukan manipulasi.
Nicholson mengutip lima bentuk strategi yang perlu diwaspadai, yaitu selfishness, disrespect, criticism, withdrawal, dan diminishing comparison. Bentuknya dapat berupa memprioritaskan perasaan sendiri sambil mengabaikan perasaan orang lain, bersikap kasar atau merendahkan, menyerang kekurangan pribadi, sengaja menarik diri atau melakukan silent treatment, hingga terus membandingkan diri dengan orang lain untuk membuat mereka merasa lebih rendah.
Hal ini sejalan dengan klasifikasi Niven dan rekan-rekannya. Dalam penelitian tersebut, strategi yang memperburuk emosi orang lain dibedakan antara strategi yang melibatkan seseorang dalam situasi atau masalah tertentu dan strategi yang berorientasi pada hubungan. Strategi yang berorientasi pada penolakan mencakup perilaku yang menyampaikan penolakan atau mengabaikan perasaan target.
Karena itu, salah satu hal yang dapat diperhatikan adalah apa yang terjadi setelah konflik atau teguran tersebut. Jika seseorang menjelaskan perilaku yang dianggap bermasalah dan memberikan kesempatan untuk memperbaikinya, hal itu lebih dekat dengan negative feedback. Namun, jika seseorang sengaja membuat pihak lain merasa bersalah, rendah diri, takut kehilangan hubungan, atau tertekan agar menuruti keinginannya, pola tersebut dapat mengarah pada manipulasi emosional.
Manipulasi juga tidak selalu terlihat jelas. Bisa muncul dalam hubungan romantis, pertemanan, keluarga, maupun lingkungan kerja. Karena itu, memahami pola interaksi menjadi penting agar kita dapat membedakan antara komunikasi yang tidak nyaman tetapi konstruktif dan perilaku yang menggunakan emosi sebagai alat untuk mengendalikan orang lain. [Syifaa]