lifestyleHealth

Merasa Tak Pantas Dapat Perhatian? Hati-Hati, Bisa Jadi Echoisme

Penulis Ashila Syifaa
Jan 24, 2026
Ilustrasi hubungan dengan seorang echoist. (Foto: Freepik.com)
Ilustrasi hubungan dengan seorang echoist. (Foto: Freepik.com)

ThePhrase.id - Dalam lingkaran pertemanan atau lingkungan sosial, kita hampir selalu akan bertemu dengan satu atau dua orang yang memiliki karakter narsistik. Namun, pernahkah kamu bertemu dengan seseorang yang justru memiliki karakter yang berbanding terbalik? Karakter yang berlawanan dengan narsistik dikenal sebagai echoist.

Istilah narsisme dan echoisme berasal dari mitologi Yunani, yakni kisah Echo dan Narcissus. Echoisme diambil dari cerita nimfa Echo yang dikutuk oleh Dewi Hera sehingga tidak dapat berbicara untuk dirinya sendiri dan hanya mampu mengulangi kata-kata terakhir yang diucapkan orang lain kepadanya.

Kutukan tersebut membuat Echo kesulitan mengekspresikan diri dan kehilangan suaranya sendiri. Karena itulah, echoisme kerap dipahami sebagai kebalikan dari narsisme yang identik dengan rasa percaya diri tinggi dan kecenderungan menjadi pusat perhatian.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, echoisme sering muncul karena seseorang tidak ingin terlihat egois, narsistik, atau sebagai bentuk coping mechanisme. Seorang echoist cenderung kesulitan mengekspresikan keinginan maupun kebutuhan pribadi, bahkan kerap memandang kebutuhan dirinya sebagai sesuatu yang tidak penting. Sebagian dari mereka juga merasa tidak spesial dan tidak layak mendapatkan perhatian.

Beberapa ciri yang umum terlihat pada echoist adalah kecenderungan menghindari perhatian publik serta lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan orang lain dibandingkan kebutuhan diri sendiri.

Meski demikian, echoisme bukanlah diagnosis gangguan mental seperti Narcissistic Personality Disorder (NPD). Echoisme lebih dipahami sebagai pola perilaku signifikan yang dapat memengaruhi kualitas hubungan dan kesejahteraan seseorang secara keseluruhan. Adapun beberapa tanda echoisme antara lain:

  • Takut menerima pujian atau terlihat egois maupun narsistik dalam bentuk apa pun
  • Terlalu berfokus pada kebutuhan dan kepentingan orang lain
  • Mengabaikan kebutuhan diri sendiri
  • Menekan keinginan dan perasaan pribadi
  • Cenderung selalu menyetujui pendapat orang lain
  • Secara aktif menolak atau menghindari perhatian
  • Mudah menyalahkan diri sendiri dan sangat kritis terhadap diri sendiri
  • Memiliki empati yang sangat tinggi

Karakteristik ini sering disalahartikan sebagai codependency, padahal keduanya berbeda. Echoist umumnya memiliki empati tinggi dan menjadi pendengar yang baik, tetapi tidak bertujuan untuk memanipulasi atau mengontrol orang lain.

Menurut Verywell Mind, echoisme dapat memengaruhi hubungan asmara maupun platonis. Individu dengan kecenderungan ini sering takut mengambil keputusan dalam hubungan, sehingga kesulitan mengekspresikan perasaan, keinginan, dan kebutuhan. Jika berlangsung terus-menerus, hal ini dapat membuat hubungan menjadi renggang dan menimbulkan rasa tidak puas pada pasangan.

Pada awalnya, perilaku echoist kerap terlihat penuh perhatian dan kepedulian. Namun seiring berjalannya waktu, pasangan bisa merasa tidak benar-benar mengenal pribadi echoist tersebut. Akibatnya, komunikasi menjadi sulit dan hubungan terasa seperti berjalan satu arah tanpa timbal balik yang seimbang.

Beberapa ahli juga menjelaskan bahwa echoist sangat rentan terhadap kekerasan emosional dari individu dengan gangguan kepribadian narsistik (NPD), karena mereka cenderung mudah dimanipulasi. Lantas, mengapa echoisme bisa terjadi?

Verywell Mind menyebutkan bahwa kondisi ini dapat berakar dari trauma masa kecil atau pengalaman hubungan yang kerap diwarnai penolakan. Individu dengan echoisme kemudian meyakini bahwa penolakan tersebut disebabkan oleh diri mereka sendiri yang dianggap terlalu membutuhkan orang lain. Akibatnya, kebutuhan dan keinginan pribadi ditekan karena dianggap sebagai sumber masalah, dengan harapan dapat memperoleh kasih sayang dan penerimaan.

Penting untuk diingat bahwa echoisme bukanlah kondisi permanen. Seseorang dengan karakter echoist dapat belajar membangun rasa aman dan kepercayaan diri, salah satunya dengan mulai menetapkan batasan serta berani menyampaikan perasaan dan kebutuhan pribadi.

Namun, proses ini menjadi lebih menantang jika seseorang berada dalam atau baru keluar dari hubungan dengan individu narsistik. Psikolog klinis Dr. Avigal Lev menekankan pentingnya membantu korban menyadari bahwa pasangannya bersikap manipulatif. Pemulihan dilakukan dengan memahami pengalaman manipulasi dan gaslighting yang dialami, lalu secara perlahan membantu individu tersebut kembali mengenali diri, nilai hidup, serta membangun identitas pribadi dengan penuh kesabaran.

Jika dirasa sulit untuk menjalaninya sendiri, proses pemulihan ini dapat didampingi oleh dukungan orang terdekat maupun bantuan profesional kesehatan mental. [Syifaa]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic