lifestyleHealth

Mindfulness dan Berita Buruk: Kapan Menjaga Diri Bisa Berubah Menjadi Keegoisan?

Penulis Ashila Syifaa
Sep 19, 2026
Tangkapan layar video ungahan YouTube Maudy Ayunda,
Tangkapan layar video ungahan YouTube Maudy Ayunda, "Living in the age of bad news". (Foto: ThePhrase.id)

ThePhrase.id - Di tengah situasi nasional yang bergejolak akibat bencana, berbagai insiden, dan dinamika politik, topik mindfulness justru menjadi sorotan di media sosial. Perbincangan ini muncul setelah aktris dan penyanyi Maudy Ayunda mengunggah video berjudul “Mindfulness in the Age of Bad News” melalui akun YouTube-nya.

Dalam video tersebut, Maudy membahas pentingnya tetap mindful atau sadar terhadap kondisi diri ketika menghadapi berbagai berita negatif. Ia juga membagikan sejumlah tips agar masyarakat dapat tetap mengikuti perkembangan situasi tanpa merasa terlalu terbebani secara mental, salah satunya adalah menyaring berita negatif.

Pernyataan tersebut kemudian menjadi perbincangan di kalangan netizen karena terkesan tone deaf atau kurang peka terhadap situasi yang sedang dihadapi masyarakat. 

Lantas, Apa Sebenarnya Praktik Mindfulness dan Apa Dampak Negatifnya?

Menurut kamus Merriam-Webster, mindfulness merupakan praktik untuk mempertahankan kesadaran yang tinggi atau utuh terhadap pikiran, emosi, dan pengalaman diri sendiri. Sementara itu, dalam psikologi, mindfulness merupakan praktik meditasi yang dapat digunakan untuk mengurangi stres dan kecemasan, sekaligus membantu mempertahankan fokus.

Praktik ini memang memiliki banyak manfaat dan semakin populer di masyarakat sebagai salah satu cara untuk menghadapi stres, kecemasan, dan berbagai emosi.

Sebenarnya, apa yang disampaikan Maudy Ayunda juga tidak sepenuhnya keliru. Ketika terus-menerus terpapar berita buruk hingga memengaruhi kesehatan mental, terkadang kita memang membutuhkan waktu sejenak untuk berhenti dan memberi ruang bagi diri sendiri.

Bukan berarti kita menghindari berita buruk, melainkan belajar untuk tetap sadar terhadap apa yang terjadi tanpa membiarkan arus informasi sepenuhnya menguasai pikiran dan emosi.

Misalnya, ketika terus-menerus melihat berita negatif di media sosial, seseorang bisa merasa cemas, marah, takut, atau kewalahan. Mindfulness membantu seseorang menyadari emosi tersebut, mengambil jeda sejenak, lalu menentukan respons dengan lebih sadar, alih-alih terus menggulir media sosial atau bereaksi secara impulsif.

Namun, mindfulness juga tidak sepenuhnya bebas dari keterbatasan. Di balik berbagai manfaatnya, praktik ini tetap memiliki sisi negatif yang perlu diperhatikan.

Jonny Miller, pendiri program pelatihan sistem saraf Nervous System Mastery, menjelaskan bahwa praktik mindfulness hanya sebuah solusi sementara seperti “plester”. Ia menilai bahwa mindfulness yang tidak dilakukan dengan tepat berisiko membuat seseorang semakin menghindari masalah dan menekan emosi, yang pada akhirnya dapat menumpuk dan muncul kembali di kemudian hari.

Menurut Miller, emosi seharusnya dibiarkan hadir dan berlalu, bukan berusaha dikendalikan atau ditekan agar segera hilang. Dengan membiarkan emosi diproses, efeknya juga dapat terasa secara fisik. Ia menggambarkan rasa leganya seperti melepaskan beban dari tas punggung yang berat setelah mendaki.

Selain itu, beberapa studi juga menemukan bahwa mindfulness memiliki dampak yang berbahaya kepada pasien praktik klinis. Studi berjudul “Beyond serenity: Adverse effects of meditation and mindfulness in clinical practice” yang dipublikasi dalam Science Direct menemukan 25–87% praktisi meditasi melaporkan adanya efek samping, dengan 3–37% di antaranya mengalami gangguan fungsi. 

Beberapa dampak negatif yang dapat muncul dari praktik mindfulness antara lain rasa cemas, depresi, dan munculnya kembali pengalaman traumatis. Risikonya juga dapat lebih tinggi pada orang yang mengikuti retret meditasi, memiliki masalah kesehatan mental sebelumnya, pernah mengalami pengalaman buruk saat masa kanak-kanak, atau memiliki karakter kepribadian tertentu.

Ketika Mindfulness Berubah Menjadi Bentuk Keegoisan

Tak hanya memiliki dampak negatif terhadap kesehatan mental, praktik mindfulness dalam kondisi tertentu juga dapat membuat seseorang lebih berfokus pada dirinya sendiri.

Meski memiliki banyak manfaat, penelitian menunjukkan bahwa efek mindfulness dapat berbeda, tergantung pada cara seseorang memandang dirinya dan hubungannya dengan orang lain. Sebuah penelitian yang dilakukan Michael Poulin, profesor psikologi di State University of New York at Buffalo, menemukan bahwa pada orang dengan pola pikir yang lebih mandiri dan berfokus pada diri sendiri, praktik mindfulness justru dapat membuat mereka lebih enggan membantu orang lain.

Namun, temuan ini bukan berarti mindfulness selalu membuat seseorang menjadi egois. Efeknya dapat dipengaruhi oleh konteks dan jenis latihan yang dilakukan. Penelitian lain menunjukkan bahwa praktik seperti loving-kindness meditation dan mindful listening justru dapat meningkatkan rasa welas asih dan kepedulian terhadap orang lain. Karena itu, manfaat mindfulness juga perlu dilihat dari konteks sosial serta bagaimana praktik tersebut dilakukan. [Syifaa]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic