
Thephrase.id - Spekulasi mengenai peluang Timnas Italia tampil di Piala Dunia 2026 mencuat di tengah ketidakpastian partisipasi Timnas Iran, akan tetapi skenario tersebut masih berada dalam ranah kemungkinan yang sangat kecil.
FIFA memiliki kewenangan penuh untuk menunjuk tim pengganti apabila ada peserta yang mengundurkan diri, tetapi keputusan itu sepenuhnya berada di tangan otoritas tertinggi sepak bola dunia.
Menteri Olahraga Italia, Andrea Abodi, bahkan menegaskan bahwa peluang negaranya menggantikan Timnas Iran hampir tidak realistis untuk terjadi.
"Melihat Timnas Italia menggantikan Timnas Iran di Piala Dunia sangat kecil kemungkinannya, dan saya bahkan tidak berharap hal itu terjadi," tegasnya.
Timnas Italia dipastikan absen untuk ketiga kalinya secara beruntun dari ajang Piala Dunia setelah gagal melewati jalur kualifikasi.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik yang melibatkan Timnas Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memunculkan wacana bahwa negara tersebut bisa saja tidak berpartisipasi dalam turnamen yang akan digelar di Amerika Utara.
Situasi itu memicu pembahasan internal di FIFA terkait kemungkinan skenario darurat, termasuk opsi "repechage" atau jalur tambahan bagi tim yang sebelumnya gagal lolos.
Regulasi FIFA menyebutkan bahwa penentuan tim pengganti dapat dilakukan "atas kebijaksanaan penuh" organisasi, dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti peringkat dunia dan aspek teknis lainnya.
Dalam konteks tersebut, posisi Timnas Italia di ranking FIFA memang dapat menjadi nilai tambah, tetapi bukan jaminan utama untuk mendapatkan tempat.
Apabila slot kosong benar-benar tersedia, opsi paling logis adalah memberikannya kepada tim dari konfederasi yang sama, yakni Asia, dibandingkan mengalihkannya ke Eropa.
Beberapa nama seperti Timnas Uni Emirat Arab (UEA) disebut sebagai kandidat potensial karena belum lolos langsung, sementara Timnas Irak telah memastikan tiket mereka melalui jalur kualifikasi.
Proses pengambilan keputusan nantinya akan berada di tangan Dewan FIFA atau komite khusus yang dipimpin oleh Presiden Gianni Infantino, dengan kemungkinan adanya dukungan dari Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, terhadap opsi dari Eropa.
Meski demikian, keputusan akhir sangat bergantung pada perkembangan situasi internasional dan harus ditetapkan jauh sebelum turnamen dimulai pada 11 Juni 2026, mengingat adanya potensi sanksi untuk pengunduran diri mendekati jadwal turnamen.
Selain itu, muncul pula wacana alternatif berupa playoff antarkonfederasi yang melibatkan tim-tim yang gagal lolos, dengan format turnamen singkat untuk memperebutkan satu slot terakhir di putaran final.
Model seperti ini sebelumnya pernah diuji dalam kompetisi lain dan kini kembali dipertimbangkan sebagai solusi jika terjadi kekosongan peserta di Piala Dunia 2026.