
ThePhrase.id - Seorang Yahudi ahli astronomi dan pakar sejarah terkenal di Amerika Serikat bernama Michael H. Hart, menerbitkan sebuah buku pada tahun 1978 dan dicetak ulang di tahun 1992, buku tersebut berjudul “THE 100” (The Hundred).
Buku ini memuat peringkat ranking 100 orang yang menurut Hart adalah orang yang paling berpengaruh dalam sejarah peradaban umat manusia. Peringkat ini berdasarkan bagaimana sejarah manusia berubah diakibatkan oleh pengaruh orang tersebut. Dan Michael Hart menempatkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di urutan pertama sebagai manusia paling berpengaruh (baik) karena efek yang ada dan dirasakan manusia hingga sekarang.
Adalah sangat wajar, bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia paling berpengaruh dalam sejarah peradaban umat manusia karena beliau hanya dalam jangka waktu yang singkat berhasil merubah sebuah peradaban masyarakat jahiliah (menyembah berhala dan tanpa aturan) menjadi masyarakat madani yakni masyarakat yang beradab dan berakhlak mulia.
Bagaimana bisa seorang bernama “MUHAMMAD” yang usianya hanya 63 tahun, dilahirkan pada tahun 571 Masehi dan wafat di tahun 632 Masehi. Nabi Muhammad dilantik menjadi Rasul di usia 40 tahun (611M), artinya dakwah beliau hanya berlangsung selama ±23 tahun, yang efek dan pengaruhnya telah mewarnai kehidupan dan peradaban umat manusia di seluruh dunia saat ini.
Sebagai catatan bahwa populasi umat Islam pengikut Nabi Muhammad SAW di tahun 2026 ini telah mencapai 2,07 milyar orang dari lebih 8 milyar populasi manusia di dunia saat ini (laporan World Population Prospects 2026), Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Namun sebagai umat Islam, kita tidak ingin hanya sekadar bangga sebagai umat Rasulullah karena klaim sejarah yang dibikin oleh seseorang, akan tetapi kita memang harus bangga dan wajib mengidolakan beliau berdasarkan keterangan wahyu yang datangnya dari Sang Maha Pencipta Allah subhanahu wa ta’ala, bahwa Nabi Muhammad SAW memang adalah manusia pilihan dan manusia terbaik, (QS. Al-Anbiyaa: 107).
Artinya: “Kami tidak mengutus engkau wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
Di ayat yang lain Allah SWT berfirman, (QS. Al-Ahzab: 21).
Artinya: “Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”
Ini adalah Kalamullah yang tidak ada keraguan di dalamnya, oleh karena itu sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW seyogiyanya meneladani segala apa yang telah dicontohkan oleh beliau di segala lini kehidupan: kemuliaan akhlak dan budi pekerti Rasulullah dalam kehidupan pribadi, berumah tangga, bermasyarakat dan bernegara.
Dalam sosok diri Rasulullah itu terdapat kepribadian yang sempurna, sebab di samping beliau sebagai seorang nabi dan rasul, beliau juga adalah kepala rumah tangga dalam lingkungan keluarganya, sekaligus pemimpin pemerintahan bahkan sebagai seorang panglima.
Secara garis besar ada 4 contoh sifat Rasulullah SAW yang patut diteladani sebagai implementasi dari sebutan beliau sebagai Uswatun Hasanah.
1. Shiddiq (jujur/benar)
Sifat shiddiq identik dengan kejujuran, baik dalam ucapan dan tindakan atau perbuatan. Apa yang diucapkan selalu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Orang yg berprilaku jujur, akan mudah untuk mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Jujur dan berkata benar seharusnya menjadi identitas setiap muslim karena hal ini merupakan perilaku Rasulullah SAW yang telah kita proklamirkan sebagai sosok idola dan contoh teladan terbaik.
Salah satu tips untuk menjadi orang jujur dan benar adalah berkumpul dan bergaul dengan orang-orang yang benar. Ketika mencari teman, carilah teman yang baik yang akan membawa kepada hal-hal yang baik, karena sifat manusia adalah cenderung menyesuaikan dengan lingkungan sekitarnya. Bila bergaul dengan orang baik, maka besar kemungkinan akan menjadi baik, begitupun sebaliknya.
Hal ini pernah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:
Artinya: “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau paling tidak engkau akan mendapat aroma baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, maka engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari)
2. Amanah (bisa dipercaya)
Shiddiq dan amanah seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, karena jika seseorang mempunyai sifat jujur maka insya Allah juga akan amanah.
Amanah adalah sesuatu yg dititipkan atau dipercayakan kepada seseorang untuk dipelihara dan dijalankan sebaik mungkin. Membahas sifat amanah, tentu contoh terbaik bagi kita umat Islam adalah Rasulullah SAW, bagaimana beliau menjalankan amanah dengan baik. Sehingga dengan kesempurnaan dalam menjalankan amanah, Rasulullah SAW mendapatkan gelar “AL-AMIN” atau sosok yang sangat dipercaya.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
Artinya: “Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggu saja kehancuran terjadi. Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanah disia-siakan ya Rasulallah? Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (HR. Bukhari).
3. Tabligh (menyampaikan)
Sifat tabligh tercermin dalam diri pribadi Rasulullah bagaimana beliau menyampaikan wahyu yang datangnya dari Allah melalui malaikat Jibril tanpa menambah dan menguranginya sedikitpun. Nabi Muhammad SAW tidak menyembunyikan apapun terkait petunjuk dari Allah, baik berupa perintah dan larangan demi kepentingan pribadi beliau. Semuanya tersampaikan dan tidak terlewatkan sedikitpun.
Allah SWT berfirman:
Artinya: "Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. (QS. Al-Maidah: 67).
4. Fathanah (cerdas)
Rasulullah memiliki kecerdasan dalam menjalankan amanah, tugas, dan tanggung jawabnya sebagai seorang Rasul. Beliau mampu memahami persoalan umat sekaligus memberikan jalan keluarnya. Beliau mampu menunjukkan hujjah atau argumentasi terhadap orang-orang yang ragu dan menentang ajaran yang dibawa oleh beliau.
Semoga kelak kita berkumpul dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena kecintaan kita kepada beliau dengan meneladani sifat-sifat, ajaran dan sunnah-sunnahnya sebagai bukti bahwa kita memang benar-benar mencintai Rasulullah SAW
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Artinya: “Ada yang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Ada seseorang yang mencintai suatu kaum, namun ia tak pernah berjumpa dengan mereka.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ‘Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim).
(Z. Ibrahim)