
ThePhrase.id - Harga tiket final Piala Dunia 2026 yang menembus angka 8.680 dolar AS atau setara Rp135,5 juta per lembar menjadi simbol betapa mahalnya turnamen edisi kali ini.
Akan tetapi, di balik angka fantastis tersebut, FIFA justru mengeluarkan kebijakan pengetatan ikat pinggang dengan memangkas anggaran operasional hingga lebih dari 100 juta dolar AS (Rp1,56 triliun).
Kebijakan efisiensi yang diperintahkan langsung dari Swiss ini membuat tim operasional di Miami kini harus bekerja di bawah tekanan besar untuk menekan pengeluaran di sektor keamanan hingga logistik.
Langkah kontradiktif ini terasa janggal jika melihat proyeksi pendapatan FIFA yang diperkirakan melampaui 11 miliar dolar AS atau sekitar Rp171,8 triliun.
"FIFA terus meninjau efisiensi anggaran guna memastikan biaya terkendali, sehingga pendapatan sebanyak mungkin dapat diinvestasikan dalam pengembangan sepak bola di seluruh dunia," tegas juru bicara FIFA membela kebijakan tersebut dilansir The Athletic.
FIFA berdalih bahwa penghematan ini adalah langkah standar yang dilakukan demi memenuhi ambisi reinvestasi sebesar 90 persen dari total pendapatan ke sepak bola global.
"Ini tidak seharusnya mengejutkan siapa pun, karena peninjauan anggaran secara rutin diterapkan sebelum semua turnamen dan acara kami berlangsung," tambah juru bicara tersebut.

Di sisi lain, publik justru menyoroti betapa besarnya beban yang harus ditanggung oleh para penggemar lewat skema harga tiket dinamis dan biaya parkir yang tidak masuk akal.
Untuk sekadar memarkir kendaraan di area SoFi Stadium Los Angeles, penonton harus menyiapkan dana hingga 300 dolar AS atau mencapai Rp4,6 juta per pertandingan.
Ketegangan pun merembet ke level penyelenggara lokal, di mana kota-kota tuan rumah merasa dibiarkan menanggung biaya keamanan yang membengkak sendirian.
FIFA dituding hanya ingin mengamankan keuntungan dari sponsor dan hak siar, sementara urusan fasilitas publik dan keselamatan massa dilempar ke pundak pembayar pajak di Amerika Serikat.
"Klaim bahwa efisiensi anggaran ini dikaitkan secara sinis dengan pemilihan presiden FIFA adalah murni fiksi belaka," tegas FIFA menanggapi tuduhan politis di balik kebijakan irit ini.
Kini, beberapa kota seperti Seattle dan New York bahkan terpaksa membatalkan rencana festival penggemar karena keterbatasan dana yang tak kunjung mendapat bantuan dari otoritas pusat sepak bola dunia itu.
Kekhawatiran semakin nyata karena dana keamanan federal senilai 625 juta dolar AS (Rp9,7 triliun) masih tertahan akibat krisis internal pada Departemen Keamanan Dalam Negeri AS. (Rangga)