religion

Niat Puasa Sunnah Dzulhijjah dan Keutamaannya

Penulis Zuhri Ibrahim
May 18, 2026
Ilustrasi bulan Dzulhijjah. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi bulan Dzulhijjah. (Foto: Istimewa)

ThePhrase.id - Apakah ada tuntunan melakukan puasa dari hari pertama hingga hari kesembilan di bulan Dzulhijjah? Pertanyaan ini seringkali muncul di tengah masyarakat Muslim. 

Pada hakekatnya, sebuah amalan ibadah mesti memiliki dasar dan tuntunan, termasuk puasa sunnah Dzulhijjah. 

Adapun dalil yang menunjukkan istimewanya puasa di awal Dzulhijjah karena hal ini dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana diceritakan dari Hunaidah bin Khalid, dan beberapa dari istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijjah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, awal bulan di hari Senin dan Kamis.” (HR. Abu Daud).

 

Cara Pelaksanaan Puasa Sunnah Dzulhijjah

Langkah pertama adalah memastikan kalender hijriyah untuk mengetahui masuknya bulan Dzulhijjah. Setelah itu, siapkan diri dengan sahur yang penuh berkah. Sahur dianjurkan meskipun untuk puasa sunnah, karena Rasulullah bersabda: "Bersahurlah kalian, karena di dalam sahur terdapat keberkahan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Waktu pelaksanaan puasa sunnah Dzulhijjah adalah pada tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah. Khusus tanggal 8 dinamakan puasa Tarwiyah dan tanggal 9 dinamakan puasa Arafah.

  • Boleh dilakukan dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah, lebih utama lagi puasa Arafah (9 Dzulhijjah)
  • Boleh juga dilakukan dengan memilih hari yang diinginkan, yang penting jangan tinggalkan puasa Arafah.

Niat Puasa Sunnah Dzulhijjah

Sebagaimana puasa pada umumnya, niat puasa Dzulhijjah adalah pada malam hari, yakni sejak terbenamnya matahari sampai terbit fajar. 

Bacaan niat puasa Dzulhijjah sebaiknya diucapkan dalam hati, meskipun melafalkannya juga diperbolehkan untuk membantu menguatkan niat. 

Jika ingin melafalkan niat puasanya, berikut adalah niatnya:

1. Niat Puasa Sunnah dari hari 1 – 7 Dzulhijjah 

 

نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ ذِيْ الْحِجَّةِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

(Nawaitu shauma syahri dzilhijjah sunnatan lillaahi ta‘aalaa).   

Artinya: “Saya niat puasa sunnah bulan Dzulhijjah karena Allah ta’ala”.

 

2. Niat Puasa Sunnah Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah)

 

نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى  

(Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillaahi ta‘aalaa).   

Artinya: “Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah ta’ala”.

 

3. Niat Pasa Sunnah Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah)

 

نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى  

(Nawaitu shauma arafata sunnatan lillaahi ta’aalaa).   

Artinya: “Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah ta’ala”.

 

Amalan Utama di Awal Bulan Dzulhijjah

Bulan Dzulhijjah sendiri adalah bulan ke-12 dalam kalender hijriyah yang memiliki banyak keutamaan, terutama karena di dalamnya terdapat hari-hari penting seperti Hari Arafah dan Idul Adha.

Ada 6 amalan yang sebaiknya menjadi prioritas utama di bulan Dzulhijjah:

  • Pertama: Puasa sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya.

Di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari di awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirrin dan Qatadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama. 

 

  • Kedua: Takbir dan Zikir 

Yang termasuk amalan utama juga adalah bertakbir, bertahlil, bertasbih, bertahmid, beristighfar, dan memperbanyak do’a. Disunnahkan untuk mengangkat (mengeraskan) suara ketika bertakbir, baik di tempat-tempat umum seperti: pasar, jalan-jalan, masjid dan tempat-tempat lainnya.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari: 

Ibnu ‘Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10 hari pertama Dzulhijjah dan juga pada hari-hari tasyriq.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir. Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah.

Takbir yang dimaksudkan dalam hal ini adalah sifatnya muthlaq, artinya tidak dikaitkan pada waktu dan tempat tertentu. Jadi boleh dilakukan di pasar, masjid, dan saat berjalan. Takbir tersebut dilakukan dengan mengeraskan suara khusus bagi laki-laki.

 

  • Ketiga: Menunaikan Haji dan Umrah

Yang paling afdhal ditunaikan di sepuluh hari pertama Dzulhijah adalah menunaikan haji ke Baitullah.  

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhal. Apakah berarti kami harus berjihad?” “Tidak. Jihad yang paling utama (afdhal) adalah haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari). 

 

  • Keempat: Memperbanyak Amal Shaleh

Adapun keutamaan beramal shaleh di sepuluh hari pertama Dzulhijjah diterangkan dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

 

Tidak ada satu amal shaleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal shaleh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.“ (HR. Abu Daud).

 

  • Kelima: Berkurban

Di hari Nahr (10 Dzulhijjah) dan di hari-hari tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah) disunnahkan untuk berkurban sebagaimana ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Ketika itu Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anak tercintanya sebagai tebusan yaitu Ismail pada hari Nahr (Idul Adha). Agar setiap mukmin mengingat kesabaran Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimas salam, yang ini membuahkan ketaatan dan kecintaan pada Allah melebihi kecintaannya pada diri sendiri dan anaknya. 

 

  • Keenam: Bertaubat

Termasuk yang ditekankan pula di awal Dzulhijjah adalah bertaubat dari berbagai dosa dan maksiat serta meninggalkan perilaku dzalim terhadap sesama. 

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8).

 

Taubatlah dengan taubat yang tulus dengan menghindari dosa saat ini, menyesali dosa yang telah lalu dan bertekad tidak melakukannya lagi di masa yang akan datang. (Z. Ibrahim)

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic