e-biz

Nilai Rupiah Melemah: Tembus Rp18.038 per Dolar AS pada Jumat, 16 Oktober 2026

Penulis Rangga Bijak Aditya
Oct 16, 2026
Ilustrasi mata uang rupiah. (Foto: Pexels/Ahsanjaya)
Ilustrasi mata uang rupiah. (Foto: Pexels/Ahsanjaya)

ThePhrase.id - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (16/10/). Rupiah dibuka pada level Rp18.021 per dolar AS. Sementara itu, berdasarkan statistik informasi kurs Bank Indonesia (BI), kurs jual rupiah berada di angka Rp18.038 pada Jumat, pukul 14.35 WIB.

Sebelumnya, pada penutupan transaksi Kamis (15/10), nilai rupiah berada di level Rp17.938 per dolar AS.

Kondisi ini menunjukkan bahwa nilai rupiah sedang berada di bawah tekanan, terutama akibat perkembangan ekonomi dan kondisi pasar keuangan global.

Salah satu faktor yang memengaruhi pelemahan rupiah adalah menguatnya dolar AS. Ketika dolar semakin kuat, nilai mata uang negara lain, termasuk rupiah, bisa ikut tertekan.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan tekanan terhadap rupiah sangat dipengaruhi oleh laporan konsultasi dari penyedia indeks saham global, Morgan Stanley Capital International (MSCI). MSCI tengah mengkaji potensi reklasifikasi pasar saham Indonesia.

"MSCI mengusulkan perubahan status Indonesia dari Emerging Market (EM) menjadi Standalone Market. Masukan dari pelaku pasar akan diterima hingga 30 April 2027, dengan keputusan final diharapkan sebelum 30 Juni 2027," ujar Josua di Jakarta, Jumat (16/10).

MSCI menilai klasifikasi Indonesia sebagai pasar berkembang tidak lagi sesuai dengan kondisi pasar saat ini. Penilaian tersebut didasarkan pada kekhawatiran mengenai tingkat investabilitas, transparansi struktur kepemilikan saham serta dugaan praktik perdagangan terkoordinasi.

Selain itu, investor saat ini cenderung menghindari risiko juga dapat memilih menyimpan dananya dalam dolar AS karena dianggap lebih aman saat kondisi pasar tidak menentu.

Dampak rupiah yang melemah bagi masyarakat dapat membuat barang-barang impor menjadi lebih mahal. Hal ini berpotensi meningkatkan biaya pembelian bahan baku dari luar negeri, termasuk untuk industri yang bergantung pada produk impor.

Jika biaya tersebut naik, maka harga barang yang dijual kepada masyarakat juga berpotensi ikut meningkat.

Meski demikian, pelemahan rupiah tidak serta-merta membuat semua harga barang langsung naik. Dampaknya bergantung pada jenis barang, biaya produksi, dan kondisi pasar.

Adapun Bank Indonesia terus memantau pergerakan rupiah dan melakukan langkah-langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Ke depan, pergerakan rupiah akan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global, kekuatan dolar AS, dan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia. (Rangga)

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic