trending

Nilai Tukar Rupiah Capai Rp17.754 per Dolar AS, Gubernur Bank Indonesia Dituntut Mundur

Penulis Rangga Bijak Aditya
May 19, 2026
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo (tengah) beserta jajaran saat menghadiri rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta pada Senin (18/05/26). (Foto: Tangkapan layar YouTube/TVR Parlemen)
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo (tengah) beserta jajaran saat menghadiri rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta pada Senin (18/05/26). (Foto: Tangkapan layar YouTube/TVR Parlemen)

ThePhrase.id - Nilai tukar rupiah menembus Rp17 ribu per dolar Amerika Serikat (AS), timbulkan kekhawatiran publik terhadap kondisi perekonomian Indonesia.

Pasalnya, merosotnya nilai tukar rupiah tidak hanya mencerminkan ketidakstabilan pasar keuangan, tetapi juga berpotensi memengaruhi berbagai aspek ekonomi, mulai dari kenaikan inflasi, penurunan daya beli masyarakat, hingga meningkatnya beban fiskal pemerintah.

Berdasarkan pantauan ThePhrase.id melalui website resmi Bank Indonesia pada Selasa (19/5) pukul 14.45 WIB, kurs jual rupiah mencapai Rp17.754,33 per 1 USD, sedangkan kurs beli berada di angka Rp17.577,67.

Melihat kondisi tersebut, anggota Komisi XI DPR RI, Primus Yustisio menyampaikan kritik tajam terhadap Bank Indonesia (BI), yang disebutnya mulai kehilangan kepercayaan pasar.

Dalam rapat kerja Komisi XI DPR RI bersama BI pada Senin (18/5), Primus bahkan memberikan opsi kepada Gubernur BI, Perry Warjiyo untuk mengundurkan diri dari jabatannya jika sudah tidak mampu menjalankan tugas dengan baik.

“Anda sebagai pimpinan Bank Indonesia, sebagai tokoh utamanya harus gentleman, harus berani. Pak Perry yang saya hormati, kadang, kalau kita mengambil tindakan gentleman, itu bukan penghinaan, saya berikan contoh mungkin saatnya sekarang Bapak mengundurkan diri,” tegas Primus.

Ia menilai, keputusan untuk mengundurkan diri bukan merupakan bentuk penghinaan, melainkan menjadi sikap terhormat bagi pejabat yang merasa sudah tidak mampu melaksanakan tugas dengan baik, seperti yang sering terjadi di Korea Selatan atau Jepang.

Kondisi Ekonomi Indonesia Anomali

Menurut Primus, kondisi ekonomi Indonesia saat ini cukup anomali. Meski pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61 persen, nilai rupiah tetap melemah dan justru berada di titik terendah terhadap dolar AS.

Ia turut menyoroti pasar modal domestik yang dinilai tertinggal dibanding bursa global, yang mulai pulih setelah gejolak geopolitik Februari lalu.

Selain terhadap dolar AS, rupiah juga melemah terhadap berbagai mata uang lain seperti dolar Singapura, dolar Australia, ringgit Malaysia, riyal Saudi, dolar Hong Kong, dan euro.

Adapun Perry, dalam rapat tersebut sempat menyampaikan bahwa dirinya yakin nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan meningkat pada periode bulan Juli dan Agustus 2026 mendatang. “Juli dan Agustus rupiah akan menguat,” tukasnya. (Rangga)

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic