
ThePhrase.id - Lasem merupakan kota kecil di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, yang dijuluki “Tiongkok Kecil” karena menyimpan sejarah serta kekayaan budaya hasil akulturasi antara budaya Tionghoa dan Jawa. Salah satu warisan yang masih dilestarikan selama ratusan tahun adalah Batik Lasem.
Pelestarian Batik Lasem tak lepas dari peran para pembatik yang terus berkarya, menggambarkan motif dengan malam di atas kain. Batik Nyah Kiok menjadi salah satu dari 14 perajin Tionghoa yang masih aktif melestarikan Batik Lasem hingga kini.
Nyah Kiok, yang juga dikenal sebagai Liem Kiok Nio, merupakan perajin Batik Lasem yang mewarisi tradisi membatik dari keluarganya sejak sekitar tahun 1920. Setelah wafat pada 2009, rumah batik ini sempat tidak aktif hingga akhirnya dihidupkan kembali oleh putranya, Sulistyono, pada 2024 sebagai bentuk pelestarian warisan keluarga dan budaya yang sarat nilai sejarah.
Sulistyono bersama perajin batik lainnya berupaya menjaga keaslian motif, teknik, hingga filosofi yang telah diwariskan lintas generasi. Mereka tidak hanya mereproduksi pola lama, tetapi juga menggali kembali arsip desain yang sempat hilang, lalu menghadirkannya tanpa menghilangkan identitas klasiknya.
“Kami ingin batik Nyah Kiok tetap mempertahankan nilai-nilai klasik dan tradisional, sekaligus lebih relevan bagi generasi muda,” jelas Aditya Subiyakto, selaku anak dari Sulistyono melansir National Geographic Indonesia
Dalam proses produksinya, setiap kain Batik Nyah Kiok dikerjakan dengan penuh ketelitian oleh tangan-tangan terampil. Penggunaan malam, pewarnaan berlapis, hingga proses pencucian dilakukan secara tradisional dengan mengikuti pakem yang telah ada sejak puluhan tahun lalu.
Batik Tiga Negeri Lasem memiliki karakter warna yang khas, yaitu merah Lasem yang kuat, biru dari Pekalongan, serta sogan cokelat dari Solo, yang tidak mudah ditiru oleh teknik modern.
Lebih dari sekadar kain, Batik Nyah Kiok menjadi simbol identitas budaya yang merekam perjalanan panjang akulturasi di Lasem. Setiap motif yang dihasilkan mengandung makna filosofis, mulai dari harapan akan keberuntungan, keharmonisan, hingga penghormatan terhadap leluhur. Nilai-nilai tersebut terus dijaga agar tidak hilang di tengah arus modernisasi.
Kebangkitan Batik Nyah Kiok pada 2024 juga membuka harapan baru bagi regenerasi pembatik di Lasem. Dengan melibatkan generasi muda dalam proses produksi, Sulistyono ingin memastikan bahwa keterampilan membatik tidak berhenti pada satu generasi saja. Ia meyakini bahwa keberlanjutan batik tidak hanya bergantung pada pasar, tetapi juga pada kesadaran untuk menjaga warisan budaya sebagai bagian dari jati diri.
Kini, Batik Nyah Kiok hadir bukan hanya sebagai produk wastra, tetapi juga sebagai cerita hidup yang terus berlanjut. Dari masa lalu yang panjang hingga masa kini yang penuh tantangan, setiap helai kainnya menjadi pengingat bahwa tradisi dapat tetap hidup selama ada yang merawat dan memperjuangkannya. [Syifaa]