
ThePhrase.id - Belakangan ini, gaya hidup sehat semakin populer di masyarakat. Banyak orang mulai lebih memperhatikan pola makan, seperti memilih makanan segar, menghindari makanan olahan, hingga mengikuti pola diet tertentu yang dianggap lebih baik bagi kesehatan.
Namun, jika dilakukan secara berlebihan, keinginan untuk makan sehat justru dapat berkembang menjadi gangguan makan yang dikenal sebagai orthorexia nervosa.
Orang yang mengalami orthorexia nervosa biasanya menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan makanan sehat. Mereka bisa sangat teliti memeriksa label makanan, mencari informasi tentang kandungan nutrisi, hingga merencanakan menu makan secara detail. Dalam beberapa kasus, penderita bahkan dapat menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari hanya untuk meneliti dan menyiapkan makanan yang dianggap sesuai dengan standar mereka.
Melansir Alodokter, kondisi ini dapat membuat seseorang membatasi jenis makanan secara sangat ketat. Akibatnya, perilaku tersebut dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental. Penderitanya juga kerap merasa bersalah, cemas, atau takut ketika mengonsumsi makanan yang dianggap tidak sesuai dengan aturan diet yang mereka tetapkan sendiri.
Penyebab orthorexia sendiri belum diketahui secara pasti. Namun, beberapa faktor diduga berperan, seperti sifat perfeksionis, tingkat kecemasan yang tinggi, pengalaman penyakit sebelumnya, hingga pengaruh tren gaya hidup sehat di media sosial. Riwayat gangguan makan lain juga dapat meningkatkan risiko seseorang memiliki pola makan yang terlalu kaku.
Jika tidak ditangani, orthorexia dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Pembatasan makanan yang terlalu ketat berisiko menyebabkan kekurangan nutrisi, kelelahan, hingga berbagai gangguan kesehatan lainnya. Dalam beberapa kasus, kondisi ini juga dapat memicu komplikasi seperti anemia, gangguan hormon, atau masalah pencernaan.
Selain berdampak pada kesehatan fisik, orthorexia juga dapat memengaruhi kondisi mental dan kehidupan sosial penderitanya. Mereka sering merasa sulit makan bersama orang lain atau menghadiri acara yang melibatkan makanan karena khawatir mengonsumsi makanan yang dianggap tidak sehat. Hal ini dapat membuat penderita menarik diri dari lingkungan sosial.
Hingga saat ini, diagnosis orthorexia memang belum memiliki standar yang baku. Meski begitu, tenaga medis tetap dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pola pikir dan perilaku makan seseorang, termasuk melalui pemeriksaan kesehatan fisik serta penilaian kondisi psikologis.
Penanganan orthorexia umumnya melibatkan pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter, psikolog, dan ahli gizi. Terapi perilaku kognitif, konseling gizi, serta edukasi mengenai pola makan seimbang dapat membantu penderita membangun kembali hubungan yang lebih sehat dengan makanan.
Pada akhirnya, menjaga pola makan sehat memang penting untuk kesehatan. Namun, keseimbangan tetap menjadi kunci agar upaya menjaga kesehatan tidak berubah menjadi tekanan yang justru berdampak buruk bagi tubuh maupun kesehatan mental. [nadira]