
Thephrase.id - Ketegangan antara Spanyol dan Maroko mulai mencuat menjelang Piala Dunia 2030 setelah kedua negara yang sama-sama menjadi tuan rumah disebut bersaing untuk mendapatkan hak menggelar babak final turnamen tersebut.
Piala Dunia 2026 yang digelar bersama oleh Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada saat ini sedang berlangsung dengan format 48 negara peserta yang memperebutkan gelar juara hingga partai puncak di MetLife Stadium pada 19 Juli 2026.
Spanyol dan Maroko termasuk dalam daftar negara peserta pada edisi 2026, sehingga fokus kedua tim masih tertuju pada persaingan menuju gelar juara sebelum fokus publik beralih ke agenda besar berikutnya.
Setelah final Piala Dunia 2026 selesai digelar, perhatian akan berpindah ke Piala Dunia 2030 yang dijadwalkan berlangsung di Spanyol, Maroko, dan Portugal, dengan tiga pertandingan lainnya juga dimainkan di kawasan Amerika Selatan.
Meski turnamen tersebut masih berjarak empat tahun, laporan terbaru menyebutkan bahwa pembahasan mengenai lokasi final sudah memunculkan tarik-menarik kepentingan antara Spanyol dan Maroko.
The Times mengabarkan bahwa perselisihan mulai terbentuk di antara kedua negara terkait venue final Piala Dunia 2030, meskipun keputusan akhir mengenai stadion yang akan digunakan tetap berada di tangan FIFA.
BBC sebelumnya menyebutkan bahwa FIFA menilai pembahasan mengenai lokasi final Piala Dunia 2030 masih terlalu dini, sembari mengingatkan bahwa kota penyelenggara final Piala Dunia 2026 baru diumumkan dua tahun sebelum turnamen berlangsung.

"Spanyol telah membuktikan kapasitas organisasinya selama bertahun-tahun; negara ini akan menjadi pemimpin Piala Dunia 2030 dan final Piala Dunia tersebut akan digelar di sini," tegas Ketua Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF), Rafael Louzan, pada awal tahun ini.
Di sisi lain, Maroko juga disebut memiliki ambisi besar untuk menjadi tuan rumah partai final, terutama dengan pembangunan Stadion Hassan II di Casablanca yang dirancang memiliki kapasitas 115.000 penonton dan diproyeksikan menjadi stadion sepak bola terbesar di dunia saat rampung.
"Memiliki kemampuan untuk menjadi tuan rumah final Piala Dunia FIFA 2030," tulis Populous, perusahaan yang merancang stadion tersebut, dalam keterangan di situs resminya.
"Maroko benar-benar sedang mengalami transformasi dalam segala hal, dengan stadion-stadion yang megah; kita harus mengakui apa yang telah dilakukan dengan baik, tetapi di Piala Afrika, kita telah melihat sejumlah adegan yang merusak citra sepak bola dunia," kata Louzan.
Sumber internal FIFA yang disebut memiliki posisi kuat mengatakan kepada The Times bahwa peluang final Piala Dunia 2030 saat ini berada di angka 50:50 antara Santiago Bernabeu yang telah direnovasi di Madrid dan Stadion Hassan II di Casablanca.